Look Who’s Talking (part 3: System or Person ?)

Kemarin sewaktu nungguin anak saya test masuk SMP, ngobrol sama salah satu ortu anak yang lagi tes juga disitu. Dia seorang analis sistem. Cukup banyak yang dia ceritakan mengenai pekerjaanya. Tapi saya gak bilang kalau saya adalah PENSIUNAN SYSTEM ANALYST dan SYSTEM DESIGNER.

Dia menceritakan kesulitannya dalam menerapkan sebuah perubahan sistem. Memang betul bagi seorang disainer sistem, perubahan itu adalah IMPROVEMENT yang membuat segalanya jadi lebih baik. Tapi tolakan dari anggota kelompoknya sangat tinggi. Menurut dia manusia Indonesia itu sangat resisten terhadap perubahan. Kalo sudah punya sepeda gak mau dikasi motor, kalo sudah punya motor gak mau dikasi mobil. Bodoh !. Cinta pada kemapanan.

Saya bilang gak usah heran pak kalau tahu alasannya. Saya juga pernah mengalaminya. Salah satu sebab resistensi itu adalah karena kalau sistem itu diadaptasi, maka ada rejeki orang yang akan hilang !.

Sistem yang efektif dan efisien bagi perusahaan akan merugikan sebagian karyawan. Karena ketidakefisienan tersebut sebenarnya akibat masuknya biaya biaya yang tidak perlu ke kantor – kantong pribadi.

Perusahaan kita itu juga seperti Indonesia mini. Para petinggi kita selalu bilang ayo kita ikuti sistem, ayo perbaiki sistem !. Tapi sistem itu tidak berlaku buat mereka.

Saya pernah mengkaji beberapa sistem komputer perusahan perusahaan Asuransi di Indonesia. Seluruh perusahaan Joint Venture (JV) sudah menggunakan sistem yang diwajibkan dari Principalnya di luar negeri. Sedangkan perusahaan lokal, cenderung self develop atau beli dari pengembang lokal, atau joint development dengan pengembang lokal. Sistem besar yang dimiliki JV yang berharga muahalll itu, ternyata bagus dan lengkap. Tapi ternyata gak bisa diimplementasikan di perusahaan lokal. Kenapa begitu ?.

Ternyata sebabnya ada di masalah perbedaan budaya. Para bule itu (katanya) mahluk yang patuh pada sistem yang sudah dibuat mereka sendiri tanpa terkecuali mulai dari para petinggi sampai jongosnya.

Sedangkan manusia Indonesia itu mahluk yang sangat tidak patuh pada sistem. Sehingga terkenallah kalimat – Peraturan itu dibuat untuk dilanggar.

Jadi kepemimpinan di Indonesia itu atau di perusahaan anda ( lokal) lebih pada kepemimpinan yang mengacu pada kebijakan personal dan bukan pada sistem.
Makanya sistem komputerisasi yang bagus gak akan bisa cocok. Manajemen akan minta rubah sana – rubah sini, part ini saja – yang itu gak perlu…..

Sistem itu akan terpakai bila semua orang didalam sistem patuh.

Look who’s talking. Begitulah manajemen orang Indonesia (kebanyakan. Saya gak men judge semua begitu lo !).

(c)Papario

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s