Tokyo Tour 2008 : Nostalgia Journey Day 3 Part 2

Day 3: City Tour 1: Imperial Palace.

Bis berangkat menuju tengah kota dangan tujuan Imperial Palace. Itu adalah Istana kaisar Akihito. Letaknya di tengah alun alun kota Tokyo. Selama perjalanan kami menyaksikan kesibukan orang Jepang. Sekali lagi hanya segelintir orang yang terlihat dijalan. Hanya ada gedung dan Kendaraan lalu lalang. Tidak seperti Jakarta yang kumuh dan berantakan, Jalanan di Tokyo rapi dan amat bersiiiiiiiih sekali. Kendaraan – kendaraan pun juga sangat bersih. Taksi, pemadam kebakaran, pick up. Bahkan mobil semennya sangat bersih.

Dekat sebuah hotel ada sedikit keramaian, Banyak wartawan dan polisi disana. Beberapa mobil ambulan, pemadam dan polisi memblokir jalan. Sepertinya kerusuhan demo untuk pembebasan Tibet belum berakhir.

Baru kemarin lihat obor olimpiade yang diarak di Tokyo dijaga ketat, sempat diserbu beberapa orang demonstran anti china. Arakan Obor ini akan berakhir di Beijing tempat dilaksanakan olympiade. Dinegara yang sedang dalam protes dunia karena pendudukannya atas Tibet.

Bus berputar dekat sebuah gedung yang saya kenal baik. Disitu berkantor Daiichi Life dimana saya pernah kesana. Itu adalah gedung bersejarah dimana dalam perang dengan sekutu, Gedung itu adalah satu satu nya gedung yang tidak dihancurkan karena gedung itu adalah kantornya Jendral Mc. Arthur !.

Delapan tahun yang lalu saya pernah diajak masuk ke gedung itu untuk melihat peninggalan sejarah perang dunia ke II.

Bus brenti di area parkir taman istana. Rombongan diajak Andre dan Toni menuju Gerbang Sakuradamon. Pintu gerbang Istana. Untuk masuk ke Istana harus menyebrangi Jembatan Nijubashi. Pelancong tidak boleh masuk kesana. Hanya boleh berfoto foto di sekitar pintu gerbang. Dalam perjalanan untuk sekian kali saya terkagum kagum sama kebersihan dan kerapihan kota Tokyo seta disiplin manusia yang ada disana. Satu satunya sweater yang saya pakai dari kemarin saya pakai terus. Biar Udara cerah dan Matahari terik, tapi suhu udara sangat dingin.

Setelah berfoto bersama, dan foto foto sendiri dengan background Sakuradamon Gate dan Nijubashi Bridge, peserta ‘dipaksa’ oleh Andre untuk kembali ke bis. ha ha, dia takut orang Indonesia yang tidak disiplin ini lebih terlambat lagi untuk makan siang.

Sebelum naik bus, saya sempat berfoto berlatar belakang patung Kusunoki Masashige. Seorang pejuang Jepang yang patungnya dibangun disitu untuk mengenang kesetiannya kepada kaisar. Katanya disitulah dia menunggu kembalinya kaisar dari perang sampai akhir hayatnya. Herannya di foto itu sama sekali tidak ada orang lain selain saya. Padahal waktu difoto seingat saya ada beberapa turis lokal sedang berfoto
juga disana. Ah, ini adalah salah satu dari ‘miracle’ yang sering saya alami.

Day 3: City Tour 2: Lunch at Downtown.

Sebenarnya dari Imperial Place tinggal nyebrang sedikit kita bisa ke Ginza. Sebua daerah perbelanjaan elite. Dahulu didaerah ini saya pernah melancong sendirian. Gak ada yang menarik di sini karena mirip sama Sogo Department store. Waktu itu akhirnya saya mampir di Sony Centre. Sebuah gedung kurang lebih berlantai 7 yang disainnya unik seperti Blok M Plaza. Lantainya melingkar sehingga dari kalau kita berjalan dari lantai satu mengitari ruangan maka suatu saat kita akan sampai di lantai tujuh tanpa harus menaiki tangga sama sekali. Isinya adalah semua produk anyar sony ( tahun itu tahun 2000). Dan waktu itu saya bangga karena sempat nyobain Sony Playstation 2 yang baru saja di rilis di Jepang !.

Back to 2008. Perut sudah lapar. Andre mengajak kita semua kesebuah daerah downtown. Downtown adalah daerah yang sedikit kumuh. Daerah kelas tiga. Disini sedikit lebih ramai dengan orang orang hilir mudik. Pakainnya lebih sederhana. Tidak semodis atau formal orang orang di tengah kota. Tapi tetap
saja, daerahnya rapi dan bersih. Kita semua makan di sebuah restoran makanan Jepang. Seperti restoran Pempek di kota Palembang. Makanan sudah dihidangkan. Kelihatannya Andre sudah memilihkan makanan yang aman buat para Muslim. Benar, isinya nasi, miso sup, sayuran dan sea food. Wuih, kenyaang. ( Heran, masih saja ada yang makan pake abon !).

Day 3: City Tour 3: Afternoon in Asakusa Kanon Temple.

Bis brangkat dan tak lama tiba di sebuah Kuil. Namanya Asakusa Kanon Temple. Ramai sekali. Seperti Pasar Baru. Note: Bedanya, disini rapi dan bersih sekali. Bis lalu brangkat sendiri meninggalkan para peserta karena tidak boleh parkir didepan gerbang kuil. Di depan gerbang yang besar sekali tergantung sebuah lampion raksasa berwarna merah. Dari gerbang menuju kuil kita harus melalui sebuah jalan sepanjang sekitar 300 meter yang kiri kanannya banyak kios – kios cendera mata. Saat itu sepanjang jalan itu penuh sesak oleh pelancong lokal dan mancanegara.


Saya mampir di kios kios tersebut. Peserta dari Jakarta dengan buas belanja barang barang disana. Gak makanan, gak gantungan kunci, arloji, pakaian, apa aja deh. Yang penting sodara sodara dan para tetangga sekampung kebagian oleh oleh. Saya yang lagi ngirit karena harus nyicil apartemen, hanya belanja seadanya. Tak lupa beliin kimono lucu, mini dan seksi buat istri seharga 2500 yen. Maunya sih yang ada belahan di sisi. Tapi gak apalah, ntar kita blah sendiri.

Sampai di kuil, Andre dan Toni sudah menunggu sambil nyap nyap karena waktu yang disediakan tidak ditepati. Kita semua terlambat 20 menit !. Dasar orang Indonesia. Sambil nunggu yang lain yang juga blom tiba, saya naik ke tangga kuil. Kuilnya tutup. Beberapa orang beribadah di depan pintu.

Day 3: City Tour 4: Shinjuku !

Shunjuku sebenarnya bukan pilihan semua peserta. Ada yang mau ke sini ada yang mau ke Akihabara.

Tapi Toni dan Andre mengarahkan kita ke sini karena jaraknya katanya lebih dekat. Daerah Shinjuku terbagiempat. Utara, Selatan Barat dan Timur. Sebagian adalah tempat belanja dan ada satu bagian yang daerah khusus orang dewasa, yaitu tempat pertunjukan striptease Jepang. Andre hanya memberi waktu 15 menit !. Mau ngapain 15 menit ?. Ada ada aja si Andre.

Tapi memang daerah lambat laun menjadi sangat ramai. Karena sudah mulai malam, berbagai lampu sudah menyala. Kontras dengan pagi dan siang hari yang sangat sepi, pada malam hari di tempat ini luar biasa ramai.

Para pekerja dan yang lainnya ramai memenuhi jalan seperti kelelawar yang berbondong bondong keluar dari sarang.

Gak ada yang bisa dibeli disini. Saya cuma ke ‘100yen shop’ untuk membeli batere AAA kamera yang habis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s