Peter Pan Syndrome

Bagian Satu: Definisi

Saya teringat satu artikel di majalah Femina lama yang saya sudah lupa edisi kapan namun ketemu cuman satu potong halaman, sebuah tulisan dari TINA SAVITRI dan Ira Puspitowati tentang Peter Pan Syndrome.

Ira menulis, Peter Pan Syndrome adalah sindrom Pria yang ‘menolak’ menjadi dewasa. Saya cuplik artikelnya sebagai berikut :

….Setiap manusia memiliki tahapan dan tututan perkembangan dalam hidupnya. Batita dituntut belajar berjalan dan berkomunikasi, remaja dituntut belajar dan bersosialisasi, dewasa dituntut untuk hidup mandiri, berkeluarga, dsb. Pria dan wanita biasanya memiliki tuntutan yang berbeda karena pola asuh keluarga dan lingkungan.

Ada yang lancar melewati setiap tahapan tersbut ada yang tertatih tatih. Bila seoprang pria terus bersikap kekanak kanakan, maka dapat dikatakan dia mengidap sindrom Peter Pan. Pria semacam ini umumnya cenderung tidak bertanggung jawab, sulit berkomitmen, senang menentang norma / aturan, mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi, cenderung manipulatif, selain itu juga cenderung narsis (terlalu mencintai diri sendiri).

Belum ada catatan ilmiah tentang ini dalam ilmu psikologi klinis setidaknya dalam kitab ‘Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder‘ edisi terbaru. Nama Peter Pan dipakai mungkin karena ia memang ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Namun Ira menambahkan, dalam ilmu psikoanalisa, Carl Gustav Jung (tokoh psikoanalisa) pernah mengungkapkan konsep ‘The Eternal Youth’ atau ‘Puer Aertemus’ yang mirip Peter Pan Syndrome.

Jung menganggap ‘surga masa kecil’ memiliki kesan teramat mendalam terhadap alam tidak sadar seorang Individu, sehingga setelah dewasa pun dia selalu berusaha mempertahankan surga tersebut dalam hubungannya dengan orang lain dan menjadi ‘gangguan’ buat lingkunnya.

Sejauh ini yang menjadi kambing hitam adalah pola asuh yang salah semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu membelanya. Orang tua yang terlalu melindungi anaknya selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak.

Namun Tina menyampaikan bahwa bila kita analisa cara cara wanita memperlakukan pria,  pria seperti ini juga berasal dari para wanita. Secara natural wanita dianugrahi sifat senang merawat, memelihara, memperhatikan, khususnya pada orang orang yang dicintai, dan sangat menikmati peran itu. Perlakuan ini membuat sang pria menjadi manja dan kekanak-kanakan. Sang pria menemukan figur yang nyaman pengganti ibu.

Kalau suami jatuh sakit, sang istri biasanya akan memanjakan lebih dari biasanya. Minta makanan ini dituruti, minta dipijat dilayani, dan sebagainya. Menyadari hal ini, pria menjadi tricky, dikepalanya akan timbul, bila ia sedang sakit, maka ia boleh bersikap manja.

Namun begitu, umumnya pria hanya mau memperlihatkan sisi sisi lemahnya kepada orang orang yang selama ini membuat dirinya merasa nyaman. Hal ini adalah normal dan dihadapi saja dengan santai. Bukankah perkawinan memang ajang untuk bertoleransi ?. Kecuali jika berlebihan, bersifat menetap, dan ‘menganggu’ atau ‘menyiksa’ orang lain maka layak dikategorikan ‘orang sakit’ dan dapat dikategorikan mengidap ‘Peter Pan Syndrome’.

Bagian dua : Tentang Saya

Melihat foto diatas, boleh saja diambil kesimpulan bahwa saya cenderung punya sindrom tersebut. Saya gak nyangkal, karena gejala gejala dalam bagian satu diatas ternyata saya punya. Salah satu contohnya, ya foto diatas.

Beberapa gejala lain adalah kesukaan saya baca komik, main video game sendiri maupun bersama anak – anak. Tapi komunitas gamer sangat banyak anggotanya bahkan usia 30 keatas. Apakah sindrom ini memang sebuah fenomena alam ?. heheheheh….

Bagian Tiga: Help me.

Satu lagi, saya punya saudara dekat menderita sindrom ini sangat akut. Tapi wanita. Usia sudah diatas 25 tahun, tubuhnya normal, namun jiwanya betul betul masih anak usia 7 tahun !. Ada yang bisa bantu menjelaskan fenomena ini ?.

Bagian Empat: Most Japanese have this syndrome ?

Jepang adalah negara yang hampir seluruh mereka suka akan komik, game, robot, tokoh komik / game. Sampai sekarang mereka gandrung jadi Cosplay. Apakah ini juga kecenderungan massal akan Peter Pan Syndrome ?. Bwehehehehhh…….

6 responses to “Peter Pan Syndrome

  1. Wew!! artikel yang menarik.
    Sepertinya saya sedikit seperti itu tapi sepertinya belum akut banget, saya juga sering baca komik itu sekarang ini itu adalah bagian dari hiburan semata, meneruskan jilid yang bersambung hehehe..

    Wee.. sepertimya saya juga butuh bantun..

  2. that might be happen to me.😦

  3. Ping-balik: Peterpan Syndrome « Ciptabiru’s Weblog

  4. waah…. ternyata aku tidak sendirian……..

  5. selama ini saya bertanya-tanya apakah bener saya dah kena imbas sindrome ini. membaca ciri-cirinya aku jadi yakin. hanya saja apa aku cukup mengganggu orang2 disekitarku? aku gak tau. apakah ini buruk?

  6. Ternyata aq gak sendiri.. :’)
    aku menyadari ada yg aneh dlm diriku, aku udah jadi mahasiswa, tapi jiwa&pikiranku msh ttp anak2.. Jadi mrasa ‘dipaksa’ untuk jd dewasa trlalu dini,huhu..😥
    dulu pernah baca artikel di koran ttg peter pan syndrome trnyta gak hanya ada di laki2,tp perempuan pun bisa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s