Group Emotional Intelligent

Dalam sebuah tulisan di KOMPAS Minggu halaman 8 tanggal 19 Agustus 2001 saya menemukan tulisan menarik mengenai Group Emotional Intelligence yang ditulis oleh seorang Senior Konsultan dari Experd. Disebutkan bahwa maraknya konsep Emotional Quotient (EQ) (pada kurun waktu tulisan itu dimuat) telah membuat berbagai lapisan karyawan mulai memperhatikan sisi emosional mereka masing – masing dan tidak hanya mendewakan kecerdasan mental semata.

Namun, konsep ini masih sering diulas dalam kaitannya dengan kinerja seseorang. Lantas – bagaimana dengan kinerja kelompok ?, Apakah mungkin sebuah kelompok dinyatakan cerdas secara emosional ?, atau, apakah mungkin seseorang yang dikatakan cerdas secara emosional dapat menjadikan kelompoknya juga cerdas secara emosional ?.

Diceritakan dalam artikel tersebut, bahwa si penulis mempunyai seorang teman dari kalangan IT yang berusaha sangat keras untuk dapat disebut cerdas secara emosi dengan cara membaca buku sampai mengikuti pelatihan EQ, karena ia tidak mau disebut kaku dalam berinteraksi. Usahanya ternyata tidak sia sia, ia bisa tambil sebagai seorang yang resilient dan tidak mudah frustasi bila berhadapan dengan kegagalan serta trampil dalam teamwork.

Namun ternyata seorang yang cerdas EQ harus pula dapat membentuk mengembangkan suatu grup emotional intelligence (GEI), suatu konsep yang mendorong tim mencapai keberhasilan. Tim yang cerdas secara emosional bukanlah sekedar tim yang semua anggotanya memiliki EQ tinggi. Bagaikan seorang Individu, sebuah tim juga bagaikan sebuah kehidupan yang tidak sama dengan kehidupan para anggotanya. Untuk mencapai GEI, tim tersebut juga secara khusus mendalami tata cara dan kebiasannya, seperti halnya seorang individu yang perlu mengembangkan kebiasaan – kebiasaan perilaku yang cerdas secara emosional.

Meskipun setiap tim memiliki tugas sendiri sendiri, kesediaan untuk mengetahui dan merasakan kebutuhan dari tim kerja lain pada dasarnya juga mencerminkan sifat GEI. Seperti halnya karakteristik seseorang yang memiliki EI tinggi yaitu harus mampu menyadari perasaaan orang lain (awareness of others), kesadaran akan perasaan dan kebutuhan tim lain ( awareness of other teams) juga perlu dimiliki oleh sebuah tim yang ingin memiliki GEI tinggi. Artinya menjadikan tim kita menjadi hidup. Termasuk berani mengkronfrontasi perasaan – perasaan negatif tim pendamping. Misalnya menegur tim pendamping yang kurang agresif dalam menjual kepada customer, teguran kepada bagian yang tidak bersahabat kepada client, teguran kepada tim yang lalai melayani nasabah, dll.

Bila sisi emosi tim sudah berhasil ditumbuhkembangkan, niscaya mutual trust, group identity dan group efficacy sebagai dasar efektifitas dan produktifitas suatu tim juga dapat tercapai dalam waktu singkat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s