Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Entries tagged as ‘jakarta’

January 2009: A Rainy Beginning

Januari 14, 2009 · & Komentar

Bulan ini baru terasa hujan sederas derasnya. Menurut ramalan cuaca, curah hujan tertinggi ada di pertengahan bulan Januari 2009 hingga pertengahan bulan Februari 2009.

Wah, dalam keadan begini saja, Jakarta sudah ‘menyeramkan’. Harus antar anak sekolah masuk jam 6:30 pagi, dalam keadaan hujan deras. Trus ke kantor hujan masih belum berhenti. Di jalan sudah mulai tergenang tinggi, dan air sungai di kampung melayu sudah naik ke jalan. Begitu setiap hari. Bagaimana pertengahan januari nanti ya ?.

Sepertinya pelajaran orang tua jaman dulu bahwa musim hujan ada di setiap bulan yang namanya berakhiran ‘ber’ sudah tidak berlaku lagi. Khawatir juga dengan dampak perubahan lingkungan gara gara kerakusan manusia.

Begitu juga dengan Kota Jakarta. Kalau dikembangkan tanpa ‘ilmu’, maka beginilah akibatnya. Padahal disain peningggalan jaman Belanda sudah sangat bagus dan modern. Sayang dirusak oleh orang orang tak berilmu.

Dijalan banyak sekal orang kemalangan. Ada tukang bajaj yang bajajnya mogok, ada sepeda motor yang kecebur lobang di jalan sehingga motornya rusak. Ada yang saya sumpah serapahin karena menghalangi jalan dan mencipratkan becekan ke mobil, ada pejalan kaki yang terciprat air dari lintasan motor atau mobilm, ada pedagang asongan yang gak bisa jualan, ada polisi yang gak bisa ngatur jalan karena derasnya hujan, ada anak sekolah atau guru yang sampai sekolah bajunya basah,  ada yang rumahnya bocor.

Saya doakan semoga saya dan kalian semua yang mendapat cobaan dari Tuhan selalu bersabar dan semoga kita tetap diberi rahmat oleh Yang Maha Kuasa.

Kategori: Curhat · Diary
Ditandai: , ,

Menyikapi Kemacetan Di Jakarta

November 27, 2008 · & Komentar

Mulai 1 Januari 2009, anak anak sekolah di Jakarta akan mulai sekolah jam 6.30. Peraturan daerah ini dikeluarkan dalam rangka mengatasi kemacetan di Jakarta.

Hm, lucu juga ya. Jalanan Jakarta sudah dipenuhi lintasan Busway, sudah di batasi dengan tri-in-wan, aturan bagi pengendara sepeda motor dan lainnya. Tapi koq tetap macet ya. Sekarang anak sekolah jadi sasaran. Sepertinya kalau masih memiliki pola pikir seperti ini, kebijakan – kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi kemacetan, sepertinya Jakarta akan tetap macet. Suatu waktu nanti, bisa saja ada aturan bahwa yang bersekolah atau bekerja di Jakarta harus berdomisili di Jakarta. Atau Jakarta akan menerapkan peraturan yang diterapkan dinegara Asia yang sudah maju lainnya. Misalnya pembatasan usia kendaraan yang boleh melewati jalan raya. Siapa tahu ?.

Bertahun tahun yang lalu saya pernah membaca koran KOMPAS minggu yang menceritakan tentang masalah kemacetan di sebuah kota besar di Amerika. Dahulu, kota tersebut adalah salah satu kota yang luar biasa macet. Untuk mengatasi kemacetan, pemerintah setempat mengeluarkan RENCANA STRATEGIS dengan membangun dan memperbanyak MRT ( Mass Rapid Transportation ) seperti kereta listrik dan monorel. Beberapa tahun kemudian. Kota itu tidak lagi menjadi kota yang penuh kemacetan. Tidak ada lagi jalanan berjubel kendaraan. Semua penduduk merasa lebih nyaman dengan transportasi massal yang baru.

Namun ternyata hal ini tidak berlangsung lama. Sedang jaya – jayanya MRT, sebuah perusahaan kendaraan bermotor membeli perusahaan MRT tersebut. Apa yang terjadi kemudian ?. Tanpa sebab yang jelas perusahaan MRT ditutup oleh perusahaan kendaraan bermotor tersebut. Kota itu kemudian kembali menjadi kota yang penuh kemacetan lalu lintas.

Jadi, tetap macet atau tidaknya Jakarta tergantung kepada kepentingan. Siapa yang dirugikan kalau Jakarta tidak macet ?. Saya suka tertawa miris kalau ada perusahaan kendaraan bermotor mem-proklamirkan keberhasilan volume penjualan yang tinggi.

Saya sih berpikir sederhana. Apa sih yang sudah dilakukan oleh negara negara lain baik di Barat maupun di Asia sehingga mereka bisa mengatasi kemacetan di kota kota besarnya ?. Jawabannya : MRT.  So ?.

(Footnote: Saya sedang mencari lagi informasi nama kota besar di Amrik tsb. Barangkali di Kompas.com masih ada arsipnya . Atau ada yang bisa bantu ?. Thanks before).

Kategori: Curhat · Uncategorized
Ditandai: , , , , , , , ,

Catatan kecil dari Tokyo

Mei 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Banyak kesan yang saya dapat sepulang dari Tokyo Bulan April 2008 pada saat Spring season kemarin. Sebagian saya catat dibawah ini:

1. Japanese Driving Style.
Orang Jepang sangat santun dalam berkendara. Rata rata mereka berkendara dengan kecepatan tinggi. Terutama di jalur cepat dan jalan tol. Tapi di daerah perumahan atau daerah padat, mereka bergerak sangat lamban dan mendahulukan pejalan kaki. Para pejalan kakinya pun sangat disiplin. Mereka tak akan menyeberang jalan kalau lampu hijau bagi pejalan kaki belum menyala biarpun tak ada kendaraan yang lewat. Kalau pun ada yang menyeberang, itu pasti orang Indonesia !.

Klakson tidak pernah dibunyikan, walaupun ada kendaraan didepan yang berhenti mendadak. Membunyikan klakson adalah perbuatan tidak sopan, kata mereka. Klakson hanya dibunyikan untuk keadaan darurat.

2. Mana anak anaknya ?.
Sepanjang hari di Kota Tokyo sejak pagi hingga larut malam saya tak menjumpai anak anak. Dimana mereka ?. Bahkan ketika lewat daerah perumahan dan pinggir kota pun tak satupun melihat anak anak. Malam hari kota Tokyo penuh karaoke, bar, toko – toko, poster JAV dan pertunjukan dewasa. Tiada ada tempat yang baik buat anak anak di Kota Tokyo di malam hari. Bagaimana Jepang menjaga perkembangan mental dan moral anak anak mereka kalau kotanya seperti itu ya ?.

3. Tata Tertib Naik Eskalator.
Saya diberi tahu bahwa naik eskalator itu ada tata tertibnya. Kalo naik, harus disebelah kiri. Karena di sebelah kanan, itu untuk mereka yang terburu buru. Jadi jangan naik trus berhenti di sisi kanan, nanti diomelin kamu gak tau artinya. bweheheheh,……

4. Pohon Ginko
Tahu suplemen makanan yang ‘bikin pintar’ ?. Dalam komposisinya selalu dikatakan bahwa didalamnya ada ramuan ginko biloba, tanaman khas Jepang. Ternyata Tanaman Ginko itu ditanam di sepanjang jalan di kota Tokyo seperti halnya kita nanam pohon asem di sepanjang jalan Jakarta.

5. Bersih dan tertib
Tokyo kota yang sangat bersih dan tertib. Semua penduduk disana mematuhinya. Seakan tak ada debu, sampah dan batu jalan yang pecah. Nyaris apapun yang kita saksikan disana itu rapi, harmonis dan serasi. Rasanya ini bukan tentang kesempurnaan (perfection) tetapi lebih kepada keakuratan (precision).

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , ,

Tokyo Tour 2008: Nostalgia Journey. Day 5 – Back Home

Mei 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Original Hanamasa

Sebelum tiba di International Garden Hotel Narita untuk menginap di malam terakhir, kami mampir makan malam di restoran HANAMASA di sekitar daerah Narita. Letaknya dilantai dua, diatas sebuah swalayan. Hmm, beda. Disini agak kumuh dan makanannya banyak yang gak halal. Akhirnya, selain sea food di bakar di meja, nanas dan buah lain pun ikut kita bakar juga. Tapi eskrimnya enak enak.

Sambil nurunin makanan ke perut, kita ngecek swalayannya. Biasa saja. Sama seperti swalayan di Jakarta. Cuman buah buahannya kelihatannya lebih unggul. Misalnya strawberry besar – besar dan sungguh manis. Ada juga rumput laut olahan. Hmm… kurang asem, harga disini sedikit lebih murah dari yang dijual si Andre padaku tadi.

Sudah malam. Semua naik ke bis. Teman teman ada yang minta untuk stop sebentar di Hard Rock Cafe Narita. Andre manggut manggut saja. Kayaknya jadi kebal sama cerewetnya orang Indonesia. Bis stop di halaman parkir HardRock Cafe. Semua turun. Tapi hanya sebagian yang ke HardRock Cafe. Saya dan beberapa teman lain mampir di Department Store yang malam itu masih buka. Lumayan bisa beli bebrapa permainan buat anak anak di rumah. Lucu juga bisa lihat action figure seksi tokoh kartun anime Jepang disini.

Setengah jam kemudian pasukan sudah ngumpul di bis dan basah karena kehujanan. Semua gembira karena oleh olehnya nambah banyak. Tiba di Hotel, semua istirahat. Gak ada yang bisa di kunjungi diluar hotel malam itu. Hanya ada satu pom bensin dan mini market. Selamat malam.

Day 5: Gadis cantik di Narita

Pagi hari semua sudah berkumpul di Lobby. Sayang bisnya harus pake bis kecil. Sepertinya bis hotel khusus ke bandara. Karena jaraknya dekat, sempit sempitan di bis gak papa lah.

Hai Narita, glad to see you again. This time i come to say good bye. Bye bye Andre. Nice to see a good and funny person like you.

Narita masih saja megah. Proses check in lancar lancar saja. Begitu masuk lounge ke terminal, karena waktunya masih lama, saya sempat makan gratis di lounge Kartu Kredit bersama Pak Budi.

Ya ampun, sebelum naik kereta listrik ke ruang tunggu teman teman masih sempat belanja dan berusaha menghabisksn Yen nya. Bahkan dollar dollarnya dihabiskan. Ada yang terpaksa pake kartu kredit, dan minjem sisa sisa Yen dan Dollar yang kumiliki. Saya juga ‘terpaksa’ ikutan belanja. Lumayan, sepasang jam tangan untuk anak anak di rumah dan beberapa makanan ringan. Setelah itu semuanya turun ke lantai bawah untuk naik kereta.

Sambil nunggu kereta dan nungguin tasnya Pak Tedjo yang kebelet ke Kamar kecil, saya duduk di pojokan bersama rekan rekan yang lain yang sudah selesai belanja.

Di sudut mata saya melihat ada satu gadis cantik turun melalui eskalator. Mata ini gak lepas memperhatikan. Sepatu boot, Rok pendek, Mantel kulit ada bulunya, rambut sebahu, kulit putih, wajahnya mirip salah satu penyanyi T2. Saya kira artis Jepang. Cantik sekali.

Lhadalah, dia malah mendekati saya lalu bertanya “Indonesia ?”.
“eeh,, iya iya”
“Ke Denpasar ?”
“ha ?, oh no, I want to back home to Jakarta”
Dia diam dan sedikit bingung. ‘Anda mau ke Denpasar ?” saya bertanya.
“Ya, terminalnya dimana ya ?”

Cewe ini orang Indonesia ya ? pikirku.Teman teman pada melihat dan sebagian nggagguin sambil nendang nendang kaki saya.

“Saya juga tidak tahu, ayo kita lihat di information board itu “
saya lalu mengajaknya pergi ke information board di ujung ruangan ( daripada ditendang tendang lagi). Disitu saya berkenalan. oooh, Namanya Devi. Dia mau ke Denpasar. Setelah memperhatikan jadwal dan nomor flight, akhirnya ketahuan terminalnya dimana (sekarang saya lupa).

Dia masih bingung untuk menuju ke terminal. Akhirnya saya tunjuk kereta yang baru saja datang. “Masuk saja ke kereta itu, setibanya di ujung, pasti ada informasi letak terminal yang dimaksud”.

“Thanks, Bye” katanya sambil berlari kecil dan masuk ke kereta. Sebelum kereta berangkat dia sempat menunduk ala Jepang.

“Goblok !, goblok !” teman teman neplak kepala dan punggung saya sampe mau jatuh dari kursi. “goblok !”. Apa salah sayaaaaaaaa……….???.

Sayonara Tokyo
Akhirnya semua naik kereta menuju terminal berikut. Rupanya terminalnya paling ujung. Begitu naik pesawat JAL, terbayang semua kenangan manis di Tokyo. Kota yang begitu romantis. Sejak kenal dengan Tokyo pertam kali 8 tahun yang lalu, saya memang sudah berniat untuk membawa keluarga kembali ke sini. Apalagi sudah nambah lagi teman teman yang menetap di sini. Misalnya si Andre, si Bobo ho atau Samo hung yang lucu itu.

Bye bye Tokyo, suatu saat saya akan kembali bersama anak istri saya. Sayonaraaaa……

Menelepon di JAL
Hari ini entah kenapa gak bisa nelepon ato SMS dari Tokyo ke Jakarta. Padahal hari hari kemarin bisa. Istri sudah marah marah karena hari ini tidak ada kabar sama sekali.

Begitu duduk di kursi pesawat, dan pesawatnya take off, saya kembali menarik dan memainkan stick yang ada di pegangan kursi. Seperti biasa, nonton filem, atau main game.

Hebatnya JAL, stick tersebut ternyata banyak gunanya. Selain sebagai remote vodeo, stick game, juga bisa untuk interactive media, juga bisa dipake untuk menelepon kemana saja…!.

Setelah menggesek kartu kredit di stick tersebut, lalu dial kode dan nomor tujuan, akhirnya bisa nelpon ke Jakarta ngabarin kalo sudah brangkat ke Jakarta.

Jepang memang hebat.

Salam.
Papario

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , , , ,

Nyaris Ditilang

April 18, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jakarta, 19 April 2008

Sepertinya Polisi – polisi sekarang sedang menggalakkan operasi tilang di Jakarta. beberapa malam yang lalu, pulang kantor bersama istri tercinta di daerah kuningan, lagi asik asik melaju tiba tiba ada polisi naik moge menyuruh minggir.

Dalam kebingungan karena merasa gak salah, saya minggir trus turun nyamperin.

“Ada apa Pak ?”
“Maaf Pak, anda melanggar peraturan lalu lintas!”
“Melanggar apa ?”
“Lampu belakang apak mati!”

Saya trus kebelakang mobil. Eeh benar, ternyata lampu kiri belakang saya mati. Heran !, padahal tadi pagi gak apa apa. Saya gak bisa bilang apa apa waktu diminta SIM & STNK. Dan saya tidak berniat untuk negosiasi. Kabarnya sekarang ada peraturan baru, kalau ketahuan nyogok polisi yang lagi nilang bakal kena denda Rp. 10 juta.

Enak saja !. Sambil menunggu si polisi mencoret coret formulir tilangnya, iseng iseng saya gedor lampu belakang yang mati itu. Eeeeh… nyala !.

“Pak ! Pak, lampunya gak mati tuh !. Ini nyala !”
” Hah ?” si polisi bingung. Dikiranya saya main main sama rem dia trus nyuruh lepas rem.
“Coba buka pintunya !”
“Ini pak !”
DIa melongok kedalam, dikiranya Istri saya nginjek rem. Ternyata nggak.
“Coba lepas rem tangannya !”
Nggak ngaruh juga. bweheheheheh………
Selagi ngobrol begitu, satu polisi baaw moge datang lagi. Ngiiik…!.
(Dikiranya saya lagi nego , mo nyogok temennya) di celingak celinguk ( Seakan akan mau menangkap basah).
Yang ada ternyata si polis yang pertama malah ngembaliin SIm & STNK saya.
“Pak, karena ternyata lampu mobil bapak sudah menyala, ini saya kembalikan SIM & STNK Bapak. Lain kali sebelum berangkat, diperiksa duilu lampu lampunya ya !”
“baik , Pak !” dan saya terus pergi (mereka juga).

Aneh Bin Abdullah !, keesokan pagi ketika saya periksa lampu belakang mobil, sudah gak nyala lagi. Dan ketika saya buka kapnya BOHLAMNYA NGGAK ADA !.
Saya cek ke lampu sebelah kanan, saya buka kap nya, ternyata masih komplit.
Lantas kemana bohlam lampu belakang yang satu lagi ?.
Setelah meriksa merogo rogo ke sekitar karpet bak belakang. Gak ketemu.
Apa mungkin bohlamnya ‘memuai’ sendiri…….?
Lantas yang nyala semalam itu lampu mana ……?

Hikmahnya saya ambil: Tuhan melindungi umatnya yang baik ini dari Setan Usil.

Swear ini kisah nyata, gak dibuat buat, di rekayasa apalagi di dramatisir.
(C)Papario, April 2008

Kategori: Diary · Miracle Story
Ditandai: , ,

Beli Apartemen

Maret 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Akhirnya terbayar juga booking fee untuk membeli sebuah apartemen di Jakarta Timur. Mudah – mudahan waktunya tepat. Waktu pensiun sudah tinggal 15 tahun lagi. Masih cukup lama untuk hidup, tinggal, kerja di Jakarta, dan sudah tinggal sedikit waktu untuk mempersiapkan masa pensiun.

Tidak perlu tinggi – tinggi, cukup di lantai 5, dengan katanya fasilitas bank, atm, restoran, shopping, dll. Ada kolam renangnya lagi. Jadi gak perlu jauh jauh kalo mau berenang bersama anak anak.

Ada yang bilang saya nekat. Karena dengan kondisi perusahaan yang kurang bagus kok nekat nyicil apartemen. Mungkin saja. Tapi mungkin juga inilah waktu dan pilihan terbaik. Thanks pada pemerintah dengan proyek apartemen 1000 tower bersubsidinya. Urusan rejeki dimasa depan ya ditangan Tuhanlah.

Baru siap dihuni Agustus 2009, Insya Allah kehidupan keluargaku akan baik baik saja, tercukupi rejeki mereka dan merasa betah dan nyaman disana.

Rencananya sih pensiun nanti, tetap gajian setiap bulan (dari DPLK) tapi lebih prefer tinggal di pinggir kota. Pingin jadi petani kebun hidrofonik dan jadi da’i. Mudah mudahan nanti ada rejeki lagi buat beli tanah di luar kota.

Jakarta, 26 Maret 2008
Papario

Kategori: Diary
Ditandai: , ,