Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Entries categorized as ‘Travelling’

Mengunjungi Perkebunan Kelapa Sawit di Pekanbaru dan Jambi

November 9, 2008 · 1 Komentar

Sewaktu kecil saya pernah diajak Bapak ke Pekanbaru dalam sebuah acara keluarga. Waktu itu saya cuman tahu bermain dan bermain di kampung. Bersepeda tanpa rem dan nyangkut di jemuran orang atau berenang di bendungan sampai hampir pingsan dikerubutin lintah.

Sekarang saya harus kembali kesana dalam suatu tugas. Kami berempat, Saya, Nday, Didi dan Nanang berangkat dari Jakarta naik Lion Air dan tiba sekitar jam 9:30. Disana sudah di jemput oleh Pak Triono – Sales Manager Pekanbaru dan Pak Saparudin Sinaga calon Sales Manager Medan yang saat ini sedang menjabat Unit Manager Pekanbaru.

Naik Fortuner kami diajak ke Sales Office Pekanbaru. Setelah briefing dengan para Agen disana siang hari kami diajak Lunch di sebuah restoran. Disana ternyata kami bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat terkait dengan tugas. Setelah bersilaturahmi, sesuai dengan tugas utama, kami berangkat ke luar kota mengunjungi beberapa perkebunan kelapa sawit.

Sungguh kasihan para petani sawit. Dalam beberapa minggu harga minyak sawit (CPO) anjlok dari Rp. 2.000,- per kg menjadi Rp. 400,- per kg. Selain sekarang sudah tidak punya dana untuk membayar segala macam kredit ke bank atau tukang kredit, sentimen pasar internasional terkait sertifikasi ramah lingkungan dan krisis ekonomi di amerika menyebabkan pembeli berkurang jauh. Mereka seperti makan buah simalakama, diproduksi malah tekor, tidak diproduksi tidak punya penghasilan. Karena itulah kami kesana, melihat langsung bagaimana sesungguhnya keadaan para petani, memberikan simpati, mendiskusikan jalan keluar dan menawarkan bantuan.

06112008139 06112008148 06112008150 img_1278

Setelah 5 jam perjalanan ke luar kota, melewati jalan lintas sumatra, akhirnya kami tiba di sebuah desa yang letaknya sangat jauh masuk ke pelosok perkebunan sawit, yaitu desa Sialang Permai. Bayangkan sebuah desa yang tidak ada pasokan listrik sehingga mereka harus menyediakan generator sendiri dan baru menyala jam 5 sore, tidak ada telepon dan tidak ada rumah perawatan kesehatan. Jangankan Rumah Sakit, Puskesmas saja tidak ada.

Disini kami ngobrol dengan beberapa tokoh petani dan KUD. Sempat pula kami menyambangi rumah salah seorang petani yang baru saja meninggal dunia untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung.

Setelah cukup mengumpulkan informasi dan memberikan simpati kepada para petani, kami pulang. Hampir saja kami harus menginap karena sore itu Fortuner tergelincir gak bisa jalan karena hujan deras. Untung beberapa remaja membantu sehingga kami lolos dari lumpur.

Menginap ? Well, kalau bukan karena keterbatasan waktu, mungkin kami sudah menerima tawaran salah seorang tokoh pemimpin para petani disana ( walaupun suara yang berminat untuk nginap 50:50 ). Akhirnya malam itu kami kembali ke Pekanbaru, menginap di Hotel Pangeran.

Keesokan harinya kami meninggalkan hotel menuju Jambi yang membutuhkan waktu hingga 12 jam. Dalam perjalanan saya sempat membawa Fortuner selama 3 jam. Kendaraannya sungguh nyaman. Perjalanan kelok kelok, naik turun, aspal, tanah, batu, becek dan lumpur menjadi pengalaman yang berharga. Apalagi waktu berpapasan dengan truk truk besar – wuss – wusss, jaraknya cuma ‘serambut’ – begitu komentar Didi.

Diperjalanan kami sempat singgah di daerah Sorek di bawah jembatan sungai Siak makan Udang sungai yang ukurannya sangat besar. Rumah makan ini cukup ramai disinggahi karena ternyata disebelahnya adalah tempat pemberhentian lalu lintas transportasi sungai.

Di bawah jembatan sungai Siak - Riau

Di bawah jembatan sungai Siak - Riau

Setelah makan dan moto moto, kami berangkat. Di daerah Batu Ampar pas perbatasan Pekanbaru – Jambi, kami mampir di rumah salah seorang petani. Selain ngobrol dengan petani dan pekerjanya yang sedang menimbang dan mengangkut sawit ke dalam truk, kami juga sempat makan duren di pinggir jalan. Pak Sapar begitu semangat membelahkan kurang lebih 10 buah duren.

img_1291 img_1308

Kami tiba di Jambi malam hari dan menginap di Hotel Abadi.

Esoknya kami berangkat lagi ke perkebunan sawit. Pak Sapar jalan terpincang pincang. Ternyata gara gara makan duren, asam uratnya kambuh. Jadi kali ini Didi yang bawa Fortunernya. Kali ini medannya lebih berat. Tanah yang dilalui sangat licin karena habis hujan. Untung tidak ada acara dorong dorong mobil. Fortuner ternyata bisa diandalkan. Kami harus melalui beberapa jembatan kayu dan sempat berjumpa dengan beberapa orang suku anak dalam.

06112008157 06112008154 img_1292

Di Kebun Sawit Jambi, desanya lebih ramai. Walaupun tetap tidak ada pasokan listrik dan telepon namun rata rata mereka punya antena parabola dan mobil Kijang Innova, Jeep dan sejenisnya. Disini kami bertemu lebih banyak pemuka desa. Mulai dari Pak Kades, Ketua Kelompok Tani, Ketua KUD dan lainnya.

Setelah berdiskusi cukup lama, sore hari kami pulang kembali ke Jambi. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat. Kami sempat makan empek empek di depan hotel sebelum tidur.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , ,

Ke Kidzania: Tempat anak anak belajar jadi orang gede

Oktober 2, 2008 · 1 Komentar

Ramadhan ini memang rejekinya anak anak. Bayangkan, setelah minggu ke dua ramadhan ikut training ESQ nya Ary Ginanajar Agustian selama dua hari penuh tanpa membatalkan puasa, minggu terakhir ramadhan ini mereka ke Kidzania.

Awalnya, Priska janjian sama teman teman sekolahnya. Tapi gagal karena tempat penuh. Untung minggu terakhir ini tidak ramai. Jadi Rio dan Priska sepakat untuk pergi berdua saja. Tapi sayang Rio gak jadi ikut. Begitu dibangunin pagi pagi dia nolak, ya jadinya hanya Priska saja yang pergi. Saya mengantarkan pagi pagi sekali ke Gedung Pacific Place di SCBD (Sudirman Central Business Distric). Karena ragu ragu lewat jalan Sudirman karena hari minggu itu adalah hari ‘hari tanpa kendaraan’, maka saya masuk SCBD lewat jalan Senopati.

Masuk Kidzania

Masuk Kidzania

Ini yang pertama saya datang ke Pacific Place. Ternyata ia sebuah mall. Pagi itu yang ada cuman satpam. Maklum baru jam 7:30 pagi. Setelah parkir di B2, kami naik ke lantai 6. Loket baru dibuka. Langsung saja saya belikan Priska satu tiket untuk periode jam 9:00 sampai jam 14:00. Wuiih, 5 jam !. Lumayan lama. Sebandinglah untuk Rp. 155.000,-. Selain tiket, Priska dapat ’kartu asuransi’, ’cek’ senilai 50 Kidzos (mata uang Kidzania) dan peta kota Kidzania.

Kami menunggu jam 9:00 tiba. Selama itu, pengunjung berdatangan makin ramai. Jam 9:00 anak anak dipanggil untuk ngantri masuk. Setelah cium tangan, Priska ngantri. Di Pintu dia diberi gelang identitas. Daah, enjoy ya !. Jangan nakal yaa !…..

Nah sekarang bagaimana nasibmu sang pengantar ?. Akhirnya saya keliling keliling saja dari lantai basement hingga lantai 6 lagi hingga jam 10:00 hingga toko toko pada buka. Mampir mampir sebentar, lihat elektronik, lihat buku, lihat menu makanan di resto. Jam 12:00 sholat sebentar di musholla lantai 4. Wah masih dua jam lagi. Akhirnya nongkrong di toilet selama 45 menit sambil main game di laptop. Itu cleaning service toilet bingung kali, kok ada orang betah hampir satu jam nongkrong di wc… hihihihhi. Keluar dari sana, saya nunggu di depan KIdzania. Jam 13:30 saya disuruh masuk sama petugas Kidzania untuk jemput Priska. Setelah dipakaikan gelang, saya masuk.

Sesuai perkiraan, Kidzania cukup luas. Tapi tak seluas yang saya bayangkan. Mereka hanya menempati setengah lantai. Setengahnya lagi dipakai BlitzMegaplex. Disini adalah miniatur kota kecil. Ada gedung balaikota, ada kafe, ada bank, ada stasiun TV, ada pabrik es krim, toko pizza, ada pemadam kebakaran, kantor polisi dan lain lain. Disini anak anak bebas berperan apa yang dia suka. Mereka boleh jadi polisi mengatur lalu lintas, jadi penyiar TV, jadi bankir, jadi pilot, dan lain lain. Selesai berperan mereka dapat ‘upah’.

Disini mereka juga boleh berleha-leha makan minum di cafe, makan pizza, makan eskrim tapi harus beli dengan kidzos mereka.

Setelah muter muter, di call susah, akhirnya ketemu. Sambil menunggu waktu habis, dia masih sempat berperan sebagai Baby Nursery dan Petugas Pelayan Pom Bensin. Begitu waktu habis, para petugas menyanyikan lagu penutup di teras balaikota. Setelah itu kita semua keluar. Lumayan, Priska puasanya masih poll, dan dia ngumpulin uang 130 kidzos dari hasil ‘kerja’ selama ini.

Baby Nursery

Baby Nursery

Baby Nursery Too

Baby Nursery Too

Premium ato solar pak ?

Premium ato solar, Pak ?

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,

Yogya lagi. Malioboro lagi.

September 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Belakangan ini jadwal mengajar para staff dan para selling agak padat. Sepanjang Agustus 2008 ini sudah dua kali ngajar. Seharusnya lebih, tapi sebagian saya minta rekan saya Bu Etty dan Mas Dedy yang ngajar. Hah, distribusi pekerjaan kan sebagian tugas saya.

Tapi kali ini, jadwal ke Yogya tidak dapat di wakilkan. Padahal saya sedang tidak berminat ke luar kota. Ya gak apalah. Sekalian refreshing karena belakangan ini biorithm saya lagi kurang bagus. Terutama di Psikis. Agak tertekan dengan beban pekerjaan yang menumpuk.

Setelah dapat ijin dari Boss, saya berangkat naik kereta ke Yogya bersama Nday. Dia itu seperti kamus berjalan. Bayangkan saja, untuk nulis gelarnya saja panjangnya tiga kali lipat lebih panjang dari namanya. Jaid kalo diajak diskusi asik asik aja. Maklum, sebagai seorang INTP ( Introvert, iNtuitif, Thinking dan Perceiving) materi obrolan suka ‘meloncat loncat’ dengan cepat. Hebatnya dia bisa mengikutinya. Entah hanya untuk menghargai, atau memang hebat. J . Orang kedua yang saya ingat bisa mengikuti alur berpikir saya yang cepat meloncat ( Yang pertama adalah mantan Boss, P. Tedjo).

Lokasi menginap dan mengajar, di Hotel Brongto. Baru denger nih. Kedengarannya mirip Brongto saurus. Ternyata hotel ini memang tidak terkenal untuk turis lokal, tapi sangat terkenal di Mancanegara. Hotel ini katanya memang spesialis untuk para ‘turis interlokal’.

Benar saja, begitu kami tiba di Hotel, labi banyak bule yang hilir mudik dibandingkan pribumi. Jadi, yang nginep disitu hanya para bule dari Belanda dan Jerman serta anak anak yang mo ikut training selama tiga hari ini.

Hotelnya bukan hotel bertingkat tinggi. Halaman masuk dan parkirnya sangat luas. Mungkin disediakan khusus untuk bis – bis ( atau bus – bus ?) pariwisata. Tadinya saya pikir ini hotel kelas melati. Murahan, untuk bule bagpacker. Tapi ternyata cukup bagus dan bersih. Bentuk dan disainnya seperti Sendik ( Sentra Pendidikan ) BRI kebanyakan. Seperti wisma bagi para karyawan. Ada juga sih bungalow – bungalow.


Hari pertama ngajar, saya tertawa sendiri. Bayangkan saja, ruang meeting kaca pintunya terbuka pas didepan kolam renang dimana para bule, remaja dan anak- anaknya ramai berenang disitu berbikini ria. Jadi konsentrasi pengajar agak terganggu. Terutama matanya.


Habis ngajar hari pertama, hari kedua seharian free. Mo jalan jalan tapi sebenarnya gak punya duit. Bayangkan saja, SPJ sampai hari ini blom dikasi. Keterlaluan. Tapi akhirnya brangkat juga. Tidak ada tempat lain yang saya tahu untuk dikunjungi termasuk Nday dan Titin, selain Malioboro. Ya sudah, kesanalah kami naik becak. Saya dan Nday berdua, Titin sendiri.

Disana saya beli – beli batik. Karena Rio sudah lama pingin punya baju batik. Beli juga buat istri tercinta dan Priska, buat persiapan lebaran. Bliin juga buat Nyokap, Mertua dan ponakan ponakan. Habis sekitar satu setengah juta rupiah ‘saja’.

Salah satu kemeja batik yang saya beli, sama dengan yang dibeli Nday. Padahal itu buat dipakai hari Jumat ke kantor. Jadinya kita harus janjian dulu kalo mo pake batik itu. He he heh.

Hari ketiga ngajar lagi. Besoknya pulang deh. Naik kereta.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , ,

Catatan kecil dari Tokyo

Mei 27, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Banyak kesan yang saya dapat sepulang dari Tokyo Bulan April 2008 pada saat Spring season kemarin. Sebagian saya catat dibawah ini:

1. Japanese Driving Style.
Orang Jepang sangat santun dalam berkendara. Rata rata mereka berkendara dengan kecepatan tinggi. Terutama di jalur cepat dan jalan tol. Tapi di daerah perumahan atau daerah padat, mereka bergerak sangat lamban dan mendahulukan pejalan kaki. Para pejalan kakinya pun sangat disiplin. Mereka tak akan menyeberang jalan kalau lampu hijau bagi pejalan kaki belum menyala biarpun tak ada kendaraan yang lewat. Kalau pun ada yang menyeberang, itu pasti orang Indonesia !.

Klakson tidak pernah dibunyikan, walaupun ada kendaraan didepan yang berhenti mendadak. Membunyikan klakson adalah perbuatan tidak sopan, kata mereka. Klakson hanya dibunyikan untuk keadaan darurat.

2. Mana anak anaknya ?.
Sepanjang hari di Kota Tokyo sejak pagi hingga larut malam saya tak menjumpai anak anak. Dimana mereka ?. Bahkan ketika lewat daerah perumahan dan pinggir kota pun tak satupun melihat anak anak. Malam hari kota Tokyo penuh karaoke, bar, toko – toko, poster JAV dan pertunjukan dewasa. Tiada ada tempat yang baik buat anak anak di Kota Tokyo di malam hari. Bagaimana Jepang menjaga perkembangan mental dan moral anak anak mereka kalau kotanya seperti itu ya ?.

3. Tata Tertib Naik Eskalator.
Saya diberi tahu bahwa naik eskalator itu ada tata tertibnya. Kalo naik, harus disebelah kiri. Karena di sebelah kanan, itu untuk mereka yang terburu buru. Jadi jangan naik trus berhenti di sisi kanan, nanti diomelin kamu gak tau artinya. bweheheheh,……

4. Pohon Ginko
Tahu suplemen makanan yang ‘bikin pintar’ ?. Dalam komposisinya selalu dikatakan bahwa didalamnya ada ramuan ginko biloba, tanaman khas Jepang. Ternyata Tanaman Ginko itu ditanam di sepanjang jalan di kota Tokyo seperti halnya kita nanam pohon asem di sepanjang jalan Jakarta.

5. Bersih dan tertib
Tokyo kota yang sangat bersih dan tertib. Semua penduduk disana mematuhinya. Seakan tak ada debu, sampah dan batu jalan yang pecah. Nyaris apapun yang kita saksikan disana itu rapi, harmonis dan serasi. Rasanya ini bukan tentang kesempurnaan (perfection) tetapi lebih kepada keakuratan (precision).

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , ,

Tokyo Tour 2008: Nostalgia Journey. Day 5 – Back Home

Mei 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Original Hanamasa

Sebelum tiba di International Garden Hotel Narita untuk menginap di malam terakhir, kami mampir makan malam di restoran HANAMASA di sekitar daerah Narita. Letaknya dilantai dua, diatas sebuah swalayan. Hmm, beda. Disini agak kumuh dan makanannya banyak yang gak halal. Akhirnya, selain sea food di bakar di meja, nanas dan buah lain pun ikut kita bakar juga. Tapi eskrimnya enak enak.

Sambil nurunin makanan ke perut, kita ngecek swalayannya. Biasa saja. Sama seperti swalayan di Jakarta. Cuman buah buahannya kelihatannya lebih unggul. Misalnya strawberry besar – besar dan sungguh manis. Ada juga rumput laut olahan. Hmm… kurang asem, harga disini sedikit lebih murah dari yang dijual si Andre padaku tadi.

Sudah malam. Semua naik ke bis. Teman teman ada yang minta untuk stop sebentar di Hard Rock Cafe Narita. Andre manggut manggut saja. Kayaknya jadi kebal sama cerewetnya orang Indonesia. Bis stop di halaman parkir HardRock Cafe. Semua turun. Tapi hanya sebagian yang ke HardRock Cafe. Saya dan beberapa teman lain mampir di Department Store yang malam itu masih buka. Lumayan bisa beli bebrapa permainan buat anak anak di rumah. Lucu juga bisa lihat action figure seksi tokoh kartun anime Jepang disini.

Setengah jam kemudian pasukan sudah ngumpul di bis dan basah karena kehujanan. Semua gembira karena oleh olehnya nambah banyak. Tiba di Hotel, semua istirahat. Gak ada yang bisa di kunjungi diluar hotel malam itu. Hanya ada satu pom bensin dan mini market. Selamat malam.

Day 5: Gadis cantik di Narita

Pagi hari semua sudah berkumpul di Lobby. Sayang bisnya harus pake bis kecil. Sepertinya bis hotel khusus ke bandara. Karena jaraknya dekat, sempit sempitan di bis gak papa lah.

Hai Narita, glad to see you again. This time i come to say good bye. Bye bye Andre. Nice to see a good and funny person like you.

Narita masih saja megah. Proses check in lancar lancar saja. Begitu masuk lounge ke terminal, karena waktunya masih lama, saya sempat makan gratis di lounge Kartu Kredit bersama Pak Budi.

Ya ampun, sebelum naik kereta listrik ke ruang tunggu teman teman masih sempat belanja dan berusaha menghabisksn Yen nya. Bahkan dollar dollarnya dihabiskan. Ada yang terpaksa pake kartu kredit, dan minjem sisa sisa Yen dan Dollar yang kumiliki. Saya juga ‘terpaksa’ ikutan belanja. Lumayan, sepasang jam tangan untuk anak anak di rumah dan beberapa makanan ringan. Setelah itu semuanya turun ke lantai bawah untuk naik kereta.

Sambil nunggu kereta dan nungguin tasnya Pak Tedjo yang kebelet ke Kamar kecil, saya duduk di pojokan bersama rekan rekan yang lain yang sudah selesai belanja.

Di sudut mata saya melihat ada satu gadis cantik turun melalui eskalator. Mata ini gak lepas memperhatikan. Sepatu boot, Rok pendek, Mantel kulit ada bulunya, rambut sebahu, kulit putih, wajahnya mirip salah satu penyanyi T2. Saya kira artis Jepang. Cantik sekali.

Lhadalah, dia malah mendekati saya lalu bertanya “Indonesia ?”.
“eeh,, iya iya”
“Ke Denpasar ?”
“ha ?, oh no, I want to back home to Jakarta”
Dia diam dan sedikit bingung. ‘Anda mau ke Denpasar ?” saya bertanya.
“Ya, terminalnya dimana ya ?”

Cewe ini orang Indonesia ya ? pikirku.Teman teman pada melihat dan sebagian nggagguin sambil nendang nendang kaki saya.

“Saya juga tidak tahu, ayo kita lihat di information board itu “
saya lalu mengajaknya pergi ke information board di ujung ruangan ( daripada ditendang tendang lagi). Disitu saya berkenalan. oooh, Namanya Devi. Dia mau ke Denpasar. Setelah memperhatikan jadwal dan nomor flight, akhirnya ketahuan terminalnya dimana (sekarang saya lupa).

Dia masih bingung untuk menuju ke terminal. Akhirnya saya tunjuk kereta yang baru saja datang. “Masuk saja ke kereta itu, setibanya di ujung, pasti ada informasi letak terminal yang dimaksud”.

“Thanks, Bye” katanya sambil berlari kecil dan masuk ke kereta. Sebelum kereta berangkat dia sempat menunduk ala Jepang.

“Goblok !, goblok !” teman teman neplak kepala dan punggung saya sampe mau jatuh dari kursi. “goblok !”. Apa salah sayaaaaaaaa……….???.

Sayonara Tokyo
Akhirnya semua naik kereta menuju terminal berikut. Rupanya terminalnya paling ujung. Begitu naik pesawat JAL, terbayang semua kenangan manis di Tokyo. Kota yang begitu romantis. Sejak kenal dengan Tokyo pertam kali 8 tahun yang lalu, saya memang sudah berniat untuk membawa keluarga kembali ke sini. Apalagi sudah nambah lagi teman teman yang menetap di sini. Misalnya si Andre, si Bobo ho atau Samo hung yang lucu itu.

Bye bye Tokyo, suatu saat saya akan kembali bersama anak istri saya. Sayonaraaaa……

Menelepon di JAL
Hari ini entah kenapa gak bisa nelepon ato SMS dari Tokyo ke Jakarta. Padahal hari hari kemarin bisa. Istri sudah marah marah karena hari ini tidak ada kabar sama sekali.

Begitu duduk di kursi pesawat, dan pesawatnya take off, saya kembali menarik dan memainkan stick yang ada di pegangan kursi. Seperti biasa, nonton filem, atau main game.

Hebatnya JAL, stick tersebut ternyata banyak gunanya. Selain sebagai remote vodeo, stick game, juga bisa untuk interactive media, juga bisa dipake untuk menelepon kemana saja…!.

Setelah menggesek kartu kredit di stick tersebut, lalu dial kode dan nomor tujuan, akhirnya bisa nelpon ke Jakarta ngabarin kalo sudah brangkat ke Jakarta.

Jepang memang hebat.

Salam.
Papario

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , , , ,

Tokyo Tour 2008: Nostalgia Journey : Day 4 Tokyo Disneyland !

Mei 26, 2008 · 1 Komentar

Tokyo Disneyland ! Here I Come Again !.

Ohaiyo Gozaimas !. Hari ini Alhamdulillah badan masih segar bugar. Makanannya cocok, bisa tidur nyaman di hotel, walaupun di luaran udaranya sangat dingin. Setelah mandi pagi dan sarapan, kami berangkat menuju Tokyo Disneyland !.

Sebagian peserta merasa tidak cocok kesana. Mungkin sudah puas menjadi orang dewasa dan gak perlu jadi anak anak lagi disini, atau mungkin juga belum puas belanja. Jadi, setelah tiba di Disneyland, beberapa waktu kemudian mereka pisah dan pergi ke stasuin Maihama yang persis di depan Pintu Gerbang DIsneyland, menuju Akihabara !. Ooh, akhabara I Miss you. Dahulu saya sampai berkali – kali mampir ke tempat ini karena sangat banyak pilihan dan dapat belanja sampai puasssss. Ini adalah surga belanja bagi pelancong berkantong cekak.

Kalau kita naik kereta, kita berhenti di stasiun Akihabara. Stasiun yang sudah menyatu dengan pasar / pertokoan seperti ITC. Keluar dari stasiun kita akan melihat ‘segerombolan’ gedung – gedung berlantai tidak lebih dari 10. Rata rata berlantai 4 sampai 6. Dipisahkan sampai beberapa blok, disitulah segala macam barang dijual. Handphone di jual di pinggir jalan seerti barang obralan. Cuman tak ada barang elektronik yang bisa dibawa pulang dipakai di tanah air karena semua tombol dan display menggunakan tulisan kanji.

Oya, kita kan sekarang ada di Tokyo Disneyland !. Lucky me !, Hari ini ada parade besar. Kalau dahulu saya datang pas ada perayaan 100 tahun disneyland, kali ini pas ada perayaan 25 tahun Tokyo Disneyland. Para pengunjung yang sebagian besar orang Jepang, mulai anak anak , remaja sampai orang dewasa kelihatannya lebih tertarik pada acara Parade yang akan dilakukan di siang hari.

Harga tiket masuk 5250yen. Sekitar 500 ribu rupiah !. Mahal ya. Tapi gak apa apa karena kita pasti puas. Disneyland terdiri dari beberapa area. Ada beberapa perubahan sejak beberapa tahun lalu, tapi asiknya sama saja. Begitu masuk gerbang masuk, kita berada di Area World Bazar. Disini banyak kios dan toko uyang menjual segala macam cindera mata dari Disneyland. Walaupun di setiap pojok Disneyland juga ada kios kios, tapi disinilah pusatnya.

Di World Bazaar saya sempat menyaksikan demo drumband Disneyland yang dimainkan dengan indah oleh sekitar 12 orang. Lagu lagunya ya lagu lagu theme song film – film disney, seperti Hakuna Matata dan lagu theme Pinokio. Tak hendak beranjak mendengar demonstrasi mereka yang menakjubkan dan indah. Kami menyaksikan demo hingga selesai yang berlangsung sekitar 20 menit.

Keluar dari Word Bazar, kita akan melihat taman taman yang ditata dengan sangat rapih. Taman ini dikitari oleh jalan yang melingkar sekitar sejauh hampir 500 meter. Di jalan inilah parade nanti siang akan berlangsung.

Satu hal yang lagi lagi saya terkesan, Disneyland sangat bersih dan rapi !. Tak ada sampah !, lantai dan bangunan tertata rapih. Tak ada retak dan gompel. Lantai semua di semen dan dicat dengan halus. Benar benar masuk ke dunia impian.

Mengikuti arah jarum jam mulai dari pukul 7, sebelah kiri World Bazar ada Adventureland. Disini banyak disediakan wahana petualangan. Seperti Jungle Cruise (bertualang dihutam misterius), Western River Railroad (naik kerete koboi sambil melihat berbagai atraksi jaman western), Swiss Family Treehouse (bertualang di rumah pohon milik keluarga Swiss) dll. Yang paling menarik disini adalah Porates of Carribean. Kita akan naik ber 8 naik perahu, menjelajahi dunia Bajak laut. Huibaaat !. Satu saat kita akan berasa berada di tengah laut ditengah tembakan meriam antara kapal bajak laut dan benteng Inggris. Cebyurr prattt !. air disekitar kita akan muncrat seakan akan peluru meriam jatuh di sekitar kita.

Di arah jam 9 ada WesternLand. Di area Westernland, juga banyak wahana. Ada dua wahana yang paling asik. Yaitu Mark Twain Riverboat. Disini kita akan naik kapal sungai yang besar sebesra kapal ferry, melintasi sungai ‘Mississippi’. Pemandangan dan atraksinya luar biasa. Yang kedua adalah Big thunder Mountain. Kita akan naik kereta tambang untuk naik dan menuruni gunung batu, menelusuri lorong lorong dan gua – gua dengan kecepatan tinggi. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa! ………

Di arah jam 11, ada Critter Country. Disini hanya da 2 wahana, yaitu Beaver Brothers explorer Canoes. Kita akan berkano menelusuri hutan lebat penuh binatang liar. Lalu ada Splash Mountain. Kita akan berperahu menuruni gunung ke danau. Basaaaahhh deh !. Disini kita akan ditawarkan foto pada waktu perahu kita terjun ke danau. Gak ada yang cakep. Semua pada berwajah ketakutan.

DI arah Jam 1 ada Fantasyland. Area ini yang kelihatannya paling banyak wahananya. Ada 10 wahana. Mulai dari wahana Kapal bajak laut Kapten Hook, wahana Snow White, Wahana Mickey Mouse, Pinokio, sampai wahana Pooh’s Hunny Hunt. Yang paling menarik adalah wahana It’s a Small saml World ( Istana Boneka) dan Haunted Mansion. DI Haunted mansion kita akan banyak ditakuti oleh hantu hantu yang mencengangkan suguhan teknologi canggih. Di Fantasyland juga paling banyak toko suvenirnya.

Kami sempat ngantri di Haunted Mansion. Karena sudah siang, antriannya cukup panjang. memang keluhan terbesar di Disneyland adalah antriannya. Itulah sebabnya kata orang tidak cukup 1 hari untuk menikmati Disneyland. Kalo memang berniat mau kesana, baiknya nginap di Hotel Disney yang berada disebelahnya. Jadi bisa 2 hari full bermain disana. Tapi hebatnya, semua orang sabar mengantri. Saya sempat memfoto ‘Arnold Schwarzenegger’-nya BJS. heheheheh ….

Pada waktu siang ini sudah banyak pengunjung duduk duduk memadati pinggir jalan. Mereka semua bersiap siap menantikan parade. Betul saja. Tak lama kemudian Terdengar suara musik bergemuruh. Huibattt. Parade di Disneyland memang huibat. Mulai dari Kapal Kapten Hook, parade Lilo & Stitch, sampai tokoh klasik Miki dan Donald. Walaupun berlangsung cukup singkat, cuman sekitar 15 menit, tapi paradenya luar biasa.


Kami trus tiba di ToonTown di area jam 3. Ini adalah simulasi kota kartun tempat tinggal miki, goofy dan teman temannya. Kita bisa bermain di rumah miki, rumah mini, rumah pohonnya chip n’ dale, perahunya donal, rumahnya goofy dan lain lain. Kebanyakan wahana area ini untuk anak anak SD & TK. Tidak memancing adrenalin. Saya makan siang disini. Cukup makan Fish Sandwich dan Hot Chocolate di Huey, Dewey & Louie’s Good Time Café.

Area terakhir yang paling merncengangkan adalah Tomorrowland. Disini tempat keluarnya imajinasi, aksi dan petualangan menjelajah ruang dan waktu. Ada Star tour ( tempat berpetualangan ke luar angkasa), Ada Space Mountain ( Naik roket penjelajah angkasa ), Perang melawan robot di Wahana Baru Buzzlightyear Astro Blaster, lalu kalau amsuk ke Micro Adventure, kita akan diciutkan menjadi sekecil semut, di serbu tikus raksasa, kecipratan ludah raksasa, dll.

Seingat saya disini ada satu wahana yang luar biasa, dimana kita akan masuk kedalam kapsul mesin waktu dan menjalajah waktu ke masa lalu dan masa depan. Kita akan berada dalam semacam bioskop 360 derajat. Kemana saja kita melihat, atas, bawah, depan samping belakang, semua layar pemandangan. Tapi dimana ya…..?

Nah di Tomorrowland, jangan lupa masuk ke kios Imageworks. Disini kita bisa berfoto secara teknologi digital bersama tokoh tokoh disney. Kalau dahulu saya berfoto bersama Winnie The pooh, sekarang saya menjadi bintang utama berfoto bersama Kapten Jack Sparrow !. Foto sebesar poster saya bawa pulang. Buat bikin iri anak anak di rumah. Hihihihihi…..

Sayang Andre mengajak kita berkumpul di Pintu gerbang pada jam 5 sore. Padahal baru sedikit wahana yang dimasuki. Padahal pada jam 9 malam nanti akan ada pesta kembang api. Yang ini jauh lebih menarik dari pada parade tadi siang. 8 tahun lalu, pesta kembang api berlangsung sangat meriah. Selama hampir 20 menit kita menyaksikan pemandangan yang luar biasa. 100 kali lebih menarik dari pesta kembang api di ancol !.

(bersambung)

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , ,

Tokyo Tour 2008 : Nostalgia Journey Day 3 Part 3

Mei 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Day 3: Night in Tokyo: Pengamen dan Mabuk Berjamaah

Malam ini peserta menginap di Crowne Plaza Hotel Metropolitan Tokyo. Terletak di Ikebukuro District. Begitu bis tiba, kita semua langsung diajak Andre makan malam di restoran Jepang pas seberang hotel. Kali ini kita duduk dimeja yang atasnya bisa berputar. Nasi sudah dibagikan ke pada masing masing. Begitu lauk pertama keluar: Ayam goreng. Semua ambil, saya nggak. Tapi sampai di akhir putaran, ayamnya habis. Lauk kedua keluar: Kepiting. Nah ini saya ambil. Muter lagi – abis lah dia. Lauk ketiga muncul: Udang. Ini juga enak dan habis seketika. Muter lagi: Lha.. kok abon sapi !. Ini pasti punya salah satu peserta. Ogah, ngapain ke Jepang kalo ketemunya abon lagi !.

Kenyaang. Semua kembali ke hotel. Di Lobby salah satu peserta protes, karena baru sebentar pergi ke toilet, sudah ditinggal. Jadi sekarang dia kelaparan. Kasian ibu ini. Biar ini urusannya Rita sama Andre lah !.

Andre kemudian membagikan kunci kamar, dan mengumumkan bahwa barang siapa yang berminat kembali ke Shinjuku untuk nonton striptease, Andre menunggu di bawah jam 8 malam ini.

Saya terus masuk kamar. Lagi lagi sendirian. Rita ini gimana sih ngatur kamar peserta. Kirain cuma kemaren doang tidur sendirian. Habis mandi, tiba tiba beberapa peserta dari Jakarta nelpon. Minta ditemenin jalan – jalan.

Di Lobby mereka sudah menunggu. Saya gak bisa nemenin mereka jalan jalan kalau perginya jauh. Apalagi ke Shinjuku !. Tapi rombongannya Andre udah gak kelihatan. Akhirnya kita sepakat untuk berjalan kaki saja ke sekitar hotel. Diluar udaranya sagat dingin. Jari jari tangan terasa beku. Kaos dalam, kemeja dan sweater saja gak cukup menahan dingin. Tapi untuk kondisi badan lagi fit. Jadi gak sampe menggigil dan bersin bersin.

Area hotel kebetulan dekat dengan beberapa tempat keramaian. Yaitu Seibu Dept. Store, Ikebukuro Station, Tobu Dept. Store dan Taman Ikebukuro. Sekitar hotel sih sangat sepi. Tapi seteleh lewat 100 meter kami tiba di sebuah plaza. Kami masuk dan turun kebawah ternyata masuk ke Ikebukuro Subway Station. Tuh kan, diatas sepi, disini luar biasa ramai.

Kami berlima cuman clingak clinguk. di tengah area stasiun ada orang bule lagi ‘ngamen’ paka string puppet. Ceritanya si boneka adalah maestro biola. Lucu juga. Temen temen ngajak naek kereta. Tapi begitu sampai di tempat penjualan tiket, pada bengong bengong doang. Abis gak tau mo kemana: Tulisan Kanji semua !.

Setelah ngalor – ngidul, kami semua naik kembali ke atas. Keluar keluar tiba di depan sebuah taman. Itu namanya taman Ikebukuro. Entah itu di Minami Ikebukuro Park atau Nishi Ikebukuro Park. Tapi jelas kita sudah gak tau lagi hotel ada dimana !.

Disini ramai sekali seperti pasar malam. Semua pria memakai jas, yang wanita memakai blazer. Dan mereka semua keluar masuk bar dan karaoke. Orang Jepang sepulang kerja sebelum pulang kerumah rupanya mabok mabokan dulu disini. Semua orang bau sake. Tapi jalannya pada lurus lurus aja tuh. Gak ada yang limbung. Udah biasa kali ya !.

Kami terus berjalan asal saja. Lampu lampu kota berkelap kelip warna warni. Gak tau artinya. Masuk ke AmPm beli minuman karena haus dan baca beberapa majalah dan komik jepang. Sempat juga mendengarkan pengamen jepang di pinggir jalan. Permainan gitarnya bagus bagus.

Semakin malam, semakin ramai orang orang berlalu lalang. Beberapa tunawisma terlihat mendorong gerobak. Ada tunawisma juga ya di Jepang. Kami masuk ke jalan jalan yang lebih kecil yang bisa dilewati oleh satu sedan saja. Kebanyakan disitu isinya bar tempat minum. Sudah tak ada lagi tempat – tempat belanja (kecuali AMPM atau 7eleven) suvenir atau lainnya.

Jam 23:00 kaki – kaki sudah penat. Cukup sudah nonton orang mabok berjamaah. Kami berjalan kaki mencari lokasi hotel. Tidak susah, karena 15 menit kemudian kita sudah sampai di hotel.

Di kamar hotel lantai 17 saya mencoba memfoto kota tokyo malam hari tapi gak berhasil. kamera ini cuman 2 megapiksel dengan fasilitas minim. Jadi yang kelihatan tetap saja kegelapan.

Oyasumi Nasai !, selamat malam semua. Good Night.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , , , ,

Tokyo Tour 2008 : Nostalgia Journey Day 3 Part 2

Mei 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Day 3: City Tour 1: Imperial Palace.

Bis berangkat menuju tengah kota dangan tujuan Imperial Palace. Itu adalah Istana kaisar Akihito. Letaknya di tengah alun alun kota Tokyo. Selama perjalanan kami menyaksikan kesibukan orang Jepang. Sekali lagi hanya segelintir orang yang terlihat dijalan. Hanya ada gedung dan Kendaraan lalu lalang. Tidak seperti Jakarta yang kumuh dan berantakan, Jalanan di Tokyo rapi dan amat bersiiiiiiiih sekali. Kendaraan – kendaraan pun juga sangat bersih. Taksi, pemadam kebakaran, pick up. Bahkan mobil semennya sangat bersih.

Dekat sebuah hotel ada sedikit keramaian, Banyak wartawan dan polisi disana. Beberapa mobil ambulan, pemadam dan polisi memblokir jalan. Sepertinya kerusuhan demo untuk pembebasan Tibet belum berakhir.

Baru kemarin lihat obor olimpiade yang diarak di Tokyo dijaga ketat, sempat diserbu beberapa orang demonstran anti china. Arakan Obor ini akan berakhir di Beijing tempat dilaksanakan olympiade. Dinegara yang sedang dalam protes dunia karena pendudukannya atas Tibet.

Bus berputar dekat sebuah gedung yang saya kenal baik. Disitu berkantor Daiichi Life dimana saya pernah kesana. Itu adalah gedung bersejarah dimana dalam perang dengan sekutu, Gedung itu adalah satu satu nya gedung yang tidak dihancurkan karena gedung itu adalah kantornya Jendral Mc. Arthur !.

Delapan tahun yang lalu saya pernah diajak masuk ke gedung itu untuk melihat peninggalan sejarah perang dunia ke II.

Bus brenti di area parkir taman istana. Rombongan diajak Andre dan Toni menuju Gerbang Sakuradamon. Pintu gerbang Istana. Untuk masuk ke Istana harus menyebrangi Jembatan Nijubashi. Pelancong tidak boleh masuk kesana. Hanya boleh berfoto foto di sekitar pintu gerbang. Dalam perjalanan untuk sekian kali saya terkagum kagum sama kebersihan dan kerapihan kota Tokyo seta disiplin manusia yang ada disana. Satu satunya sweater yang saya pakai dari kemarin saya pakai terus. Biar Udara cerah dan Matahari terik, tapi suhu udara sangat dingin.

Setelah berfoto bersama, dan foto foto sendiri dengan background Sakuradamon Gate dan Nijubashi Bridge, peserta ‘dipaksa’ oleh Andre untuk kembali ke bis. ha ha, dia takut orang Indonesia yang tidak disiplin ini lebih terlambat lagi untuk makan siang.

Sebelum naik bus, saya sempat berfoto berlatar belakang patung Kusunoki Masashige. Seorang pejuang Jepang yang patungnya dibangun disitu untuk mengenang kesetiannya kepada kaisar. Katanya disitulah dia menunggu kembalinya kaisar dari perang sampai akhir hayatnya. Herannya di foto itu sama sekali tidak ada orang lain selain saya. Padahal waktu difoto seingat saya ada beberapa turis lokal sedang berfoto
juga disana. Ah, ini adalah salah satu dari ‘miracle’ yang sering saya alami.

Day 3: City Tour 2: Lunch at Downtown.

Sebenarnya dari Imperial Place tinggal nyebrang sedikit kita bisa ke Ginza. Sebua daerah perbelanjaan elite. Dahulu didaerah ini saya pernah melancong sendirian. Gak ada yang menarik di sini karena mirip sama Sogo Department store. Waktu itu akhirnya saya mampir di Sony Centre. Sebuah gedung kurang lebih berlantai 7 yang disainnya unik seperti Blok M Plaza. Lantainya melingkar sehingga dari kalau kita berjalan dari lantai satu mengitari ruangan maka suatu saat kita akan sampai di lantai tujuh tanpa harus menaiki tangga sama sekali. Isinya adalah semua produk anyar sony ( tahun itu tahun 2000). Dan waktu itu saya bangga karena sempat nyobain Sony Playstation 2 yang baru saja di rilis di Jepang !.

Back to 2008. Perut sudah lapar. Andre mengajak kita semua kesebuah daerah downtown. Downtown adalah daerah yang sedikit kumuh. Daerah kelas tiga. Disini sedikit lebih ramai dengan orang orang hilir mudik. Pakainnya lebih sederhana. Tidak semodis atau formal orang orang di tengah kota. Tapi tetap
saja, daerahnya rapi dan bersih. Kita semua makan di sebuah restoran makanan Jepang. Seperti restoran Pempek di kota Palembang. Makanan sudah dihidangkan. Kelihatannya Andre sudah memilihkan makanan yang aman buat para Muslim. Benar, isinya nasi, miso sup, sayuran dan sea food. Wuih, kenyaang. ( Heran, masih saja ada yang makan pake abon !).

Day 3: City Tour 3: Afternoon in Asakusa Kanon Temple.

Bis brangkat dan tak lama tiba di sebuah Kuil. Namanya Asakusa Kanon Temple. Ramai sekali. Seperti Pasar Baru. Note: Bedanya, disini rapi dan bersih sekali. Bis lalu brangkat sendiri meninggalkan para peserta karena tidak boleh parkir didepan gerbang kuil. Di depan gerbang yang besar sekali tergantung sebuah lampion raksasa berwarna merah. Dari gerbang menuju kuil kita harus melalui sebuah jalan sepanjang sekitar 300 meter yang kiri kanannya banyak kios – kios cendera mata. Saat itu sepanjang jalan itu penuh sesak oleh pelancong lokal dan mancanegara.


Saya mampir di kios kios tersebut. Peserta dari Jakarta dengan buas belanja barang barang disana. Gak makanan, gak gantungan kunci, arloji, pakaian, apa aja deh. Yang penting sodara sodara dan para tetangga sekampung kebagian oleh oleh. Saya yang lagi ngirit karena harus nyicil apartemen, hanya belanja seadanya. Tak lupa beliin kimono lucu, mini dan seksi buat istri seharga 2500 yen. Maunya sih yang ada belahan di sisi. Tapi gak apalah, ntar kita blah sendiri.

Sampai di kuil, Andre dan Toni sudah menunggu sambil nyap nyap karena waktu yang disediakan tidak ditepati. Kita semua terlambat 20 menit !. Dasar orang Indonesia. Sambil nunggu yang lain yang juga blom tiba, saya naik ke tangga kuil. Kuilnya tutup. Beberapa orang beribadah di depan pintu.

Day 3: City Tour 4: Shinjuku !

Shunjuku sebenarnya bukan pilihan semua peserta. Ada yang mau ke sini ada yang mau ke Akihabara.

Tapi Toni dan Andre mengarahkan kita ke sini karena jaraknya katanya lebih dekat. Daerah Shinjuku terbagiempat. Utara, Selatan Barat dan Timur. Sebagian adalah tempat belanja dan ada satu bagian yang daerah khusus orang dewasa, yaitu tempat pertunjukan striptease Jepang. Andre hanya memberi waktu 15 menit !. Mau ngapain 15 menit ?. Ada ada aja si Andre.

Tapi memang daerah lambat laun menjadi sangat ramai. Karena sudah mulai malam, berbagai lampu sudah menyala. Kontras dengan pagi dan siang hari yang sangat sepi, pada malam hari di tempat ini luar biasa ramai.

Para pekerja dan yang lainnya ramai memenuhi jalan seperti kelelawar yang berbondong bondong keluar dari sarang.

Gak ada yang bisa dibeli disini. Saya cuma ke ‘100yen shop’ untuk membeli batere AAA kamera yang habis.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tokyo Tour 2008 : Nostalgia Journey Day 3 Part 1

Mei 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Day 3: Crystal Clear

Rrriiinnngg ….. ‘Ohaiyo Gozaimas !’…alarm kamar berbunyi. Jam 5 pagi. Saya sholat subuh trus mandi. Jam 5.30 turun ke lobby, blom ada orang.

Sudah keluar hotel trus masuk lagi ambil sweater. Dinginnya minta ampun. Tapi pagi itu baru kelihatan indahnya hutan pinus.

Saya berjalan jalan di halaman depan, keluar ke jalan kecil trus sampai lebih kurang 500 meter sampai di sebuah lapangan baseball. Orang Jepang juga hobby baseball. Tapi yang indah disana adalah bisa lihat putihnya salju di puncak gunung fuji yang kemarin gak bisa dilihat gara gara kabut tebal.

Setelah foto foto, baru deh dateng beberapa orang yang juga tidak mau ketinggalan moment langka berfoto dengan background gunung fuji pada cuaca sejernih kristal.

Sarapan jam 7 pagi, masih dengan gaya prasmanan. Hidangan sepertinya hampir tidak berubah. Yang berubah adalah peserta tidak lagi pakai Yukata.

Bis brangkat jam 8 pagi. Melihat lihat lagi pemandangan di pinggir kota Tokyo. Mampir di Crystal Palace. Semacam museum batu – batu berharga.

Disitu banyak batu dipamerkan dan dijelaskan asal usulnya. Yang menarik perhatian adalah batu – batu besar seperti kaca menyembul dan tajam – tajam, persis seperti rumah kediaman Superman di Kutub Utara itu. Jangan jangan itu memang batu kripton !.

Batu itu semakin mengarah ke ujung, semakin berkilau dan nilainya semakin mahal. Setelah menimbang – nimbang, saya beli satu buah untaian kalung kristal batu dari gunung fuji yang paling berkilau buat istri. Lumayan, cuma 1250 yen setelah ditawar tawar: diskonto ?… diskonto..?…

Day 3: Jamaah Mancanegara

Hari ini kan hari jum’at, makanya kami pesan kepada Andre supaya bisa mengantarkan kami ke mesjid terdekat sebelum ke tujuan lain. Andre kemudian mengangkat handphonenya lalu beberapa saat dia bilang kita akan diantarkan ke sebuah mesjid di kota Tokyo.

Jam 11.00 bus berhenti di seberang sebuah gedung unik berlantai 2. Bagian bawah adalah kantor perwakilan Turki dan di lantai duanya adalah sebuah mesjid dengan menaranya yang tinggi dan kubah yang besar. Ornamen Timur tengahnya kental sekali.
Kami menyeberangi jalan yang cukup sepi. Di lantai bawah kami minta ijin pada pengurus mesjid. Ternyata Sholat Jumat baru dimulai nanti jam 12:30 dan berakhir 13:30. Masih agak lama ya !.

Andre kemudian bertanya apakah waktunya bisa dikompromikan ?. Karena dengan waktu tersebut makan siang pasti terlambat. Setelah berdiskusi dengan teman teman yang mau shalat jumat, akhirnya kita minta maaf pada Andre karena kita ingin mengikuti sholat jumat dengan waktu yang sudah ditentukan.

Andre mengerti walaupun dia agak kurang senang karena waktu yang sudah dia rencanakan akan mundur. Setelah menelepon dia mempersilakan kita beribadah, dan dia akan mencari makan siang disekitar situ. Sementara itu tukang foto di halaman Imperial Palace sudah dia undurkan waktunya. Orang Jepang memang sangat patuh dan disiplin soal waktu. Acara sholat jumat ini memang agak terlambat disampaikan ke Andre dan tidak tahu kalau selesainya jam 13:30. Andrepun keluar gedung dan bersama teman teman non muslim ngobrol dihalaman pinggir jalan yang rindang dan nyaman sambil berfoto foto. Beberapa orang mengeluarkan snack. Maaf ya teman teman non muslim. Makan siang kalian jadi terlambat.

Saya perhatikan bahwa di sekitar gedung, ada sekitar 5 – 6 orang yang sedang duduk duduk santai kebanyakan orang tua. Ternyata mereka sedang menggambar dan melukis. Saya perhatikan bahwa mereka sangat tertarik dengan bentuk gedung, menara dan ornamen yang ada disekitar luaran gedung. Hmm… interesting. Unik juga ada nuansa timur tengah di tengah kota Tokyo.

Beberapa rombongan wanita sedang memborong cindera mata yang disajikan di lantai 1. Rame sekali !. Penjaga gedung sampai kewalahan. Bukannya segera sholat !.

Setelah ambil wudhu di lantai 1, Kami segera naik ke mesjid yang terletak di lantai 2. Akses kesana bisa dari dalam gedung, bisa dari luar. Beberapa orang berwajah timur tengah naik ke atas sini dari tangga bagian luar gedung.

Diatas, kami sampai di halaman cukup luas yang ukurannya sepertiga gedung. Di hadapan kami terbentang pintu mesjid yang cukup besar dengan ornamen timur tengah. Beberapa orang Jepang sedang ngobrol dan foto – foto. Mereka sepertinya mahasiswa. Yang wanitanya cantik cantik bercelana panjang dan baju berlengan panjang dan memakai kerudung !. Apakah mereka juga muslim ?.

Satu diantara pengunjung di halaman itu memberi salam. Ternyata dia mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah S3 jurusan teknologi. Dari atas gedung ini saya sempat melihat ke bawah ke bagian belakang gedung, ada sekitar 20 – 30 orang Jepang sedang duduk duduk di bawah pohon sambil menggambar / melukis menara mesjid. Kali ini mereka lebih muda dari yang didepan gedung tadi.

Begitu masuk ke dalam mesjid setelah melepas sepatu, kami menegur satu peserta wanita yang nyelonong sholat Zuhur di barisan paling depan. Biarpun sepi, hanya ada beberapa orang turki dan Jepang, tapi mereka pria semua. Untuk wanita sudah disediakan tempat sholat di balkon mesjid.

Beberapa wanita menuruni tangga balkon. Mereka ternyata wanita Jepang yang cantik cantik, memakai kerudung. Keluar mesjid lalu memakai sepatu dan berkumpul dengan rekan rekan lainnya yang ada diluar. Sebentar kemudian mereka turun. Hmmm, apakah mereka sekedar ‘turis lokal’ atau muslim ?.

Jam 12:30 Mesjid sudah ramai didatangi orang orang. Baru kali ini saya melihat mesjid yang dihadiri oleh manusia mancanegara !. Cukup banyak orang Jepang juga. Ada yang rapi kelimis berambut gondrong berjas seperti dirigen orkestra. Hmm, seniman barangkali. Banyak yang memakai jas. Mungkin jam istirahat kantor mereka sempatkan sholat jumat disini. Banyak juga orang Turki dan India/Pakistan Pakaian mereka biasa. Kemeja dan Celana panjang. Banyak juga orang Bule. Mereka bahkan lebih rapi. Ber Jas atau jaket kulit. TUa muda bahkan anak anak. Perawakan bagus seperti bintang filem. Ada juga para Negro. Ada yang bergaya Rapper, berrambut panjang kriwil kusut, ada yang kelimis botak berbadan besar seperti pemain basket.

Azan dimulai. Setelah itu semua sholat sunnat sebelum sholat Jumat. Kemudian Imam naik ke mimbar di depan yang letaknya ternyata tidak ditengah tengah tetapi agak ke pinggri dan letaknya tinggi sekali, hampir sampai ke langit langit. Setelah azan kedua dia lalu khotbah dalam 3 bahasa !. Arab, Jepang dan Inggris. ‘Contekan’khutbahnya sudah saya ambil terlebih dahulu di dekat pintu mesjid.

Sholat jumat selesai pas jam 13:30. On time banget !. Baru kali ini sholat jumat bersama orang orang berbagai bangsa. Beda dengan di Mekkah dimana mayoritas semua memakai jubah, disini hanya imam yang pakai jubah !. Lainnya berpakaian biasa. Memang, yang namanya Islam kan tidak perlu jadi orang Arab khan !. Islam itu untuk penduduk dunia !. Selama pakaian memenuhi syariat, bersih dan menutupi aurat, sah sah saja. Sedangkan bahasa arab yang digunakan itu untuk memurnikan pesan Tuhan agar tidak terselewengkan pada saat diterjemahkan kedalam berbagai bahasa.

Kami kemudian berkumpul lagi di bis besama teman teman yang sudah menunggu disana sambil sedikit ngomel kelaparan. Maaf ya teman teman.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

Tokyo Tour 2008 : Nostalgia Journey Day 1 – 2 Part 2

Mei 6, 2008 · 1 Komentar

(Sambungan)

Day 2: Gagal Cruising, naik ke Gunung Fuji !

Sambil ngantri sama turis turis mancanegara, kami berfoto foto. Tiba tiba ada pengumuman dari Andre bahwa tour Crusing naik Pirate boat di Danau Ashi ini batal karena cuaca kurang baik. Perjalanan yang rutenya hanya sekitar 30 menit tidak bisa dilakukan. Kabut tebal dan angin tidak menguntungkan buat turis bisa menikmati perjalanan. Yang ada rute yang lebih panjang. Tapi tidak mungin diambil. Karena trip selanjutnya ke Gunung Fuji bisa gagal.

Dalam perjalanan menuju puncak gunung Fuji, Andre mengajak kita sebentar ke daerah Hakone,ke Owakudani Hot Spring. Semacan tempat wisata air panas belerang di lereng Gunung Fuji. Namun dari tempat pemberhentian bus, peserta harus jalan kaki menanjaki lereng gunung sekitar 500 meter. Kebanyakan peserta lebih baik tinggal di toko kecil dekat parkir bus karena kabut cukup tebal, hujan dan udara sangat dingin.

Saya nekad naik dengan beberapa teman. Sedikit berlari sekalian memanaskan badan. Dan untuk yang kedua kalinya sejak 8 tahun yang lalu, saya sampai ke toko yang menjual Kurotamago. Telur ayam yang direbus dalam air panas belerang sehingga kulitnya menjadi berwarna hitam. Dengan memakan satu biji telur ini, katanya akan memanjangkan umur sampai 7 tahun. Wallahu alam.

Tidak banyak orang disini, dan saya tidak sanggup menaiki lereng lebih keatas karena kabut menutupi pemandangan. Nanti malah jatuh ke tebing. Saya ingat dahulu disekitar sini ada kuil kecil. Mungkin masih diatas lagi. Tapi yah sudahlah, kami turun kembali setelah berfoto foto karena tidak kuat lagi menahan dingin. Bus berangkat menuju Puncak gunung Fuji. Andre membagikan setiap peserta tour masing masing satu telur kurotamago.

Karena cuaca hujan, bis berhenti hanya di ketinggian 2.020m. Lebih rendah dibandingkan 8 tahun lalu sempat sampai di ketinggian 2.400m.

Tapiii, dinginnya minta ampun !. Dibawah 10 derajat celcius. Rasanya lebih dingin dari di kulkas. Cuaca agak kurang bersahabat. Angin kencang meniup niup mantel sampe celana ikut basah. Suasananya seperti di pemberhentian puncak pas. Semua turun tapi langsung kabur ke toko yang menyediakan alat penghangat. Tukang jualan jagung gak begitu laku. Abis mahal bangett !. 150 yen ! Jagung rebus termahal yang pernah kutemui.

Abis moto moto, lari ke toko manasin tangan, keluar lagi remes – remes sisa sisa salju, masuk toko lagi manasin tangan lagi, keluar lagi, jadi tukang poto temen temen, trus lari ke bus. Jari jari sudah kaku.







Day 2: Kon Ban wa! Dinner dengan Yukata !

Capeee. Bus brangkat. Saya ketiduran tau tau sudah sampe di Hotel. “Jiragonno Fuji No Yakata” namanya. Letaknya di tepi hutan Fujihokuroku. Seperti hutan pinus. Saya tanya tanya sama Andre, artinya kurang lebih ” Jiragonno Gunung Fuji yang baik” (Jiragonno sendiri adalah nama daerah situ). Hotelnya unik. Sebuah resort hotel berlantai 8 di kaki gunung fuji di pedesaaan. Penuh suasana tradisionil. Bagus. Bagus sekali. Dilantai satu disuguhkan pemandangan taman jepang. Andre mengumumkan bahwa sebentar lagi makan malam. Semua turun harus memakai Yukata. Semacam kimono. Setelah itu semua ditawarkan mandi ala jepang di pemandian air panas secara Massal.

Wuits !. Massal bo. Ogah ah. Bukan masalah malu ikut ‘pameran burung‘, tapi badan udah capee… mau langsung tidur.

Setelah dapat kunci kamar, saya naik ke lantai 7. Kamar hotel di Jepang itu terkenal sempit sempit. Gak seperti hotel hotel di Indonesia. Apalagi kamar mandinya. Wui, cuma bisa buat mandi berdiri sendirian.

(foto bersama Andre ‘Samo Hung’)

Dinner time tiba. Semua turun. Pake Yukata semua. Huhuy… . Kon Ban wa !. (Selamat malam) sapa pelayan restoran hotelnya. Kali ini makannya prasmanan. Ambil sendiri. Oleh Andre, beberapa hidangan dikasi secuil kertas : ‘Pork’. Untung ada cumi dan udangnya. Dimakan pake nasi dan Miso sup (sup tahu). Segeeer. Dinernya cocktail dan ice cream. … hmmm… ternyata masih ada saja peserta yang makan pake abon.

Setelah makan, rombongan berfoto – foto di lounge. Gaya bener !.

Setelah ngobrol, saya naik ke kamar karena sudah ngantuk. Diajak mandi air panas sama temen temen, makasih deh.

Dari jendela kamar hotel terlihat pemandangan hutan pinus jepang di malam hari. Sungguh indah. Dihiasi bunga sakura. Terdengar dibawah suara tertawa tawa. Disitu rupanya permandian air panas. Tempatnya terbuka. Dipagari bambu tinggi. Jadi dari lantai 7 pun gak kelihatan yang mandi didalamnya. Yang kelihatan cuma asap yang ngebul ngebul.

Malam itu cuma bisa mimpi mandi disitu seperti filem sinchan ato komik Detektif Conan.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,