Yogya lagi. Malioboro lagi.

Belakangan ini jadwal mengajar para staff dan para selling agak padat. Sepanjang Agustus 2008 ini sudah dua kali ngajar. Seharusnya lebih, tapi sebagian saya minta rekan saya Bu Etty dan Mas Dedy yang ngajar. Hah, distribusi pekerjaan kan sebagian tugas saya.

Tapi kali ini, jadwal ke Yogya tidak dapat di wakilkan. Padahal saya sedang tidak berminat ke luar kota. Ya gak apalah. Sekalian refreshing karena belakangan ini biorithm saya lagi kurang bagus. Terutama di Psikis. Agak tertekan dengan beban pekerjaan yang menumpuk.

Setelah dapat ijin dari Boss, saya berangkat naik kereta ke Yogya bersama Nday. Dia itu seperti kamus berjalan. Bayangkan saja, untuk nulis gelarnya saja panjangnya tiga kali lipat lebih panjang dari namanya. Jaid kalo diajak diskusi asik asik aja. Maklum, sebagai seorang INTP ( Introvert, iNtuitif, Thinking dan Perceiving) materi obrolan suka ‘meloncat loncat’ dengan cepat. Hebatnya dia bisa mengikutinya. Entah hanya untuk menghargai, atau memang hebat. J . Orang kedua yang saya ingat bisa mengikuti alur berpikir saya yang cepat meloncat ( Yang pertama adalah mantan Boss, P. Tedjo).

Lokasi menginap dan mengajar, di Hotel Brongto. Baru denger nih. Kedengarannya mirip Brongto saurus. Ternyata hotel ini memang tidak terkenal untuk turis lokal, tapi sangat terkenal di Mancanegara. Hotel ini katanya memang spesialis untuk para ‘turis interlokal’.

Benar saja, begitu kami tiba di Hotel, labi banyak bule yang hilir mudik dibandingkan pribumi. Jadi, yang nginep disitu hanya para bule dari Belanda dan Jerman serta anak anak yang mo ikut training selama tiga hari ini.

Hotelnya bukan hotel bertingkat tinggi. Halaman masuk dan parkirnya sangat luas. Mungkin disediakan khusus untuk bis – bis ( atau bus – bus ?) pariwisata. Tadinya saya pikir ini hotel kelas melati. Murahan, untuk bule bagpacker. Tapi ternyata cukup bagus dan bersih. Bentuk dan disainnya seperti Sendik ( Sentra Pendidikan ) BRI kebanyakan. Seperti wisma bagi para karyawan. Ada juga sih bungalow – bungalow.


Hari pertama ngajar, saya tertawa sendiri. Bayangkan saja, ruang meeting kaca pintunya terbuka pas didepan kolam renang dimana para bule, remaja dan anak- anaknya ramai berenang disitu berbikini ria. Jadi konsentrasi pengajar agak terganggu. Terutama matanya.


Habis ngajar hari pertama, hari kedua seharian free. Mo jalan jalan tapi sebenarnya gak punya duit. Bayangkan saja, SPJ sampai hari ini blom dikasi. Keterlaluan. Tapi akhirnya brangkat juga. Tidak ada tempat lain yang saya tahu untuk dikunjungi termasuk Nday dan Titin, selain Malioboro. Ya sudah, kesanalah kami naik becak. Saya dan Nday berdua, Titin sendiri.

Disana saya beli – beli batik. Karena Rio sudah lama pingin punya baju batik. Beli juga buat istri tercinta dan Priska, buat persiapan lebaran. Bliin juga buat Nyokap, Mertua dan ponakan ponakan. Habis sekitar satu setengah juta rupiah ‘saja’.

Salah satu kemeja batik yang saya beli, sama dengan yang dibeli Nday. Padahal itu buat dipakai hari Jumat ke kantor. Jadinya kita harus janjian dulu kalo mo pake batik itu. He he heh.

Hari ketiga ngajar lagi. Besoknya pulang deh. Naik kereta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s