Hikmah Ramadhan 1434 H

Alhamdulillah, ramadhan telah berakhir. Mari kita rayakan kemenangan di Idul Fitri 1434 H / Agustus 2013.

Ramadhan tahun ini berasa lebih nikmat dibandingkan ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Entah kenapa selama 1 bulan berpuasa nyaris tidak terasa lemas dan lapar. Selalu segar hingga akhir.
Kenapa ?. Padahal konsumsi vitamin tidak beda dgn biasanya. Hanya vitamin c dan multi vitamin.

Malah tahun ini makan nasi hanya 1 kali sehari. Yaitu pada saat sahur saja. Waktu buka hanya makan makanan buka, seperti korma, sirup, kolak atau es buah.

Memang ada sedikit perubahan kebiasaan yang saya lakukan selama 1 tahun sebelum Ramadhan. Yaitu makan nasi 1 kali sehari. Yaitu pada saat makan siang saja. Sarapan hanya roti dan susu atau sereal/havermut. Makan malam hanya sayuran dan buah.

Memang awalnya berasa susah, lemas. Tapi seiring waktu setelah dijalankan dengan konsisten, disiplin dan perjuangan, akhirnya menjadi terbiasa. Malah badan berasa jadi lebih ringan, gesit dan segar.

Mengapa saya melakukan itu ?. Memang ada latar belakangnya.

Entah kenapa suatu ketika saya menyadari usia sudah kepala 4, nyaris setengah abad.

Pada usia sekian, ada momok yang perlu disikapi bagi pria yang tinggal di kota besar dengan gaya hidup yang sulit dihindari: Sibuk, stress, kurang olah raga, junk food, dan menghirup udara tercemar.

Momok itu adalah: Gula(Diabetes), Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) & Kolesterol. Bukan mengada-ada. Beberapa rekan-rekan sebaya saya, sudah terkena momok ini. Bahkan beberapa sudah meninggal dunia diusia muda karena penyakit ini.

Tadinya saya tidak ambil peduli dengan gejala yang menimpa teman-teman seusia saya. Saya menganggap gaya hidup saya sudah baik. Tidak merokok, makan teratur, menghindari junk food dan soft drink. Tapi tetap masih kurang berolah raga dan tidak bisa menghindari stress akibat kesibukan pekerjaan.

Saya mulai ‘aware’ ketika suatu saat dipilih oleh perusahaan untuk  menjalani medical chekup massal. Dan hasilnya saya menderita Hipertensi.

Setelah berkonsultasi dengan dokter perusahaan, penyakit ini disebabkan oleh gaya hidup, makanan, dan stress.

Setelah itu saya diminta untuk lebih sering olah raga, menghindari makanan asin (natrium) dan stress. Selain itu pula saya harus sering-sering memeriksakan tekanan darah dan makan obat penurun tekanan darah (Seperti Captopril atau Amlodipine) SEUMUR HIDUP. Karena ternyata katanya, sekali terkena hipertensi, seumur hidup tekanan darah akan cenderung tinggi.

Waduh. Orang bilang, hipertensi itu seperti simalakama. Dibiarkan, ginjal rusak oleh tekanan darah tinggi, diobati, obatnya juga merusak ginjal.

Btw, akhirnya saya harus meninggalkan makanan favorit saya, Bubur menado+ikan asin, Mi Instant, Teri+kacang, chicken snack, dll. Dan semua makanan dirumah nyaris tidak pakai garam. Termasuk mengurangi jajan di restoran karena tidak bisa mengendalikan kadar garam disana.

Itu baru satu penyakit , repotnya minta ampun. Gimana kalau kena yang dua lagi ?. Melihat keadaan teman-teman yang sudah terkena penyakit lain apalagi yang sudah komplikasi, nauzubillah min zalik.

Dietnya hipertensi sudah perlu banyak pengorbanan, apalagi ditambah dietnya diabetes dan kolesterol. Hwarakadah !

Jadi kita harusnya sadar, ketika kita masih kecil, adalah masa kita mulai merasakan nikmat nikmat Allah, untuk pertama kalinya. Ketika dewasa, adalah waktunya kita menikmati semua nikmat yang diberikan Allah. Dan kini, diusia ini, saatnya ALLAH MENARIK KEMBALI NIKMATNYA SATU PERSATU. Nikmat penglihatan, nikmat pendengaran, nikmat makanan, hingga akhirnya nikmat bernafas. Subhanalah.

Akhirnya saya mengambil sikap. Tidak mau kecolongan lagi. Menggunakan jurus ‘Sedia payung sebelum Hujan’. Orang ke Rumah Sakit tidak selalu karena sakit, tapi karena supaya tidak sakit. Orang membawa kendaraannya ke bengkel tidak selalu karena rusak, tapi supaya tidak rusak.

Setelah membaca beberapa referensi kesehatan, saya berniat mencoba SATU saja diet. Yaitu makan nasi 1 kali sehari. Pagi makan sedikit roti atau havermut. Susunya, susu kedelai. Siang makan nasi dan lauk seperti biasa (tapi nasinya sedikit saja). Malam makan buah dan sayur saja. Otomatis kolesterolpun bisa diet pula, karena kebanyakan makanan berkolesterol tinggi adalah lauknya nasi !.

Mengapa saya pilih diet nasi ?. (Diet nasi adalah salah satu diet penderita gula (diabetes)). Karena saya paling takut pada akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

Biarpun tidak 100% bisa dilakukan, karena terkadang diajak makan malam di luar rumah, atau makan nasi goreng pada pagi hari hari libur, atau godaan makan ketika tugas dan harus menginap di hotel namun rutinitas diet tetap diusahakan.

Awalnya sih memang berat, lemas dan sulit. Tapi lama kelamaan jadi biasa. Malah banyak hikmahnya. Badan jadi lebih segar, gesit dan ringan. Berat badan jadi lebih stabil, lebih terlatih menahan diri. (Jadi ingat pelajaran di Satria Nusantara: Kepekaan dan Pengendalian).

Alhamdulillah setelah setahun, puasa berasa jadi lebih nikmat, lebih bisa menahan nafsu (makan), bisa lebih irit mengkonsumsi beras, lebih bisa mengendalikan diri.

Alhamdulillah, setiap periksa darah, gula dan kolesterolku selalu dibawah standar. Jadi saya hanya perlu memperhatikan lebih pada menjaga tekanan darah yang sudah terlanjur mencuri kesehatanku.

Bagaimana ?. Siapa yang mau ikutan ?. Kurangi makan nasi sama juga dengan kurangi makan daging. Untuk bumi yang lebih hijau katanya. Demi generasi muda kita.

***
Jakarta, 1 Syawal 1434, 8 Agustus 2023.

Lima kriteria Ulama Yang Patut Diikuti

Sebulan lalu, kantor mengundang Prof. Dr. Ali Mustofa Ya\’kub, MA, ke pengajian rutin. Enaknya punya Dewan Pengawas Syariah seorang terkenal begini nih, jadi bisa lebih sering dengerin ceramah agama bermutu.

Salah satu dari sekian banyak ilmu yang saya catat disini adalah tentang kriteria ulama yang patut diikuti. Ada lima :

1. Ulama yang Alim / Sholeh.

2. Ulama yang hanya takut kepada Allah.

3. Ulama yang Kehidupannya zuhud ( tampil sederhana,  bersahaja, tidak duniawi tetapi ukrawi)

4. Ulama yang akrab dengan kelompok kelas bawah.

5. Ulama yang berusia minimal 40 tahun.

Mudah – mudahan bermanfaat.

Marriage: The Definitions

Definition #1: It is when you accept to live with your lover and your children, accept their death, and let them accept your death. No one lives forever. So, do not love anything or anyone more than you love Allah.

Pernikahan alah ketika kamu menyetujui untuk hidup bersama kekasihmu dan anak anakmu, mengiklaskan kematian mereka dan membiarkan mereka ikhlaskan kematianmu. Tak ada yang hidup selamanya. Semua orang pasti mati. Jadi jangan meratapi kematian. Jangan mencintai benda atau orang lain melebihi cintamu kepada Allah SWT.

Definition #2: It is time to accept that you are not the centre of the world anymore. The attention is about them . Not you.

March 2009: The Survivors (Part 2)

Sekali lagi, tulisan Eileen Rachman dan Syilvana Savitri di Kompas Sabtu 7 Maret 2009 tersebut sangat dibutuhkan untuk kondisi krisis seperti saat ini, yang terasa begitu berat bagi para pegawai.

Saya baru saja di ‘sentil’ ketika baru baru ini dipindahkan untuk memimpin sebuah unit bisnis yang pernah saya idam idamkan. Satu minggu kemudian saya mengajukan sebuah visi dalam rencana kerja 5 tahun. Dalam proposal saya sebutkan bahwa unit bisnis yang sudah berusia 5 tahun ini adalah sebuah unit bisnis masa depan, dimana bisnis lain akan menjadi seperti ini. Saya merencakan untuk memperbaiki segala bidang mulai dari organisasi, SDM, pelayanan  hingga teknologi, dan dalam tempo 3 hingga 5 tahun, unit bisnis ini siap untuk memisahkan diri dari induk  alias ‘spin off’.

Saya mengajukan usulan ini dalam rangka kewajiban saya sebagai kepala unit bisnis, saya harus membuat sebuah rencana kerja, sebuah visi, sebuah arahan, sebuah motivasi bagi apara pegawai di unit kerja saya. Saya harus membuat unit bisnis ini dari besi menjadi emas berlian yang berkilau.

Seperti biasa, sebagian orang yang mendengar usulan saya, perlu waktu lama untuk memikirkan. Yang lain tertawa dan secara halus mengatakan ‘ apa yang kamu ajukan itu bagus, tapi apakah kamu tidak lihat bagaimana kita sekarang ?… nyawa perusahaan kita sudah diujung tanduk.  Dalam dua – tiga bulan perusahaan ini  barangkali sudah akan tutup’.

Sekali lagi julukan saya disebut – sebut : ‘Alien’. Satu hal yang mereka tidak pernah sadar, saya selalu ingat dan selalu mengikuti prinsip yang diajarkan dalam agama ‘Beribadahlah dan berbuat baiklah kamu seakan akan kamu akan mati esok hari, dan bekerjalah kamu seakan akan kamu akan hidup seribu tahun lagi’. Demikianlah. Mana kita tahu perusahaan ini akan mati dalam berapa lama ?. Apakah memang sudah pasti dalam dua bulan ?. Apa iya tidak ada alternatif jalan keluar lain ?, Apa iya sama sekali tidak ada yang menolong kita ?. Selama tidak ada yang bisa memberikan kepastian ,  saya harus menjalankan tugas saya: melindungi moral para  karyawan. Saya harus memberikan opsi yang terpahit pada mereka agar mereka siap, tetapi juga saya harus membangun semangat mereka supaya mereka tetap menjadi pegawai yang handal dan optimis.

Jadi, saya dan para pegawai saya siap kalau benar perusahaan ini akan tutup dalam 2 -3 bulan ini. Tetapi kami juga sudah siap untuk menghadapi alternatif masa depan yang lain, dimana Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk terus survive. Kami tetap akan bangun pagi dan beribadah walaupun kami tahu bahwa suatu saat dunia akan kiamat.

Jakarta, 8 Maret 2009

March 2009: The Survivors (Part 1)

Saya kutip sebuah tulisan yang sangat menarik dari Eileen Rachman & Sylvina Safitri – EXPERD, One Day Assesment Centre, Kompas Klasika Sabtu 7 Maret 2009 halaman 37, sebagai berikut :

‘Memang kenyataan yang sudah lumrah bahwa investasi di human capital akan segera dianggap sebagai investasi yang mudah dipangkas. Dari pihak perusahaan, secara Law of Commerce ada kecenderungan menganggap karyawan sebagai beban. Dari pihak karyawan, meskipun ada yang optimis tak urung mencuat rasa was – was bahwa dialah yang dipilih untuk ‘dilepas’, entah karena gaji yang dianggap terlalu besar atau karena merasa bahwa produktifitasnya tidak terlalu nyata.

Dalam situasi ini, bersikap pasif sudah pasti salah.Namun, untuk bersikap proaktif juga tidak selalu selamanya dibenarkan. Proyek yang sedang berjalan dibekukan, sementara proyek baru ditunda. Anak buah berharap pada kita, sementara atasan juga tidak bisa memberikan kepastian. Sementara karyawan sadar bahwa gaji tidak bisa dinaikkan, biaya perlu ditekan dan semua orang dituntut bekerja ekstra keras untuk menyelamatkan perusahaan. Adakah sikap yang tepat menghadapi situasi ini ?.

Berpikir dan Bersikap sebagai ‘Survivor’. Sebagai partner di McKinsey, saat ditanya oleh seorang peserta ceramah mengenai kunci suksesnya merain jenjang bergengsi di konsultan ternama itu menjawab, “Bila ingin menjadi partner, bersikaplah sebagai partner.”. Nasihat itu sebetulnya bisa kita terapkan dalam situasi dimana kita tidak berada dalam posisi yang menentukan. Dalam krisis dan posisi terjepit, kita tidak perlu bersikap sebagai objek yang tidak berdaya, karena itu akan membuat diri kita benar – benar tidak berdaya.

Bersikap seolah olah kita memegang posisi yang menentukan atau berada dalam tim yang hebat akan sangat membantu produktifitas. Berpikir dan bersikap sebagai survivor membuat orang tidak sempat tenggelam dalam sikap pesimis. Tentu saja kewaspadaan, perlu ditingkatkan, namun bersikap ceria dan pede sangat dibutuhkan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang disekitar kita. Dalam keadaan sesulit apapun, orang tentu akan memilih berdekatan dengan yang optimis daripada yang belum – belum sudah lesu, bukan ?

Fokus ke Masa Depan. Berfokus ke masa depan ternyata menimbulkan ‘power’ tersendiri. Konon, para survivor atau kebanyakan yang kebanyakan bertahan di kamp konsentrasi Jerman adalah mereka yang tak putus harapan pada masa depan. Dalam pembahasan Mourning & Melancholia, Bapak Psikologi – Freud, juga mengatakan bahwa seseorang bisa keluar dari masa masa depresinya, hanya bila ia bisa melihat masa depan yang lebih cerah dan membayangkan masa depannya dengan jelas.

Dalam bisnis, berangan-angan mengenai masa depan bentuknya sedikit berbeda. Survivor dalam bisnis, perlu berantisipasi dengan memfokuskan pada kebutuhan pelanggan adalah satu satunya jalan keluar di masa sulit begini, karena tanpa pelanggan, perusahaan tidak bisa meneruskan bisnis.

Saat kondisi sulit begini, kita pun perlu sedikit menelan gengsi. Turun tangan langsung mengunjungi pelanggan yang selama ini didelegasikan ke anak buah, menunjukkan sikap kooperatif saat diharuskan bekerja di bawah komando kolega yang lebih junior karena adanya peleburan divisi, ataupun berdiri langsung sebagai frontliners untuk melayani langsung, malahan akan terlihat keren karena mengeksperesikan fleksibilitas dan kemampuan kita.

Ikatan Emosional. Inilah saatnya dimana kita betul – betul perlu mempraktekkan kemampuan berempati. Tantangan yang meningkat dan krisis kadang membuat banyak orang merasa dirinya paling susah sedunia, sehingga menutup mata untuk merasakan apa yang dirasakan oleh teman, bahkan atasannya. DI masa sulit begini, banyak pimpinan perusahaan yang merasa ‘lonely’, karena adanya hambatan bagi mereka untuk sharing perasaan dan kecemasannya pada anak buah. Hal ini bukan disebabkan karena kerahasiaan atau tuntutan perusahaan, tetapi lebih kepada lemahnya ikatan emosional antara pimpinan dengan bawahan, sehingga bawahan pun tidak ada yang mendekatkan diri dan menunjukkan ketulusan rasa empatinya terhadap kesulitan pimpinan.

Emotional Bonding, walaupun sudah ada dalam diri setiap individu, masih perlu juga dipelajari dan senantiasa di asah. Dengan kesamaan rasa terhadap krisis yang dihadapi, karyawan perusahaan bahkan bisa lebih kompak, merapatkan barisan untuk memperkuat kelompok dan merasakan kesatuan yang menginspirasi.

Terlihat, Terdepan. Di era elektronik, dimana orang mudah mengekspresikan dirinya di dunia cyber melalui twitter, facebook, dan media gaul lainnya, jangan sampai kita lupa bahwa ‘penampakan’ riil sangat berguna, bahkan tak tergantikan. Untuk membangun kredibilitas dan terlihat, tentu saja kita perlu hadir dan berpartisipasi lebih banyak. Seorang teman kerja kerap berujar, ‘kerjaan numpuk, dikejar deadline’, saat ditanyakan alasan mengapa ia sering absen. Bolak balik melontarkan excuse seperti ini tentu saja tidak mendatangkan simpati, bahkan bisa jadi orang malah mempertanyakan kemampuan kita untuk mengelola pekerjaan secara smart.

Merasa tidak jagoan juga bukan alasan bagi kita untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan olah raga. Kita bisa hadir for fun untuk meramaikan acara. Excuse bahwa kita lemah dan berpenyakit dalam acara outing misalnya, hanya menyebabkan orang berpikir bahwa kita memang lemah. Kita perlu mengupayakan agar kita menjadi corporate citizen yang utama. Bila bukan sebagaio pengurus, jadilah partisipan terdepan.’

Tulisan ini sangat cocok untuk masa masa sulit seperti sekarang ini. Mudah mudahan banyak orang bisa memahami dan tetap bersemangat menghadapi krisis dan bertanya cobaan yang merupakan kelanjutan dari krisis tahun lalu.


Slumdog Millionaire: Chasing First Love Which Is Written.

Rating : Five Star ! *****, One of the Best Film Of The Year

Film terbagus yang saya tonton tahun lalu adalah ‘The Kite Runner‘. Film luar biasa dari sutradara Marc Foster yang diangkat dari novel karangan Kaled Hosseini yang bercerita tentang perjalanan lahir dan batin bocah afghanistan hingga ia dewasa.

slumdog_millionaireAwal tahun ini saya temukan lagi film yang juga luar biasa: Slumdog Millionaire arahan sutradara Danny Boyle dan Loveleen Tandan. Dibintangi oleh Dev Patel sebagai Jamal, Anil Kapor sebagai Host Who Wants To be A Millionaire dan Freida Pinto sebagai Latika.

Luar biasa cara bertuturnya, luar biasa cara penyajian sinematografinya, luar biasa iringan musiknya, luar biasa pemerannya. Luar biasa, sebuah perjalanan hidup yang sudah menjadi takdir / suratan.

Bagaimana mungkin seorang Chaiwala / Pengantar Minum / Office Boy, dapat menjawab semua pertanyaan kuis Who Wants To Be A Millionaire dengan benar dan memenangkan jutaan rupee ?. Apakah ia jenius ?, apakah ia menipu ? apakah ia beruntung ? atau…. sudah takdir ?.

slumdog-millionaire-fl-021Bercerita tentang Jamal seorang OB yang mengikuti Who Wants To Be A Millionaire bukan untuk dapat hadiah, tetapi agar dapat ditemukan oleh kekasihnya yang hilang (Latika,  yang suka nonton acara kuis tersebut) dan dapat bertemu lagi.

It is a miracle ketika semua pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan dapat dijawabnya. Sehingga ia kemudian ditangkap polisi dan diinterogasi karena dianggap penipu. Tak disangka ternyata semua pertanyaan dan jawaban tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup Jamal.

slumdog_jamalsitJamal kecil ( dimainkan oleh si kecil yang lucu Ayush Mahesh Khedekar)  dan Salim kecil (Azheruddin Mohammed Ismail) adalah dua kakak beradik yang tinggal di kawasan kumuh (slum) bersama ibunya yang bekerja sebagai tukang cuci. Saking kumuhnya dan rapatnya bilik bilik rimah mereka, tidak ada tempat bermain buat mereka. Sehingga mereka bermain di lapangan bandara yang ada disebelah perkampungan mereka.

Salim sang Kakak lebih nakal dari si adik. Namun si Adik punya tekad dan kemauan yang sangat  kuat. Sehingga ketika terkunci di WC umum diatas kali kecil, ia nekad nyemplung kedalam comberan hanya untuk mengejar Amitabh Bachan untuk mendapatkan tandatangannya.

Ketika terjadi kerusuhan antar kampung, ibu mereka tewas dan mereka melarikan diri bersama Latika, seorang gadis kecil yang mereka temukan di tengah kerusuhan.

Mereka kemudian hidup luntang lantung di tempat pembuangan sampah hingga akhirnya ditampung oleh Maman (seorang preman jalanan) untuk dijadikan pengemis jalanan.

Ketika Jamal hendak dilukai oleh Maman, Salim mengajaknya melarikan diri dengan naik kereta api, namun Latika ditinggal bersama Maman. Merekapun berusaha mengais rejeki dari gerbong ke gerbong kereta hingga terdampar di lingkungan istana Taj Mahal.

Disini mereka besar sebagai penjahat kecil yang suka mencuri dan menipu. Hingga kemudian menjadi remaja, mereka bekerja di sebuah restoran sebagai tukang cuci piring. Pada saat inilah Jamal mulai mencari keberadaan Latika, cinta pertamanya yang hilang.

Ketika akhirnya ia tidak kuasa untuk bertemu Latika, ia kemudian mendaftarkan diri untuk ikut Who Wants To Be A Millionaire agar Latika (yang menyukai acara ini) dapat melihatnya dan menemuinya.

Mau tahu lanjutannya ? Nonton saja. Film bagus sperti ini jangan dilewatkan!

Film ini memenangkan 5 Critics Choice Award(Best Film, Best Young Performer, Best Director, Best Screenplay, Best Composer) , 4 Golden Globe Award ( Best Motion Picture, Best Director, best Screenplay dan Best Original Score), 7 BAFTA Award (Best Cinematography, Best Director, Best Editing, Best Film, Best Music, Best Screenplay, Best Sound) dan dinominasikan dalam ten Academy Award (Best Director).

slumdog-millionaire_dev_freida

February 2009: Oh No, History Repeat Itself !

Miraculously I have got my ‘next destination‘ this month. A better change that I have put it in my wish list years ago. I cannot tell you the detail, because one and another reason that I will tell you later.

Why miracle ?,  first: because this wish has slipped out of my mind nowadays, second: it was given unexpextedly, and the third: History repeat itself !.

It is not a dejavu I think. It is just repeat. How can I tell you …

Once, God saved me from a situation where I did not agree with ‘project leader’ because if I continue, then my professional prediction:  it won’t be able to work and will result a major loss. But they insisted the project to go on and disobey the term & condition I gave.

I could not go that way. I did not want to be a part of  the cause. Then God saved me. I was picked and put on a new place a new destination. A year later, after putting in two other project manager, they close the project and report some loss. OMG !.

Today, the History repeated !. Again – I found some leak in a plan and have report it that there will be a greater loss when we dont make an anticipation action soon. But it was t rejected and the plan still continue that way. What a shame !. Even everybody agree to the analisys but nobody dare to tell the truth to the ‘project leader’. They said ‘we’ll wait until last year and see how it happen’.

Now you know why they called me ‘Alien’. I am the one that speak.

If Napoleon said : “courage is like love. it must have hope for mounishment’, then I said : ‘courages come from love. They appear because you love‘. And the one have love is the one that live a life. Means that other not live. Die. But life. Zombies. Yes. Again….

It is better to be an Alien than a Zombie. Alien has love.

This time God pick me again and put me in a save and beautiful place.

I can only hope and pray, that my analisys is wrong and I am the stupid one. And I do not want to the history to repeat : my worries proven, which more people will suffer the damage.