Catatan kecil dari Tokyo

Banyak kesan yang saya dapat sepulang dari Tokyo Bulan April 2008 pada saat Spring season kemarin. Sebagian saya catat dibawah ini:

1. Japanese Driving Style.
Orang Jepang sangat santun dalam berkendara. Rata rata mereka berkendara dengan kecepatan tinggi. Terutama di jalur cepat dan jalan tol. Tapi di daerah perumahan atau daerah padat, mereka bergerak sangat lamban dan mendahulukan pejalan kaki. Para pejalan kakinya pun sangat disiplin. Mereka tak akan menyeberang jalan kalau lampu hijau bagi pejalan kaki belum menyala biarpun tak ada kendaraan yang lewat. Kalau pun ada yang menyeberang, itu pasti orang Indonesia !.

Klakson tidak pernah dibunyikan, walaupun ada kendaraan didepan yang berhenti mendadak. Membunyikan klakson adalah perbuatan tidak sopan, kata mereka. Klakson hanya dibunyikan untuk keadaan darurat.

2. Mana anak anaknya ?.
Sepanjang hari di Kota Tokyo sejak pagi hingga larut malam saya tak menjumpai anak anak. Dimana mereka ?. Bahkan ketika lewat daerah perumahan dan pinggir kota pun tak satupun melihat anak anak. Malam hari kota Tokyo penuh karaoke, bar, toko – toko, poster JAV dan pertunjukan dewasa. Tiada ada tempat yang baik buat anak anak di Kota Tokyo di malam hari. Bagaimana Jepang menjaga perkembangan mental dan moral anak anak mereka kalau kotanya seperti itu ya ?.

3. Tata Tertib Naik Eskalator.
Saya diberi tahu bahwa naik eskalator itu ada tata tertibnya. Kalo naik, harus disebelah kiri. Karena di sebelah kanan, itu untuk mereka yang terburu buru. Jadi jangan naik trus berhenti di sisi kanan, nanti diomelin kamu gak tau artinya. bweheheheh,……

4. Pohon Ginko
Tahu suplemen makanan yang ‘bikin pintar’ ?. Dalam komposisinya selalu dikatakan bahwa didalamnya ada ramuan ginko biloba, tanaman khas Jepang. Ternyata Tanaman Ginko itu ditanam di sepanjang jalan di kota Tokyo seperti halnya kita nanam pohon asem di sepanjang jalan Jakarta.

5. Bersih dan tertib
Tokyo kota yang sangat bersih dan tertib. Semua penduduk disana mematuhinya. Seakan tak ada debu, sampah dan batu jalan yang pecah. Nyaris apapun yang kita saksikan disana itu rapi, harmonis dan serasi. Rasanya ini bukan tentang kesempurnaan (perfection) tetapi lebih kepada keakuratan (precision).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s