Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Entries tagged as ‘anak’

Peter Pan Syndrome

Oktober 16, 2008 · & Komentar

Bagian Satu: Definisi

Saya teringat satu artikel di majalah Femina lama yang saya sudah lupa edisi kapan namun ketemu cuman satu potong halaman, sebuah tulisan dari TINA SAVITRI dan Ira Puspitowati tentang Peter Pan Syndrome.

Ira menulis, Peter Pan Syndrome adalah sindrom Pria yang ‘menolak’ menjadi dewasa. Saya cuplik artikelnya sebagai berikut :

….Setiap manusia memiliki tahapan dan tututan perkembangan dalam hidupnya. Batita dituntut belajar berjalan dan berkomunikasi, remaja dituntut belajar dan bersosialisasi, dewasa dituntut untuk hidup mandiri, berkeluarga, dsb. Pria dan wanita biasanya memiliki tuntutan yang berbeda karena pola asuh keluarga dan lingkungan.

Ada yang lancar melewati setiap tahapan tersbut ada yang tertatih tatih. Bila seoprang pria terus bersikap kekanak kanakan, maka dapat dikatakan dia mengidap sindrom Peter Pan. Pria semacam ini umumnya cenderung tidak bertanggung jawab, sulit berkomitmen, senang menentang norma / aturan, mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi, cenderung manipulatif, selain itu juga cenderung narsis (terlalu mencintai diri sendiri).

Belum ada catatan ilmiah tentang ini dalam ilmu psikologi klinis setidaknya dalam kitab ‘Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder‘ edisi terbaru. Nama Peter Pan dipakai mungkin karena ia memang ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Namun Ira menambahkan, dalam ilmu psikoanalisa, Carl Gustav Jung (tokoh psikoanalisa) pernah mengungkapkan konsep ‘The Eternal Youth’ atau ‘Puer Aertemus’ yang mirip Peter Pan Syndrome.

Jung menganggap ’surga masa kecil’ memiliki kesan teramat mendalam terhadap alam tidak sadar seorang Individu, sehingga setelah dewasa pun dia selalu berusaha mempertahankan surga tersebut dalam hubungannya dengan orang lain dan menjadi ‘gangguan’ buat lingkunnya.

Sejauh ini yang menjadi kambing hitam adalah pola asuh yang salah semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu membelanya. Orang tua yang terlalu melindungi anaknya selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak.

Namun Tina menyampaikan bahwa bila kita analisa cara cara wanita memperlakukan pria,  pria seperti ini juga berasal dari para wanita. Secara natural wanita dianugrahi sifat senang merawat, memelihara, memperhatikan, khususnya pada orang orang yang dicintai, dan sangat menikmati peran itu. Perlakuan ini membuat sang pria menjadi manja dan kekanak-kanakan. Sang pria menemukan figur yang nyaman pengganti ibu.

Kalau suami jatuh sakit, sang istri biasanya akan memanjakan lebih dari biasanya. Minta makanan ini dituruti, minta dipijat dilayani, dan sebagainya. Menyadari hal ini, pria menjadi tricky, dikepalanya akan timbul, bila ia sedang sakit, maka ia boleh bersikap manja.

Namun begitu, umumnya pria hanya mau memperlihatkan sisi sisi lemahnya kepada orang orang yang selama ini membuat dirinya merasa nyaman. Hal ini adalah normal dan dihadapi saja dengan santai. Bukankah perkawinan memang ajang untuk bertoleransi ?. Kecuali jika berlebihan, bersifat menetap, dan ‘menganggu’ atau ‘menyiksa’ orang lain maka layak dikategorikan ‘orang sakit’ dan dapat dikategorikan mengidap ‘Peter Pan Syndrome’.

Bagian dua : Tentang Saya

Melihat foto diatas, boleh saja diambil kesimpulan bahwa saya cenderung punya sindrom tersebut. Saya gak nyangkal, karena gejala gejala dalam bagian satu diatas ternyata saya punya. Salah satu contohnya, ya foto diatas.

Beberapa gejala lain adalah kesukaan saya baca komik, main video game sendiri maupun bersama anak – anak. Tapi komunitas gamer sangat banyak anggotanya bahkan usia 30 keatas. Apakah sindrom ini memang sebuah fenomena alam ?. heheheheh….

Bagian Tiga: Help me.

Satu lagi, saya punya saudara dekat menderita sindrom ini sangat akut. Tapi wanita. Usia sudah diatas 25 tahun, tubuhnya normal, namun jiwanya betul betul masih anak usia 7 tahun !. Ada yang bisa bantu menjelaskan fenomena ini ?.

Bagian Empat: Most Japanese have this syndrome ?

Jepang adalah negara yang hampir seluruh mereka suka akan komik, game, robot, tokoh komik / game. Sampai sekarang mereka gandrung jadi Cosplay. Apakah ini juga kecenderungan massal akan Peter Pan Syndrome ?. Bwehehehehhh…….

Kategori: Diary · Life · psikologi · sains
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

Ke Kidzania: Tempat anak anak belajar jadi orang gede

Oktober 2, 2008 · 1 Komentar

Ramadhan ini memang rejekinya anak anak. Bayangkan, setelah minggu ke dua ramadhan ikut training ESQ nya Ary Ginanajar Agustian selama dua hari penuh tanpa membatalkan puasa, minggu terakhir ramadhan ini mereka ke Kidzania.

Awalnya, Priska janjian sama teman teman sekolahnya. Tapi gagal karena tempat penuh. Untung minggu terakhir ini tidak ramai. Jadi Rio dan Priska sepakat untuk pergi berdua saja. Tapi sayang Rio gak jadi ikut. Begitu dibangunin pagi pagi dia nolak, ya jadinya hanya Priska saja yang pergi. Saya mengantarkan pagi pagi sekali ke Gedung Pacific Place di SCBD (Sudirman Central Business Distric). Karena ragu ragu lewat jalan Sudirman karena hari minggu itu adalah hari ‘hari tanpa kendaraan’, maka saya masuk SCBD lewat jalan Senopati.

Masuk Kidzania

Masuk Kidzania

Ini yang pertama saya datang ke Pacific Place. Ternyata ia sebuah mall. Pagi itu yang ada cuman satpam. Maklum baru jam 7:30 pagi. Setelah parkir di B2, kami naik ke lantai 6. Loket baru dibuka. Langsung saja saya belikan Priska satu tiket untuk periode jam 9:00 sampai jam 14:00. Wuiih, 5 jam !. Lumayan lama. Sebandinglah untuk Rp. 155.000,-. Selain tiket, Priska dapat ’kartu asuransi’, ’cek’ senilai 50 Kidzos (mata uang Kidzania) dan peta kota Kidzania.

Kami menunggu jam 9:00 tiba. Selama itu, pengunjung berdatangan makin ramai. Jam 9:00 anak anak dipanggil untuk ngantri masuk. Setelah cium tangan, Priska ngantri. Di Pintu dia diberi gelang identitas. Daah, enjoy ya !. Jangan nakal yaa !…..

Nah sekarang bagaimana nasibmu sang pengantar ?. Akhirnya saya keliling keliling saja dari lantai basement hingga lantai 6 lagi hingga jam 10:00 hingga toko toko pada buka. Mampir mampir sebentar, lihat elektronik, lihat buku, lihat menu makanan di resto. Jam 12:00 sholat sebentar di musholla lantai 4. Wah masih dua jam lagi. Akhirnya nongkrong di toilet selama 45 menit sambil main game di laptop. Itu cleaning service toilet bingung kali, kok ada orang betah hampir satu jam nongkrong di wc… hihihihhi. Keluar dari sana, saya nunggu di depan KIdzania. Jam 13:30 saya disuruh masuk sama petugas Kidzania untuk jemput Priska. Setelah dipakaikan gelang, saya masuk.

Sesuai perkiraan, Kidzania cukup luas. Tapi tak seluas yang saya bayangkan. Mereka hanya menempati setengah lantai. Setengahnya lagi dipakai BlitzMegaplex. Disini adalah miniatur kota kecil. Ada gedung balaikota, ada kafe, ada bank, ada stasiun TV, ada pabrik es krim, toko pizza, ada pemadam kebakaran, kantor polisi dan lain lain. Disini anak anak bebas berperan apa yang dia suka. Mereka boleh jadi polisi mengatur lalu lintas, jadi penyiar TV, jadi bankir, jadi pilot, dan lain lain. Selesai berperan mereka dapat ‘upah’.

Disini mereka juga boleh berleha-leha makan minum di cafe, makan pizza, makan eskrim tapi harus beli dengan kidzos mereka.

Setelah muter muter, di call susah, akhirnya ketemu. Sambil menunggu waktu habis, dia masih sempat berperan sebagai Baby Nursery dan Petugas Pelayan Pom Bensin. Begitu waktu habis, para petugas menyanyikan lagu penutup di teras balaikota. Setelah itu kita semua keluar. Lumayan, Priska puasanya masih poll, dan dia ngumpulin uang 130 kidzos dari hasil ‘kerja’ selama ini.

Baby Nursery

Baby Nursery

Baby Nursery Too

Baby Nursery Too

Premium ato solar pak ?

Premium ato solar, Pak ?

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,

Video Games

Juni 28, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Fuwwwwiiiyy…main video game adalah salah satu hal paling menyenangkan dan ‘addictive’. Bisa menghilangkan kepusingan dan masalah selama main. Mungkin lebih baik begitu dari pada menghilangkan pikiran dan masalah dengan berfoya foya ‘dugem’, keluyuran gak tau juntrungannya nanti malah bermaksiat.

Main game membuat pikiran kembali kreatif, dinamis dan lincah. Mengasah untuk mengambil keputusan secara cepat dan melatih kesabaran. Memang sih, kalau terlalu ‘kecanduan’ bisa merusak kesehatan mata, tubuh dan otot. Jadi tetap harus dibatasi.

Siapa bilang main game membuat orang jadi lebih individual ?. Main video game jauh lebih baik dari pada ‘main’ Walkman, CDMan atau iPOD lho !. Itu yang membuat orang jadi individual. Buktinya, dengan masuk forum video game, saya bisa punya banyak kawan baru yang hobinya sama: Main video game. Bisa ngobrol, discuss, saling bantu memecahkan masalah bersama, main game bareng dll.

Main video game bukan untuk konsumsi kanak kanak saja. Buktinya dari hasil riset ditemukan bahwa lebih dari 40% pemain game juga adalah orang dewasa lho yang bekerja sebagai karyawan, wiraswasta dan profesional. Hmm, percaya atau tidak, orang berhenti main game bukan karena sudah tua, tapi berhenti main game membuat orang menjadi semakin tua….

Aku menganjurkan anak anakku untuk main game. Terutama yang bersifat Artificial Intelligent. Seperti Simulasi. Ini membuat wawasan mereka jadi terbuka lebih luas.

Misalnya Simulasi ‘Roller Coaster Tycoon’. Bagaimana menjadi Manajer yang ditugaskan untuk mengembangkan Taman Rekreasi dan supaya untung/ banyak penguunjung. Banyak faktor yang bisa dia pelajari disana. Paling tidak kalau mau jadi pengusaha, semua faktor itu mereka sudah tahu.

Adalagi simulasi sejenis ‘Sims City’. Anak anak belajar menjadi gubernur untuk memelihara kota kesayangannya. Jangan sampai rakyatnya tidak punya pekerjaan, tidak cukup sekolah, tidak punya tempat bermain, tidak punya rumah sakit, tidak cukup keamanan, dll. Bayangkan… dari kecil sudah belajar banyak hal dari bermain — hal yang sangat menarik minat mereka tanpa harus dipaksakan.

Ada pula Simulasi seperti ‘Civilization’ atau ‘Age of Empire’. Bayangkan bagaimana anak anak belajar untuk menjadi pemimpin.

Belum lagi diskusi mereka dengan teman – teman sesama pemain game untuk memecahkan masalah manajemen ‘kebun binatang’ di zoo tycoon, ‘taman hiburan’ di roller-coaster tycoon, ‘restaurant’, ‘perkereta-apian’ , ‘kemsyarakatan’ di sims city.

Banyak lagi simulasi yang bisa membuat anak anak kita berwawasan luas. Seperti Simulasi Pengusaha Bengkel, Restaurant, Kereta Api, Bandara, Supermarket. Simulasi Profesi seperti Arsitek, Insinyur, Fashion Designer, Dokter Hewan, dll. Dan itu semua dilakoni anak anak dengan antusias.

Bayangkan bagaimana ’siapnya’ wawasan mereka pada saat terjun ke dunia nyata begitu lulus SMA / kuliah ?.

Kita yang sudah dewasa…? Tugas kita adalah membuat anak anak kita menjadi jauh lebih baik dari pada kita sekarang. Bukan begitu ?.

(C)Papario, Jakarta Nov 2006.

 

 

Kategori: Kids
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Ortu tipe apakah anda ?

Juni 28, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tipe Orto Apakah anda ?

Fasilitator
Ortu tipe ini umumnya menyediakan semua kebutuhan fisik putra-putrinya. Makanan bergizi, pakaian terbaik, guru terhebat, rumah ternyaman, dan sebagainya. Tetapi ortu ini jarang sekali secara pribadi membimbing putra-putrinya atau menjadi contoh untuk putra-putrinya untuk menjadi yang terbaik. Umumnya orut ini juga menginginkan putra-putrinya menjadi seperti dirinya. Ortu ini biasanya terlambat mengetahui kalau terjadi sesuatu atas putra-putrinya. Misalnya raportnya menjadi jelek, baru marah-marah “Kenapa jelek kan sudah diberi ini itu ?”. Umumnya ortu ini tidak mengetahui permasalahan yang dihadapi putra-putrinya. Dan jarang sekali dijadikan ajang curhat oleh putra-putrinya karena jarang sekali menyediakan dirinya untuk sebagai ‘teman curhat’. Namun menuntut agar putra-putrinya selalu ‘lapor’ kepadanya setiap ada masalah. Putra-putrinya tidak selalu merasa kehilangan bila ortu tipe ini tidak berada disampingnya dalan waktu cukup lama.

Mediator
Ortu tipe ini lebih ikhlas menyediakan waktu dan ‘dirinya’ untuk menjadi penuntun, pembimbing, contoh, panutan bagi putra-putrinya. Umumnya ortu ini bisa berganti peran pada waktu yang tepat untuk menjadi ortu’, ‘guru’, atau ‘teman’. Putra-putrinya umumnya lebih terbuka untuk ‘curhat’ menceritakan masalah mereka karena ortu inipun juga selalu sharing permasalahan dirinya kepada anak-anaknya (dalam konteks: bagaimana memecahkan masalah bersama-sama, kepedulian atas masalah orang lain). Ortu tipe ini adalah tipe preventive action sehingga sebelum rapor anaknya jelek, dia sudah mengetahui kecenderungannya dan mencegah sebelum terjadi (dalam konteks: mengajak memahami permasalahan dan memecahkan masalah). Ortu tipe ini selalu membentuk putra-putrinya untuk menjadi jauh lebih baik daripada dirinya. Putra-putrinya akan cepat merasa kehilangan ortu tipe ini bila tak disampingnya bahkan dalam waktu hanya sebentar.

copyright:papario@nov-2005

 

 

Kategori: Kids
Ditandai: , , , , , , , , , ,

Berapa Usiamu ?

Juni 28, 2007 · 1 Komentar

Renungan ini saya dapat waktu diajak Ketua Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) Bp. Kasir Iskandar, mengikuti Rapat Kerja PAI di Grand Melia-Kuningan,th 1999. Pembicara tamu waktu itu seorang Mantan Menteri. Satu hal yang selalu saya ingat dari beliau :

“Kalau ditanya umur saya berapa, saya akan jawab 60 (kalau tidak salah). Tapi sebenarnya itu adalah Umur Biologis.Umur sesuai hitungan tanggal lahir.

Tapi saya merasa baru berusia 40. Karena saya rajin berolah raga dan makan makanan sehat, tidak merokok dan tidak makan junk food. Itu Umur Psikologis.

Saya juga merasa baru berusia 30. Karena saya masih rajin mengajar, memberi seminar, mengikuti pendikan dan mengupdate ilmu saya. Saya tidak seperti orang jompo yang hanya duduk di kursi, nonton TV dan tidur sepanjang hari. Itu adalah Umur Intelektual.

Tapi saya merasa masih seperti anak kecil dimata Tuhan. Karena dari sekian banyak anak saya hanya sedikit yang saya lihat berperilaku seperti orang beriman dan memperhatikan orang tua. Yang lain, saya ihat belum berperilaku seperti orang beriman . Saya baru merasa sebagai orang dewasa dimata Tuhan( Umur Spiritual), bila saya telah dapat menciptakan anak – anak yang soleh. Bukankah itu tujuan hidup kita didunia sebagai orang tua ?


re-tell from PAI meeting 1999

 

 

Kategori: Diary · Life
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , ,