COMMON SENSE

Artikel ini saya ambil dari Koran Kompas Sabtu, Maret 2007 halaman Klasika, tulisan dari Experd Management.

Isinya perlu untuk diingat selalu.

Berikut potongan artikel tersebut:

Sering sekali kita mendengar dalam rapat-rapat penting sekelompok eksekutif dengan malu-malu mengatakan, “Kok kita tidak kepikiran tentang hal itu ya …..” padahal solusi atau celah yang dikemukakan orang lain adalah sesuatu yang tidak hebat-hebat amat, sehari-hari, dan simple. Itulah ‘common sense’. Sebegitu langkanya sehingga ada ahli yang mengatakan,”If it is so uncommon, why people call it ‘common sense’?”

Bayangkan betapa kita bisa menggelengkan kepala bila seorang sales Manager, mengatakan saya perlu data statistik mengenai absensi untuk melihat mengapa para salesman yang tidak rajin berangkat melakukan kunjungan sepagi mungkin.” Lha, mengapa kita tidak menanyakan langsung saja kepada beberapa orang yang tinggal di kantor dan menemukan latar belakang masalahnya? ‘common sense’ menurut pendapat modern adalah penilaian yang sangat masuk akal terhadap suatu situasi. Sesederhana seperti tidak menyentuh radiator mobil saat panas, membawa baju hangat saat akan pergi ke daerah dingin, tidak banyak bergurau saat melayat orang meninggal atau bahkan sekedar menyampaikan “maaf” jika kita merasa kata atau perbuatan kita menyakiti atau tidak berkenan bagi orang lain. Singkat kata, common sense adalah penilaian yang sangat ‘lazim’, yang didapat dari pengetahuan dan pengalaman dalam kejadian sehari-hari, di mana kehadirannya tidak terlepas dari segala macam proses logika dan pendapat pribadi. Disana ada moralitas, awareness, patuh aturan, wisdom, juga pencarian pengatahuan.

Kita semua sejak lahir sudah memanfaatkan persepsi, memori, proses pemikiran, kewaspadaan, berhitung, sedikit ramalan dan penilaian. Kesemua proses pikir inilah modal dalam memberdayakan ‘common sense’. Yang sering membuatnya macet adalah bila salah satu dari banyak proses ini tidak dikembangkan, sehingga proses pikir lainnya yang akan bekerja intensif. Katakanlah seorang yang dalam pekerjaannya banyak membuat penilaian yang dilandasi fakta tertulis dan tercatat, bisa saja kehilangan kebiasaan untuk memanfaatkan imajinasi, pengalaman, dan kewaspadaannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, individu bisa menjadi ‘kering’ dan tidak berwarna dalam memandang situasi atau kepayahan dalam menyelesaikan masalah.

“Common sense”= Tahu Esensi

Dalam kelas-kelas kreativitas yang kami laksanakan secara rutin, sering peserta pelatihan yang baru mempelajari cara pikir yang melebar, ‘out of the box’, terjebak ketika meraka harus mendefinisikan benda biasa seperti meja, misalnya. Jarang terjadi bahwa seseorang melihat esensi dari meja sebagai salah satu perabot rumah tangga. Yang sering terjadi adalah peserta terpancing mengaluarkan jawaban yang sekreatif mungkin menyangkut kegunaan meja, bentuk – warna – ukuran meja, dan lain-lain. Inilah kenyataan hidup yang sering kita hadapi : “Wong tidak susah, kok dibikin susah,” kata mantan Presiden kita.

Kita memang sering terjerat pada fenomena berpikir yang mengikat kita pada asumsi-asumsi dan informasi yang seolah ‘keren’ tapi nyatanya sempit, berpola, dan tidak membuka wawasan ke hal yang sebenarnya merupakan masalah yang sebenarnya.

Richard Branson, si jenius berbaju santai, pemilik Virgin Atlantic Airways, memelopori ‘low cost carrier’ alias penerbangan murah dengan menemukan esensi sasaran para penumpang, yakni “yang penting nyampe…” Begitu dicetuskan, maka semua orang seolah menyaksikan telur kolumbus dan mengatakan, “oh iya…, kita juga bisa…..”

KISS (Keep It Simple, Stupid)

Dengan banyaknya produk dan promosi mengenai peningkatan inteligensi, kita sering mempunyai dorongan untuk melihat inteligensia sebagai kapasitas untuk mengerjakan sesuatu yang kompleks. Dalam suatu situasi konflik baru-baru ini saya terkejut ketika seseorang yang tidak terlibat dalam proyek dan mempunyai tugas yang lebih sederhana bias mengungkapkan hasil observasi yang tajam dan tepat sebagai solusi, sesuatu yang terlewatkan bagi teman-temannya yang lebih kompeten untuk mencari solusi.

Berlatih untuk mencerap hal-hal disekitar kita ‘sebagaimana adanya’ dan melakukan kegiatan rutin yang memang harus dilakukan dengan penuh kesadaran merupakan hal yang sering ‘taken for granted’. Bahkan ada ahli yang mengatakan common sense adalah melihat esensi permasalahan yang sebenarnya ada di depan hidung setiap orang. Common sense hanya bisa dipertajam bila kita melibatkan insting, ketajaman indera, imajinasi, memori dan relaksasi dalam kegiatan pikir kita.

Mengedepankan Pikiran bukan Berhenti Berpikir.

Membuat coret-coretan dikertas sambil berpikir sebetulnya dapat membantu kita untuk menyaring informasi yang dibutuhkan dam mengorganisir memori kita, sehingga pikiran kita lebih rileks, terarah dan sederhana. Namun, tidak jarang kita merasa ‘stuck’ dan frustasi bila berpikir keras sudah tidak membuahkan hasil. Padahal, kesadaran bahwa otak kita adalah komputer berkapasitas sangat-sangat besar, seharusnya menjadikan kita dapat membiarkan suatu masalah mengendap dan disimpan di ‘tempat’ yang benar didalam pemikiran kita sebagai memori. Karenanya, kita tidak boleh ragu untuk mengedepankan persoalan-persoalan di dalam otak kita. Komputer otak kita juga terkadang perlu mengolah sendiri soal-soal yang rumit dan memerlukan waktu untuk memprosesnya. Keyakinan mengenai hal inilah yang perlu kita tanamkan di dalam diri kita.

Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

Soft Skills Training

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s