Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Entries categorized as ‘Life’

Marriage: The Definitions

April 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Definition #1: It is when you accept to live with your lover and your children, accept their death, and let them accept your death. No one lives forever. So, do not love anything or anyone more than you love Allah.

Pernikahan alah ketika kamu menyetujui untuk hidup bersama kekasihmu dan anak anakmu, mengiklaskan kematian mereka dan membiarkan mereka ikhlaskan kematianmu. Tak ada yang hidup selamanya. Semua orang pasti mati. Jadi jangan meratapi kematian. Jangan mencintai benda atau orang lain melebihi cintamu kepada Allah SWT.

Definition #2: It is time to accept that you are not the centre of the world anymore. The attention is about them . Not you.

Kategori: Life
Ditandai: , , , , , , , ,

February 2009: Oh No, History Repeat Itself !

Februari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Miraculously I have got my ‘next destination‘ this month. A better change that I have put it in my wish list years ago. I cannot tell you the detail, because one and another reason that I will tell you later.

Why miracle ?,  first: because this wish has slipped out of my mind nowadays, second: it was given unexpextedly, and the third: History repeat itself !.

It is not a dejavu I think. It is just repeat. How can I tell you …

Once, God saved me from a situation where I did not agree with ‘project leader’ because if I continue, then my professional prediction:  it won’t be able to work and will result a major loss. But they insisted the project to go on and disobey the term & condition I gave.

I could not go that way. I did not want to be a part of  the cause. Then God saved me. I was picked and put on a new place a new destination. A year later, after putting in two other project manager, they close the project and report some loss. OMG !.

Today, the History repeated !. Again – I found some leak in a plan and have report it that there will be a greater loss when we dont make an anticipation action soon. But it was t rejected and the plan still continue that way. What a shame !. Even everybody agree to the analisys but nobody dare to tell the truth to the ‘project leader’. They said ‘we’ll wait until last year and see how it happen’.

Now you know why they called me ‘Alien’. I am the one that speak.

If Napoleon said : “courage is like love. it must have hope for mounishment’, then I said : ‘courages come from love. They appear because you love‘. And the one have love is the one that live a life. Means that other not live. Die. But life. Zombies. Yes. Again….

It is better to be an Alien than a Zombie. Alien has love.

This time God pick me again and put me in a save and beautiful place.

I can only hope and pray, that my analisys is wrong and I am the stupid one. And I do not want to the history to repeat : my worries proven, which more people will suffer the damage.

Kategori: Life · Miracle Story · Uncategorized
Ditandai: , , , , , , ,

Antara Facebook dan Para Narsis Sejati Kelas Dunia

Desember 7, 2008 · & Komentar

fidel_castro1Saya tadinya hanya kenal 3 orang narsis didunia ini. Yang pertama adalah Fidel Castro (Fidel Alejandro Castro Ruz, lahir 13 Agustus 1926), seorang pemimpin dunia yang luar biasa. Dalam masa kepemimpinan yang sangat panjang ( 32 tahun, sejak 1976  hingga 2008), beliau tidak pernah memberikan kepercayaan kepada siapapun. Setiap kebijakan selalu berasal dari dirinya sendiri, sangat jarang menerima pendapat orang lain bahkan dari orang orang terdekatnya. Dia berani melawan Amerika dan Uni Sovyet yang begitu digdaya, dan berhasil !.  Tidak ada seseorang yang begitu percaya diri melawan yang jauh lebih besar dari dirinya selain seorang narsis.

raden_sYang kedua adalah Raden Saleh (Raden Saleh Sjarief Boestaman, lahir di Semarang, 23 April 1880), seorang seniman pelukis Indonesia yang luar biasa. Kenarsisannya menghasilkan lukisan yang begitu indah dan menjadikannya pelukis terkenal di dunia. Lihat saja pada lukisannya ‘Penangkapan Diponegoro’, minimal ada 5 orang dirinya hadir dalam lukisan tersebut. Dirinya juga pernah memenangkan sebuah lomba melukis di Belanda. Padahal beliau hadir sangat terlambat. Dalam detik detik terakhir sisa waktu yang disediakan panitia, beliau melukis dan memenangkan perlombaan mengalahkan para pelukis lainnya. Padahal yang digambar hanyalah sebuah lingkaran dan sebuah titik. Para juri memenangkan lukisan Raden Saleh tersebut karena lingkaran dan titik itu sangat sempurna. Dan kesempurnaan itu hanya bisa dihasilkan oleh seorang yang punya rasa percaya diri luar biasa alias narsis.

raden-saleh-diponegoroDalam kesempatan lain, Raden Saleh diperlihatkan oleh Para pelukis muda, lukisan bunga buatan mereka yang sangat mirip aslinya. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.

Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka ke rumahnya dan pintu rumahnya terkunci dari dalam. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka saling jerit. “Mayat Raden Saleh” terkapar di lantai berlumuran darah. Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. “Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia“, ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun kemudian pergi.

Dan siapa yang ketiga ?. Tentu saja dia seorang (baca: saya sendiri, lahir di Jakarta, 40 tahun yang lalu). Bagaimana tidak, sungguh sulit bagi seseorang untuk bisa tampil berbeda dilingkungannya kalau dia tidak punya percaya diri yang tinggi. Dia (baca : saya) adalah non-smoker diantara smoker, dia berani bilang tidak kepada atasan sementara yang lainnya tidak berani, dia berani tampil sendiri mengemukakan perubahan sementara lainnya memposisikan diri anti kepada anti-kemapanan, Disaat perusahaan menuntut kompetensi pegawai, dia berusaha merubah dirinya menjadi seorang Marketing sendirian sementara lainnya berusaha menjadi Ahli Asuransi, dia berani menjadi tidak seperti orang kebanyakan (unik) sementara yang lain berusaha menjadi generik. Dia memang narsis.

Tapi sekarang saya mulai sadar bahwa ternyata lebih banyak lagi orang narsis di dunia ini. Ketika saya bergabung ke Facebook beberapa minggu yang lalu, menajamkan kenarsisan, dan berhasil mengumpulkan teman teman yang terserak, saya melihat gejala kenarsisan ada dimana mana. Para narsisis memposting foto foto mereka dengan rasa percaya diri. Ada yang rame rame menempelkan pipi lalu memonyong-monyongkan bibirnya, ada yang meniru pose artis, ada yang menampilkan dirinya begitu charming dengan jas dan dasi, dan yang membuat saya takjub, ada yang tampil hanya pakai celana pendek sambil sedikit nungging.  MasyaAllah…

Memang benar ternyata kata orang, fenomena Facebook salah satunya adalah memunculkan kenarsisan pada diri seseorang. Lhaa.., kalau ternyata begitu banyak orang narsis didunia ini, apakah saya harus berubah menjadi tidak narsis ya (supaya tetap unik ) ?.

©Papario, Idul Adha, 8 Desember 2008

 

Sumber tulisan: insiprasi saya sendiri, wikipedia (Raden Saleh dan Fidel Castro) dan beberapa referensi lain, termasuk penjelasan tour guide dari Musium Fatahillah.

Kategori: Life
Ditandai: , , , , , , , , , ,

Mencapai Puncak

November 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Peringatan hari kemerdekaan Negeri Binatang berlangsung meriah dengan berbagai perlombaan. Salah satu acara yang menarik adalah panjat pinang untuk para Tokek. Aturannya sederhana, tokek yang dapat mencapai puncak pinang lebih dahulu, akan menjadi pemenangnya. Hadiahnya adalah sebuah Rumah Tokek.

Ketika juri memberikan aba aba tanda perlombaan dimulai, maka para tokek langsung berebut naik. Baru bebeberapa menit, sudah beberapa tokek jatuh. Penonton mulai histeris melihat perjuangan para tokek  yang bersusah payah mencapai puncak. Ada yang memberi semangat, namun banyak juga yang mencerca dan sok mengatur.

Beberapa waktu berlalu, para tokek yang tergelincir pun sudah banyak. Tinggal enam tokek yang sedang berjuang menuju puncak. Anehnya, penonton bukannya semakin memotivasi melainkanmemberi tahu bahwa sudah tidak mungkin mencapai puncak. “Sudahlah, tidak mungkin sampai, puncaknya terlalu tinggi buah seekor tokek, turun saja”.

Yang lain mengatakan, “Jangan gara gara hadiah tak seberapa kau korbankan dirimu”.

Bahkan tokek senior yang tidak ikut main berkomentar, “Zaman dulu saya tidak se-ngotot ini, yang penting semua bisa jalan sudah bagus”

Para petinggi Negeri Binatang mulai kut bersuara, “Sudahlah Tokek, perlombaan ini hanya untuk bersenang senang, turunlah, tak perlu serius, tidak mungkin kamu bisa mencapai puncak, kalau jatuh kamu bisa mati nanti !”

Mendengar teriakan – teriakan itu, beberapa tokek mulai melorot dan tereliminasi satu persatu. Namun perlombaan belum selesai, masih ada satu tokek yang terus merangkak naik, perlahan tapi pasti. Penonton semakin mencemooh bahwa tidak mungkin mencapai puncak.

Seekor tokek yang kaya raya malah berteriak, “Hei, tokek, turunlah !, kalau demi rumah itu kamu berani berkorban dengan cara yang tidak mungkin, kau pakailah rumahku yang besar, sebab semakin tinggi kau merangkak, semakain besar risikomu jatuh”

Namun, semua kata kata itu tidak digubris si Tokek yang terus merayap anik perlahan. Hingga malam tiba, semua penonton mulai terdiam. Mereka melihat tokek itu konstan melangkah dan akhirnya …. Mencapai puncak.

Gegap gempita dan sorak sorai penonton pun meledahk melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin. Bahkan rekan rekan yang sudah tereliminasi pun ikut menagis terharu. Setelah diturunkan dengan tali khusus, beberapa penonton dan petinggi Negeri Binatang berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan sang tokek bisa mencapai puncak dan meraih hadiah rumah yang layak. Betapa kagetnya mereka, setelah diperiksa ternyata si tokek pemenang itu ternyata tidak bisa mendengar alias tuli bin budeg.

Ini adalah satu sebuah cerita yang saya kutip atas seijin penulisnya ( Terimakasih Pak Parlindungan Marpaung !) dari buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong’. Ceritanya membantu memotivasi setiap orang untuk dapat berprestasi tanpa pedulu pendapat miring orang lain. Cerita ini pula yang memotivasi saya menciptakan ‘Tomorrow Newspaper Today’ ( http://papario.wordpress.com ). Hasilnya, selain banyak cemoohan, tetapi juga banyak pujian. Perbedaan pendapat tidak menghalangi kita untuk menjadi seseorang yang berbeda. At least, kita telah mencoba berbuat sesuatu yang baik.

Mungkin, cemoohan seperti ini pula yang didapat para pendahulu kita yang dulu mencoba terbang, mencoba membuat kendaraan tanpa ditarik kuda, mencoba menyelam, mencoba terbang ke bulan. Maka yang merubah dunia menjadi lebih baik, adalah mereka yang memiliki semangat yang kuat dan kekuatan hati menghadapi isu negatif yang menurunkan semangat.

Kategori: Leadership · Life · buku
Ditandai: , , , , , , , , , ,

Telinga Ibu

November 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dikisahkan, seorang ibu yang baru melahirkan sangat terkejut ketika melihat bayi laki-laki yang baru dilahirkanya tidak mempunyai daun telinga. Untunglah, bayi itu masih memiliki fungsi pendengaran yang sempurna. Tidak ada yang dapat dilakukan orangtua bayi selain menerima takdir bahwa anak mereka yang pertama tidak memiliki kedua daun telinganya.

Hari berganti hari, waktu terus  bergulir sianak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang mampu bergaul dengan teman-teman sebayanya. Pelajaran di sekolahpun tidak menjadi masalah untuk diikutinya. Namun satu hal yang mengganggu adalah sindiran teman-temannya yang mengatakan bahwa dia manusia planet, ada lagi yang mengatakan dia adalah titisan dewa langit karena tidak bertelinga, bahkan ada yang melecehkanya supaya nanti besar bekerja di star trek saja. Sindiran-sindiran itu jelas menyakitkan hatinya. Tidak jarang dia pulang kerumah dalam keadaan menangis dan masuk dalam pelukan ibunya. Sang ibu dengan ketabahan yang luar biasa terus memotivasi si anak untuk mengembangkan potensinya dan meraih prestasi yang gemilang hingga duduk di bangku perguruan tinggi.

Hingga suatu kali, seorang dokter yang dikenal oleh keluarga itu mengatakan bahwa si anak yang sudah tumbuh dewasa ini dapat menerima cangkok daun telinga, dan cangkokan itu sudah ada disimpan beberapa waktu lamanya dari seorang donor. Mendengar berita itu giranglah hati sang anak, meskipun menyisakan pertanyaan siapa yang telah mendonorkan telinga untuknya. Operasi berjalan lancar dan suatu perubahan dalam diri anak terjadi, rasa percaya dirinya semakin meningkat seiring dengan prestasi yang diraih. Hal ini sekaligus mempercepat penyelesaian studi dan pencarian kerja.

Setelah ia menyelesaikan studi dan bekerja sebagai diplomat serta membangun keluarga yang dikaruniai 2 orang anak, ternyata rasa penasaran tentang siapa pemberi daun telinga belum terjawab. Sang ayah yang ditanyakan selalu menjawab “Suatu saat kau akan tahu, nak !”.

Hingga tibalah saat yang menyedihkan menimpa keluarga ini, sang ibunda tercinta meninggal dunia karena sakit. Saat akan memberikan ciuman terakhir pada jasad si ibu, sia anak terkesima ketika menyibakkan rambut ibunya. Ternyata ibunya tidak memiliki telinga. Teka teki yang selama ini mengganjal dalam batinnya terjawab sudah. Pantaslah selama bertahun tahun sang ibu selalu berkata bahwa ia lebih suka memanjangkan rambutnya. Rupanya ia tak ingin si anak tahu jika donor daun telinga itu adalah ibunya sendiri.

Disajikan atas seijin pak Parlindungan Marpaung, penulis buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong. (Terimakasih Pak Parlin !).

Cerita ini adalah salah satu favorit anak anak saya. Maklum, sampai saat ini mereka masih suka minta di ceritakan sebuah cerita sebelum tidur.

Moral cerita ?. Rasanya tak perlu dijelaskan panjang lebar bahwa kasih ibu sepanjang jalan dan tidak terbatas pada segala sesuatu. Cintailah dan sayangilah ibumu karena beliau akan selalu memberikan segenap jiwa dan raganya untuk anak anaknya.

Kategori: Life · buku
Ditandai: , , , , , , , ,

Peter Pan Syndrome

Oktober 16, 2008 · & Komentar

Bagian Satu: Definisi

Saya teringat satu artikel di majalah Femina lama yang saya sudah lupa edisi kapan namun ketemu cuman satu potong halaman, sebuah tulisan dari TINA SAVITRI dan Ira Puspitowati tentang Peter Pan Syndrome.

Ira menulis, Peter Pan Syndrome adalah sindrom Pria yang ‘menolak’ menjadi dewasa. Saya cuplik artikelnya sebagai berikut :

….Setiap manusia memiliki tahapan dan tututan perkembangan dalam hidupnya. Batita dituntut belajar berjalan dan berkomunikasi, remaja dituntut belajar dan bersosialisasi, dewasa dituntut untuk hidup mandiri, berkeluarga, dsb. Pria dan wanita biasanya memiliki tuntutan yang berbeda karena pola asuh keluarga dan lingkungan.

Ada yang lancar melewati setiap tahapan tersbut ada yang tertatih tatih. Bila seoprang pria terus bersikap kekanak kanakan, maka dapat dikatakan dia mengidap sindrom Peter Pan. Pria semacam ini umumnya cenderung tidak bertanggung jawab, sulit berkomitmen, senang menentang norma / aturan, mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi, cenderung manipulatif, selain itu juga cenderung narsis (terlalu mencintai diri sendiri).

Belum ada catatan ilmiah tentang ini dalam ilmu psikologi klinis setidaknya dalam kitab ‘Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder‘ edisi terbaru. Nama Peter Pan dipakai mungkin karena ia memang ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Namun Ira menambahkan, dalam ilmu psikoanalisa, Carl Gustav Jung (tokoh psikoanalisa) pernah mengungkapkan konsep ‘The Eternal Youth’ atau ‘Puer Aertemus’ yang mirip Peter Pan Syndrome.

Jung menganggap ’surga masa kecil’ memiliki kesan teramat mendalam terhadap alam tidak sadar seorang Individu, sehingga setelah dewasa pun dia selalu berusaha mempertahankan surga tersebut dalam hubungannya dengan orang lain dan menjadi ‘gangguan’ buat lingkunnya.

Sejauh ini yang menjadi kambing hitam adalah pola asuh yang salah semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu membelanya. Orang tua yang terlalu melindungi anaknya selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak.

Namun Tina menyampaikan bahwa bila kita analisa cara cara wanita memperlakukan pria,  pria seperti ini juga berasal dari para wanita. Secara natural wanita dianugrahi sifat senang merawat, memelihara, memperhatikan, khususnya pada orang orang yang dicintai, dan sangat menikmati peran itu. Perlakuan ini membuat sang pria menjadi manja dan kekanak-kanakan. Sang pria menemukan figur yang nyaman pengganti ibu.

Kalau suami jatuh sakit, sang istri biasanya akan memanjakan lebih dari biasanya. Minta makanan ini dituruti, minta dipijat dilayani, dan sebagainya. Menyadari hal ini, pria menjadi tricky, dikepalanya akan timbul, bila ia sedang sakit, maka ia boleh bersikap manja.

Namun begitu, umumnya pria hanya mau memperlihatkan sisi sisi lemahnya kepada orang orang yang selama ini membuat dirinya merasa nyaman. Hal ini adalah normal dan dihadapi saja dengan santai. Bukankah perkawinan memang ajang untuk bertoleransi ?. Kecuali jika berlebihan, bersifat menetap, dan ‘menganggu’ atau ‘menyiksa’ orang lain maka layak dikategorikan ‘orang sakit’ dan dapat dikategorikan mengidap ‘Peter Pan Syndrome’.

Bagian dua : Tentang Saya

Melihat foto diatas, boleh saja diambil kesimpulan bahwa saya cenderung punya sindrom tersebut. Saya gak nyangkal, karena gejala gejala dalam bagian satu diatas ternyata saya punya. Salah satu contohnya, ya foto diatas.

Beberapa gejala lain adalah kesukaan saya baca komik, main video game sendiri maupun bersama anak – anak. Tapi komunitas gamer sangat banyak anggotanya bahkan usia 30 keatas. Apakah sindrom ini memang sebuah fenomena alam ?. heheheheh….

Bagian Tiga: Help me.

Satu lagi, saya punya saudara dekat menderita sindrom ini sangat akut. Tapi wanita. Usia sudah diatas 25 tahun, tubuhnya normal, namun jiwanya betul betul masih anak usia 7 tahun !. Ada yang bisa bantu menjelaskan fenomena ini ?.

Bagian Empat: Most Japanese have this syndrome ?

Jepang adalah negara yang hampir seluruh mereka suka akan komik, game, robot, tokoh komik / game. Sampai sekarang mereka gandrung jadi Cosplay. Apakah ini juga kecenderungan massal akan Peter Pan Syndrome ?. Bwehehehehhh…….

Kategori: Diary · Life · psikologi · sains
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

Mr. Complaint

Oktober 4, 2008 · & Komentar

Istri saya memanggil saya Mr. Complaint. Gak usah tanya kenapa, saya mengakuinya. Setiap apa saja yang menurut saya gak bener ato salah, selalu komplen. Apa aja sih yang saya komplenin ?, hmmm, coba baca ini. Saya selalu ngoceh / komplen apabila :

1. Ada orang bodoh bawa mobil gak ngasih sen kalo mau pindah jalur ke kiri ato ke kanan. SIM nya nembak ya ?.

2. Ada orang bodoh bawa anak anak berjalan di pinggir jalan, tetapi anaknya malah berada pada posisi ke jalan dan orang tua yang membawa malah di posisi ke pinggir. Kemana otaknya ?

3. Ada orang bodoh jalan kaki gak di trotoar padahal kosong sehingga ngalangin jalan mobil. Lha, orang Jakarta emang udah gak kenal trotoar lagi yak ?.

4. Ada pedagang bakso bodoh yang ngasih micin terlalu banyak. Mo ngracunin konsumennya apa ?

5. Ada orang super bodoh mengendara mobil sambil ber hape ria di satu tangannya. Sudah 3 kali sedan saya diserempet dan di tabrak dari belakang oleh pengendara mobil seperti itu. Satu diserempet Kijang hitam di dekat Pasaraya Manggarai tapi dia trus ngloyor pergi, satu disruduk dari belakang sama tante – tante lagi ngantri di pintu tol keluar Jati Bening, gak minta maaf, terakhir disruduk APV di kemang, gak minta maaf. Udah bodoh, gak tau yang namanya wireless atau head set / hand set – arogan lagi !.

6. Ada pengedara sepeda motor bodoh ber hape ria di jalur cepat. Di tan- tin – tan – tin baru minggir. Membahayakan diri sendiri.

7. Ada tukang bajaj bodoh bawa bajaj-nya nyante jalan di tengah tengah jalur antara jalur lambat dan jalur cepat. Woooi !, emangnya jalan milik nenek moyangmu apa ?.

8.  Ada orang parkir mobil di parkiran basement Mall, tapi mesin dibiarin nyala terus, sopirnya tidur didalamnya. Ini dia nih yang bertanggung jawab atas keracunannya orang orang Mall sampe muntah muntah. Woi, bensin itu mahal !, dasar orang mubazir !. Pengelola parkir juga tidak tegas sih !.

9. Dimintai uang parkir sama tukang parkir liar di dalam parkir Senayan padahal sudah bayar di pintu gerbang masuk. Gak abis pikir, lokasi untuk event Internasional masih tidak mampu diselenggarakan dengan tertib. Kok masih ada ya keliaran disitu. Gak abis pikir. Gak betah ke senayan. Kapan Indonesia bisa maju ?.

10. Ditarik tarik calo taksi di Soekarno Hatta. Gak abis pikir. Bandara Internasional kok ya gak bisa menertibkan hal sederhana macam begini. KAPAN INDONESIA BISA MAJU !. Malu aku.

Bah, cape komplen. But if you agree with me, join me.

Kategori: Diary · Life
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

What Is Inside Me

Juni 6, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

What is inside me ?:

A naughty little monkey that is always wants to get out of its cage to ruin the world…..but…there is also a Monk wants to save the world with his wisdom.

So much power, electricity, storm, heat, need to be free, to enlight, to beat the world…..but….. there is also a introvertion, shame speechless little kid sitting clear in the corner.

Kategori: Life
Ditandai: ,

Impact of Changes

Juni 6, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Just another day living in changes.

Kalau kita mengajukan sebuah ide, bisa diterima bisa tidak. Bisa berjalan dengan lancar dan berhasil, bisa gagal, bisa juga hasilnya setengah setengah. Nah kalau diterima trus gagal, itu yang paling menyedihkan. Apalagi kalau gagalnya karena kurangnya dukungan.

Kadang kadang kita harus bisa menghibur diri. Paling tidak, dalam keisengan melamuni kegagalan, kita bisa menemukan sesuatu, yaitu ‘ukuran’ dampak dari perubahan. Semakin besar angkanya berarti tingkat keberhasilan semakin tinggi.

Impact of Changes:
Level 1: Belum terlihat dampak perubahannya.
- Paling tidak ‘there is something to busy about‘.
- Better than boring constant activity.

Level 2: Ada sedikit perubahan.
- Paling tidak ‘there is something to ‘goal’ about.
- Some problem solved.
- Hope is good.

Level 3: Terjadi perubahan yang positif sesuai goal.
- Better, Bigger, Faster !

Kategori: Life
Ditandai: , , , , ,

Look Who’s Talking (part 3: System or Person ?)

April 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kemarin sewaktu nungguin anak saya test masuk SMP, ngobrol sama salah satu ortu anak yang lagi tes juga disitu. Dia seorang analis sistem. Cukup banyak yang dia ceritakan mengenai pekerjaanya. Tapi saya gak bilang kalau saya adalah PENSIUNAN SYSTEM ANALYST dan SYSTEM DESIGNER.

Dia menceritakan kesulitannya dalam menerapkan sebuah perubahan sistem. Memang betul bagi seorang disainer sistem, perubahan itu adalah IMPROVEMENT yang membuat segalanya jadi lebih baik. Tapi tolakan dari anggota kelompoknya sangat tinggi. Menurut dia manusia Indonesia itu sangat resisten terhadap perubahan. Kalo sudah punya sepeda gak mau dikasi motor, kalo sudah punya motor gak mau dikasi mobil. Bodoh !. Cinta pada kemapanan.

Saya bilang gak usah heran pak kalau tahu alasannya. Saya juga pernah mengalaminya. Salah satu sebab resistensi itu adalah karena kalau sistem itu diadaptasi, maka ada rejeki orang yang akan hilang !.

Sistem yang efektif dan efisien bagi perusahaan akan merugikan sebagian karyawan. Karena ketidakefisienan tersebut sebenarnya akibat masuknya biaya biaya yang tidak perlu ke kantor – kantong pribadi.

Perusahaan kita itu juga seperti Indonesia mini. Para petinggi kita selalu bilang ayo kita ikuti sistem, ayo perbaiki sistem !. Tapi sistem itu tidak berlaku buat mereka.

Saya pernah mengkaji beberapa sistem komputer perusahan perusahaan Asuransi di Indonesia. Seluruh perusahaan Joint Venture (JV) sudah menggunakan sistem yang diwajibkan dari Principalnya di luar negeri. Sedangkan perusahaan lokal, cenderung self develop atau beli dari pengembang lokal, atau joint development dengan pengembang lokal. Sistem besar yang dimiliki JV yang berharga muahalll itu, ternyata bagus dan lengkap. Tapi ternyata gak bisa diimplementasikan di perusahaan lokal. Kenapa begitu ?.

Ternyata sebabnya ada di masalah perbedaan budaya. Para bule itu (katanya) mahluk yang patuh pada sistem yang sudah dibuat mereka sendiri tanpa terkecuali mulai dari para petinggi sampai jongosnya.

Sedangkan manusia Indonesia itu mahluk yang sangat tidak patuh pada sistem. Sehingga terkenallah kalimat – Peraturan itu dibuat untuk dilanggar.

Jadi kepemimpinan di Indonesia itu atau di perusahaan anda ( lokal) lebih pada kepemimpinan yang mengacu pada kebijakan personal dan bukan pada sistem.
Makanya sistem komputerisasi yang bagus gak akan bisa cocok. Manajemen akan minta rubah sana – rubah sini, part ini saja – yang itu gak perlu…..

Sistem itu akan terpakai bila semua orang didalam sistem patuh.

Look who’s talking. Begitulah manajemen orang Indonesia (kebanyakan. Saya gak men judge semua begitu lo !).

(c)Papario

Kategori: Leadership · Life
Ditandai: , , , , , , , ,