March 2009: The Survivors (Part 1)

Saya kutip sebuah tulisan yang sangat menarik dari Eileen Rachman & Sylvina Safitri – EXPERD, One Day Assesment Centre, Kompas Klasika Sabtu 7 Maret 2009 halaman 37, sebagai berikut :

‘Memang kenyataan yang sudah lumrah bahwa investasi di human capital akan segera dianggap sebagai investasi yang mudah dipangkas. Dari pihak perusahaan, secara Law of Commerce ada kecenderungan menganggap karyawan sebagai beban. Dari pihak karyawan, meskipun ada yang optimis tak urung mencuat rasa was – was bahwa dialah yang dipilih untuk ‘dilepas’, entah karena gaji yang dianggap terlalu besar atau karena merasa bahwa produktifitasnya tidak terlalu nyata.

Dalam situasi ini, bersikap pasif sudah pasti salah.Namun, untuk bersikap proaktif juga tidak selalu selamanya dibenarkan. Proyek yang sedang berjalan dibekukan, sementara proyek baru ditunda. Anak buah berharap pada kita, sementara atasan juga tidak bisa memberikan kepastian. Sementara karyawan sadar bahwa gaji tidak bisa dinaikkan, biaya perlu ditekan dan semua orang dituntut bekerja ekstra keras untuk menyelamatkan perusahaan. Adakah sikap yang tepat menghadapi situasi ini ?.

Berpikir dan Bersikap sebagai ‘Survivor’. Sebagai partner di McKinsey, saat ditanya oleh seorang peserta ceramah mengenai kunci suksesnya merain jenjang bergengsi di konsultan ternama itu menjawab, “Bila ingin menjadi partner, bersikaplah sebagai partner.”. Nasihat itu sebetulnya bisa kita terapkan dalam situasi dimana kita tidak berada dalam posisi yang menentukan. Dalam krisis dan posisi terjepit, kita tidak perlu bersikap sebagai objek yang tidak berdaya, karena itu akan membuat diri kita benar – benar tidak berdaya.

Bersikap seolah olah kita memegang posisi yang menentukan atau berada dalam tim yang hebat akan sangat membantu produktifitas. Berpikir dan bersikap sebagai survivor membuat orang tidak sempat tenggelam dalam sikap pesimis. Tentu saja kewaspadaan, perlu ditingkatkan, namun bersikap ceria dan pede sangat dibutuhkan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang disekitar kita. Dalam keadaan sesulit apapun, orang tentu akan memilih berdekatan dengan yang optimis daripada yang belum – belum sudah lesu, bukan ?

Fokus ke Masa Depan. Berfokus ke masa depan ternyata menimbulkan ‘power’ tersendiri. Konon, para survivor atau kebanyakan yang kebanyakan bertahan di kamp konsentrasi Jerman adalah mereka yang tak putus harapan pada masa depan. Dalam pembahasan Mourning & Melancholia, Bapak Psikologi – Freud, juga mengatakan bahwa seseorang bisa keluar dari masa masa depresinya, hanya bila ia bisa melihat masa depan yang lebih cerah dan membayangkan masa depannya dengan jelas.

Dalam bisnis, berangan-angan mengenai masa depan bentuknya sedikit berbeda. Survivor dalam bisnis, perlu berantisipasi dengan memfokuskan pada kebutuhan pelanggan adalah satu satunya jalan keluar di masa sulit begini, karena tanpa pelanggan, perusahaan tidak bisa meneruskan bisnis.

Saat kondisi sulit begini, kita pun perlu sedikit menelan gengsi. Turun tangan langsung mengunjungi pelanggan yang selama ini didelegasikan ke anak buah, menunjukkan sikap kooperatif saat diharuskan bekerja di bawah komando kolega yang lebih junior karena adanya peleburan divisi, ataupun berdiri langsung sebagai frontliners untuk melayani langsung, malahan akan terlihat keren karena mengeksperesikan fleksibilitas dan kemampuan kita.

Ikatan Emosional. Inilah saatnya dimana kita betul – betul perlu mempraktekkan kemampuan berempati. Tantangan yang meningkat dan krisis kadang membuat banyak orang merasa dirinya paling susah sedunia, sehingga menutup mata untuk merasakan apa yang dirasakan oleh teman, bahkan atasannya. DI masa sulit begini, banyak pimpinan perusahaan yang merasa ‘lonely’, karena adanya hambatan bagi mereka untuk sharing perasaan dan kecemasannya pada anak buah. Hal ini bukan disebabkan karena kerahasiaan atau tuntutan perusahaan, tetapi lebih kepada lemahnya ikatan emosional antara pimpinan dengan bawahan, sehingga bawahan pun tidak ada yang mendekatkan diri dan menunjukkan ketulusan rasa empatinya terhadap kesulitan pimpinan.

Emotional Bonding, walaupun sudah ada dalam diri setiap individu, masih perlu juga dipelajari dan senantiasa di asah. Dengan kesamaan rasa terhadap krisis yang dihadapi, karyawan perusahaan bahkan bisa lebih kompak, merapatkan barisan untuk memperkuat kelompok dan merasakan kesatuan yang menginspirasi.

Terlihat, Terdepan. Di era elektronik, dimana orang mudah mengekspresikan dirinya di dunia cyber melalui twitter, facebook, dan media gaul lainnya, jangan sampai kita lupa bahwa ‘penampakan’ riil sangat berguna, bahkan tak tergantikan. Untuk membangun kredibilitas dan terlihat, tentu saja kita perlu hadir dan berpartisipasi lebih banyak. Seorang teman kerja kerap berujar, ‘kerjaan numpuk, dikejar deadline’, saat ditanyakan alasan mengapa ia sering absen. Bolak balik melontarkan excuse seperti ini tentu saja tidak mendatangkan simpati, bahkan bisa jadi orang malah mempertanyakan kemampuan kita untuk mengelola pekerjaan secara smart.

Merasa tidak jagoan juga bukan alasan bagi kita untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan olah raga. Kita bisa hadir for fun untuk meramaikan acara. Excuse bahwa kita lemah dan berpenyakit dalam acara outing misalnya, hanya menyebabkan orang berpikir bahwa kita memang lemah. Kita perlu mengupayakan agar kita menjadi corporate citizen yang utama. Bila bukan sebagaio pengurus, jadilah partisipan terdepan.’

Tulisan ini sangat cocok untuk masa masa sulit seperti sekarang ini. Mudah mudahan banyak orang bisa memahami dan tetap bersemangat menghadapi krisis dan bertanya cobaan yang merupakan kelanjutan dari krisis tahun lalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s