Kritik Membangun untuk Film Ayat Ayat Cinta

(Agar Bung Hanung tidak puas dan berhenti sampai disini saja)

Akhirnya bisa juga nonton Film Ayat Ayat Cinta yang fenomenal itu. Dan ini film yang baru pertama lihat penonton bioskopnya datang dari berbagai segment. Mulai dari remaja muda, remaja dewasa, dewasa ( terutama ibu – ibu yang tadinya sepertinya belom pernah masuk gedung bioskop dan anak – anak ( yang barangkali ikut karena dibawa ibunya ). Sepertinya kebanyakan wanita. Bahkan dalam blog Bung Bramantyo, beberapa penonton mengaku nonton di bioskop sampai tiga kali !. Itu yang ngaku. Berapa lagi yang gak ketahuan nonton lebih dari sekali ?.

Cerita Ayat Ayat Cinta ternyata memang sangat menarik. Isu dilema poligami sangat menyentuh. Saya belum pernah baca novelnya (walaupun istri saya sudah lama beli dan membacanya, saya belum sempat, karena masih ada beberapa buku yang saya beli juga belum terbaca habis), namun saya yakin cerita dinovelnya dahsyat . Bagaimana tidak ?, buku ini sangat laris dan telah dicetak ulang sampai beberapa kali. Acungan 2 jempol buat sang pengarang — bung Habiburrahman El Shirazi ( biasa dipanggil Kang Abik), Sutradara – Hanung Bramantyo dan Produser – Manoj Punjabi.

Setelah saya baca blog bung Hanung Bramantyo (http://hanungbramantyo.multiply.com/journal ), membuat film ini merupakan perjuangan yang luar biasa. Namun dapat kita nilai bahwa bung Hanung ini adalah pribadi yang istimewa. Tegar terhadap opini pesimis orang lain, tidak takut gagal, memelihara idealisme. Dan inilah pribadi orang sukses yang sesungguhnya.

Kalau kita mau menilai film ini seperti yang dikatakan bung Manoj Punjabi dalam wawancaranya di televisi dimana beliau ingin filem filemnya berkiblat ke standar Hollywood dan Bollywood, dan dengan tidak mengurangi hormat dan salut saya pada kegigihan dan kompromi bung Hanung Bramantyo yang luar biasa, maka saya menilai film ini sebagai berikut :

1. Cerita akan menjadi alami / natural apabila dialog menggunakan ‘bahasa ibu’ dari masing – masing tokoh atau bahasa percakapan di kota itu. Film ini menjadi sangat mudah diterima, dimengerti dan layak disandingkan dengan film film Internasional, film film berkelas yang bisa masuk pasar asia. Jangan ada yang menghalangi kita membuat sesuatu yang bisa diterima di masyarakat yang lebih luas (Internasional).

2. Setting film dan panorama yang ditampilkan oleh kamera yang ‘panoramik’ akan mengajak penonton ‘bertualang’ dalam kisah dan pikiran tokoh utama. Pemikiran Fahri, pemikiran Hanung, pemikiran Kang Abik mengenai keindahan dunia timur tengah akan tertumpahkan dengan baik apabila panorama kota dan jalan – jalan di Kairo ditampilkan dengan setting yang apik ( walaupun itu cuma replika). Kalau masalahnya di biaya, mungkin bisa kerjasama dengan production house Internasional (Joint production) seperti yang biasa dilakukan produser – produser hongkong yang sudah bisa menggandeng hollywood untuk film film lokalnya. Tidak akan pernah bisa membandingkan biaya produksi di Jakarta dengan diluar negeri. Kasian Pak JK yang classy diminta menonton film yang seharusnya bisa jadi Masterpiece. (Atau Pak JK mau mendanai filem REMAKE nya ?).

3. Kostum pemain bisa jauh lebih baik lagi. Misalnya kostum Zaskia Mecca tidak akan terlihat seperti jilbab ‘Indonesian’ bila dia menggunakan ‘jilbab’ adat bangsanya sendiri.

Sekali lagi saya menaruh hormat dan salut pada Bung Hanung. Saya yakin Bung Hanung sudah berusaha semaksimal mungkin dan berkompromi dengan empat ‘suara’ yang terlibat dalam pembuatan filem ini : Idealisme Sutradara, Selera Produser, Kepentingan Muhammadiyah yang diwakili Bapak Din Syamsudin dan Idealisme Kang Abik.

Saya berpendapat bahwa cerita novel atau skenario Ayat – Ayat Cinta masih sangat – sangat menjual untuk pasar Internasional. Filemnya masih akan sangat laku bila di ‘REMAKE’ dengan standar Hollywood / Bollywood. Dan tentu saja nilai jual yang masih sangat tinggi ini akan sangat berarti buat bung Habiburrahan El Shirazy sang pengarang. Let’s make more money brother (Kang Abik) ! Jangan hanya puas dengan yang ada sekarang kalau masih bisa (jauh) lebih baik lagi.

Mohon maaf Bung Hanung, saya sangat mengerti dengan kata – kata bung Hanug pada ujung artikel AAC di Blog anda ‘Untuk saat ini, sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa‘.

Kritik ini bukan untuk menambah kekecewaan anda, tetapi adalah dukungan untuk membangkitkan semangat baru. Semangat anda patut dicontoh. Saya yakin anda tidak akan puas sampai disini saja.

Salam
Pencinta Film Indonesia Bermutu
Papario

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s