Sikap Pandai Menyikapi Kenaikan Harga dan BBM

(Diambil dari salah satu artikel di ‘Tomorrow Newspaper Today‘ atas seijin pemiliknya langsung secara telepati. hahahahahah…)

Pojok Opini: Harian Ibukota
Sikap Pandai Menyiasati Kenaikan Harga dan BBM
oleh Rio AP, Mahasiswa S3 UI

Jakarta, 31 Agustus 2010

Terus terang saya risih kalau ada orang yang meributkan masalah kenaikan BBM. Gak habis pikir gitu loh. Sepertinya bener kalau banyak orang bilang termasuk kita sendiri kalau orang Indonesia itu gak kreatif. Malah sebaliknya: malas dan destruktif.

Emangnya saya gak kesusahan dengan naiknya BBM ?. Susah brooo hidup ini, SUSAH. Amit – amit. Tapi apa karena itu kita jadi trus teriak ? protes ? demo ?. Kayaknya gak smart gitu jadi orang !. Kayaknya kalau ikut kok merasa jadi BODOH !.

Perubahan harga BBM itu kan haknya pemerintah. Ya toh !. Perubahan terjadi karena pengurangan subsidi yang selama ini meninabobokan masyarakat, selama ini MEMANJAKAN masyarakat. Seperti anak sekolah selama ini diantar jemput terus disuruh naik kendaraan umum. Seperti anak yang biasanya disuapin trus kemudian disuruh makan sendiri. Seperti orang yang biasa pakai pembantu terus pembantunya mudik. Seperti Bapak yang biasanya dijemput sopir naik mobil dinas setelah pensiun lupa kalau dia belum punya mobil pribadi sehingga harus naik sepeda motor anaknya.

Itu namanya orang kehilangan pegangan tapi gak punya cadangan / backup. Itu kan namanya perubahan habit. Perubahan kenyamanan. Perubahan beban. Setiap perubahan apapun kok masyarakat Indonesia selalu nolak. Apa orang Indonesia memang gitu ya ?.

Padahal masih banyak yang perlu ‘dikhawatirkan’ oleh manusia yang hidup dibumi ini yang lebih KRITIS dari pada sekedar kenaikan harga BBM. Misalnya masalah Hutan Indonesia yang semakin digunduli, masalah pemanasah Global, masalah korupsi yang belum keluar dari sistem. Yang itu – itu yang mengancam kehidupan kita kedepan. Nah yang kayak gini yang seharusnya bisa menggoncang kedudukan seorang Presiden !. Bukannya masalah BBM !. Kalau masalah BBM bisa menggoncangkan kedudukan seorang Presiden, bhwaaah !, (mau bilang betapa bodohnya masyarakat Indonesia, gak tega).

Saya pikir, sebaiknya cabut saja sekalian subsidi itu 100% !. Nah, sekarang bagaimana menyikapi secara benar perubahan tersebut. Nah saya mengumpulkan data perilaku dari manusia yang bereaksi secara pintar selayaknya manusia diberi otak oleh Tuhan.

Yang pertama dilakukan orang biasanya adalah mikir. Iya, mikir !. Tapi bukan berpikiran pendek. Tapi berpikir secara sistematis, yaitu memikirkan tindakan preventif Jangka Pendek, lalu tindakan Jangka Menengah, dan Jangka Panjang.

Kalo beban hidup seseorang naik, reaksi yang paling mudah adalah melakukan penghematan aatu efisiensi. Kalo biasa menggunakan kendaraan bermotor ngalor ngidul kemana mana, suka dugem, suka balapan, suka jalan jalan, nah sudah saatnya mengurangi, atau mulai lebih sering gunakan kendaraan umum. Kalau mobilnya boros, diiritkan atau pake kendaraan yang lebih irit. Kurangi aksi tancap gas.

Terus, mengurangi pegeluaran yang bersifat pemborosan lainnya. Menurunkan standar hidup, misalnya setiap hari makan ayam jadi seminggu dua kali. Mencari pos pendapatan lain ( yang halal temtunya). Buka usaha sampingan.

Kemudian reaksi yang berikutnya orang mulai mikir, tindakan selanjutnya yang lebih efektif apa ya ?. Temen saya yang pintar bilang begini: O, ya. Saya kan naik sepeda motor sendirian tiap hari. Bagaimana kalao saya ‘tukar’ sepeda motor saya dengan sepeda ?. Akhirnya dia menjadi anggota komunitas BIKE TO WORK Jakarta.

Bagaimana kalau kita tambah satu komunitas lagi , yaitu Bike To School ? Jadi berkurang deh mobil antar jemput pribadi maupun kolektif. Aaaah… nantinya paling cuman ‘anak mami’ yang masih guna mobil jemputan.

Apa lagi ya ?. Salah satu teman saya yang tinggal di Bekasi kemudian berinvestasi, dengan membeli satu unit Rusunami yang lokasinya dekat dengan kantor. Katanya tahun depan dia sudah bisa berhemat biaya transportasi Jakarta – Bekasi, berhemat biaya ‘pegal-pegal’ Jakarta – Bekasi. Berhemat energi uang dan waktu selama kerjanya 20 tahun kedepan. Jadi selisih waktunya dia bisa rekreasi, jogging sore sore, fitness lebih lama.

Tau gak !, dampak dari adanya ratusan tower Rusunami di Jakarta apabila nanti tingkat huniannya bagus, maka juga akan berdampak efisiensi BBM. Bayangkan kalau pemerintah mengeluarkan Perda bahaw semua pekerja di Jakarta wajib berdomisili di Jakarta. Wah, betapa iritnya BBM, jalan tol Jakarta ke Bogor atau Bekasi bakalan lebih lowong. heheheh….

Trus, teman saya yang satu lagi yang tinggal dipinggir kota mengusulkan pada bossnya untuk kerja model SOHO. Karena sebagai seorang programmer, yang diperlukan darinya bukanlah sosok kehadirannya dikantor, tapi hasil kerja dan pemikirannya, maka bossnya mengijinkan dia kerja dirumah dan mengirimkan hasil kerjanya melalui internet untuk dikompilasi di Kantor. Meeting di kantor dilakukan hanya seminggu sekali. Beruntungnya teman saya ini, uang transportnya gak dipotong !. bweheheheh….. Berapa persen karyawan Jakarta yang bisa ‘dirumahkan’ tapi tetap produktif ?.

Apa lagi ya?, banyak lho kepintaran manusia ini yang bisa ditiru manusia lainnya yang bisa merubah destruktifitas menjadi efektifitas dan efisiensi.

O ya, saya dengar di sebuah kampung di Jawa Barat, berhasil mentransformasikan gas kotoran ternak menjadi gas untuk masak. Dan ini diimplementasi se kampung !. Hasil pengembangan dan kerjasama masyarakat dengan pihak Perguruan Tinggi. Pinter tuh ! Pinter !. Itu baru menggambarkan sikap pihak akademisi, membantu masyarakat memberikan solusi cerdas.

Temen saya yang memang sudah susah hidupnya, hanya bisa menambah amal dengan mulai membiasakan diri puasa Senen – Kemis. Tapi dia puas. At least usahanya tidak membuat orang lain sengsara.

Nah jangka panjangnya gimana ?. Yang ini lebih bebas mikirnya. Yang jelas kita perlu mengembangkan energi alternatif. Misalnya pendanaan dari pemerintah untuk melanjutkan penelitian Blue Energi yang benar – benar efisien. Penggunaan Solar Cell di rumah rumah untuk mengganti paling tidak 50% atau lebih konsumsi listrik dirumah.

Jangan pemerintah mendanai untuk bikin kendaraan yang nota bene malah menggunakan energi yang sudah mau punah ini. Kalu memang mau mengembangkan alat transportasi, kembangkanlah alat transpertasi rapid massal. Kok kayaknya yang ini gregetnya gak nampak ya ? Padahal inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Yang baru ada di Jakarta ya itu Busway. Proyek monorel malah ilang beritanya. Yang ada ‘rangkanya’ merusak pemandangan Jakarta. Tapi sabar, sabar. Mudah mudahan diterusin.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s