Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Entries categorized as ‘Leadership’

March 2009: The Survivors (Part 2)

Maret 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sekali lagi, tulisan Eileen Rachman dan Syilvana Savitri di Kompas Sabtu 7 Maret 2009 tersebut sangat dibutuhkan untuk kondisi krisis seperti saat ini, yang terasa begitu berat bagi para pegawai.

Saya baru saja di ‘sentil’ ketika baru baru ini dipindahkan untuk memimpin sebuah unit bisnis yang pernah saya idam idamkan. Satu minggu kemudian saya mengajukan sebuah visi dalam rencana kerja 5 tahun. Dalam proposal saya sebutkan bahwa unit bisnis yang sudah berusia 5 tahun ini adalah sebuah unit bisnis masa depan, dimana bisnis lain akan menjadi seperti ini. Saya merencakan untuk memperbaiki segala bidang mulai dari organisasi, SDM, pelayanan  hingga teknologi, dan dalam tempo 3 hingga 5 tahun, unit bisnis ini siap untuk memisahkan diri dari induk  alias ‘spin off’.

Saya mengajukan usulan ini dalam rangka kewajiban saya sebagai kepala unit bisnis, saya harus membuat sebuah rencana kerja, sebuah visi, sebuah arahan, sebuah motivasi bagi apara pegawai di unit kerja saya. Saya harus membuat unit bisnis ini dari besi menjadi emas berlian yang berkilau.

Seperti biasa, sebagian orang yang mendengar usulan saya, perlu waktu lama untuk memikirkan. Yang lain tertawa dan secara halus mengatakan ‘ apa yang kamu ajukan itu bagus, tapi apakah kamu tidak lihat bagaimana kita sekarang ?… nyawa perusahaan kita sudah diujung tanduk.  Dalam dua – tiga bulan perusahaan ini  barangkali sudah akan tutup’.

Sekali lagi julukan saya disebut – sebut : ‘Alien’. Satu hal yang mereka tidak pernah sadar, saya selalu ingat dan selalu mengikuti prinsip yang diajarkan dalam agama ‘Beribadahlah dan berbuat baiklah kamu seakan akan kamu akan mati esok hari, dan bekerjalah kamu seakan akan kamu akan hidup seribu tahun lagi’. Demikianlah. Mana kita tahu perusahaan ini akan mati dalam berapa lama ?. Apakah memang sudah pasti dalam dua bulan ?. Apa iya tidak ada alternatif jalan keluar lain ?, Apa iya sama sekali tidak ada yang menolong kita ?. Selama tidak ada yang bisa memberikan kepastian ,  saya harus menjalankan tugas saya: melindungi moral para  karyawan. Saya harus memberikan opsi yang terpahit pada mereka agar mereka siap, tetapi juga saya harus membangun semangat mereka supaya mereka tetap menjadi pegawai yang handal dan optimis.

Jadi, saya dan para pegawai saya siap kalau benar perusahaan ini akan tutup dalam 2 -3 bulan ini. Tetapi kami juga sudah siap untuk menghadapi alternatif masa depan yang lain, dimana Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk terus survive. Kami tetap akan bangun pagi dan beribadah walaupun kami tahu bahwa suatu saat dunia akan kiamat.

Jakarta, 8 Maret 2009

Kategori: Faith · Leadership · Motivation
Ditandai: , , , , , , , , , , , , , ,

March 2009: The Survivors (Part 1)

Maret 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya kutip sebuah tulisan yang sangat menarik dari Eileen Rachman & Sylvina Safitri – EXPERD, One Day Assesment Centre, Kompas Klasika Sabtu 7 Maret 2009 halaman 37, sebagai berikut :

‘Memang kenyataan yang sudah lumrah bahwa investasi di human capital akan segera dianggap sebagai investasi yang mudah dipangkas. Dari pihak perusahaan, secara Law of Commerce ada kecenderungan menganggap karyawan sebagai beban. Dari pihak karyawan, meskipun ada yang optimis tak urung mencuat rasa was – was bahwa dialah yang dipilih untuk ‘dilepas’, entah karena gaji yang dianggap terlalu besar atau karena merasa bahwa produktifitasnya tidak terlalu nyata.

Dalam situasi ini, bersikap pasif sudah pasti salah.Namun, untuk bersikap proaktif juga tidak selalu selamanya dibenarkan. Proyek yang sedang berjalan dibekukan, sementara proyek baru ditunda. Anak buah berharap pada kita, sementara atasan juga tidak bisa memberikan kepastian. Sementara karyawan sadar bahwa gaji tidak bisa dinaikkan, biaya perlu ditekan dan semua orang dituntut bekerja ekstra keras untuk menyelamatkan perusahaan. Adakah sikap yang tepat menghadapi situasi ini ?.

Berpikir dan Bersikap sebagai ‘Survivor’. Sebagai partner di McKinsey, saat ditanya oleh seorang peserta ceramah mengenai kunci suksesnya merain jenjang bergengsi di konsultan ternama itu menjawab, “Bila ingin menjadi partner, bersikaplah sebagai partner.”. Nasihat itu sebetulnya bisa kita terapkan dalam situasi dimana kita tidak berada dalam posisi yang menentukan. Dalam krisis dan posisi terjepit, kita tidak perlu bersikap sebagai objek yang tidak berdaya, karena itu akan membuat diri kita benar – benar tidak berdaya.

Bersikap seolah olah kita memegang posisi yang menentukan atau berada dalam tim yang hebat akan sangat membantu produktifitas. Berpikir dan bersikap sebagai survivor membuat orang tidak sempat tenggelam dalam sikap pesimis. Tentu saja kewaspadaan, perlu ditingkatkan, namun bersikap ceria dan pede sangat dibutuhkan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang disekitar kita. Dalam keadaan sesulit apapun, orang tentu akan memilih berdekatan dengan yang optimis daripada yang belum – belum sudah lesu, bukan ?

Fokus ke Masa Depan. Berfokus ke masa depan ternyata menimbulkan ‘power’ tersendiri. Konon, para survivor atau kebanyakan yang kebanyakan bertahan di kamp konsentrasi Jerman adalah mereka yang tak putus harapan pada masa depan. Dalam pembahasan Mourning & Melancholia, Bapak Psikologi – Freud, juga mengatakan bahwa seseorang bisa keluar dari masa masa depresinya, hanya bila ia bisa melihat masa depan yang lebih cerah dan membayangkan masa depannya dengan jelas.

Dalam bisnis, berangan-angan mengenai masa depan bentuknya sedikit berbeda. Survivor dalam bisnis, perlu berantisipasi dengan memfokuskan pada kebutuhan pelanggan adalah satu satunya jalan keluar di masa sulit begini, karena tanpa pelanggan, perusahaan tidak bisa meneruskan bisnis.

Saat kondisi sulit begini, kita pun perlu sedikit menelan gengsi. Turun tangan langsung mengunjungi pelanggan yang selama ini didelegasikan ke anak buah, menunjukkan sikap kooperatif saat diharuskan bekerja di bawah komando kolega yang lebih junior karena adanya peleburan divisi, ataupun berdiri langsung sebagai frontliners untuk melayani langsung, malahan akan terlihat keren karena mengeksperesikan fleksibilitas dan kemampuan kita.

Ikatan Emosional. Inilah saatnya dimana kita betul – betul perlu mempraktekkan kemampuan berempati. Tantangan yang meningkat dan krisis kadang membuat banyak orang merasa dirinya paling susah sedunia, sehingga menutup mata untuk merasakan apa yang dirasakan oleh teman, bahkan atasannya. DI masa sulit begini, banyak pimpinan perusahaan yang merasa ‘lonely’, karena adanya hambatan bagi mereka untuk sharing perasaan dan kecemasannya pada anak buah. Hal ini bukan disebabkan karena kerahasiaan atau tuntutan perusahaan, tetapi lebih kepada lemahnya ikatan emosional antara pimpinan dengan bawahan, sehingga bawahan pun tidak ada yang mendekatkan diri dan menunjukkan ketulusan rasa empatinya terhadap kesulitan pimpinan.

Emotional Bonding, walaupun sudah ada dalam diri setiap individu, masih perlu juga dipelajari dan senantiasa di asah. Dengan kesamaan rasa terhadap krisis yang dihadapi, karyawan perusahaan bahkan bisa lebih kompak, merapatkan barisan untuk memperkuat kelompok dan merasakan kesatuan yang menginspirasi.

Terlihat, Terdepan. Di era elektronik, dimana orang mudah mengekspresikan dirinya di dunia cyber melalui twitter, facebook, dan media gaul lainnya, jangan sampai kita lupa bahwa ‘penampakan’ riil sangat berguna, bahkan tak tergantikan. Untuk membangun kredibilitas dan terlihat, tentu saja kita perlu hadir dan berpartisipasi lebih banyak. Seorang teman kerja kerap berujar, ‘kerjaan numpuk, dikejar deadline’, saat ditanyakan alasan mengapa ia sering absen. Bolak balik melontarkan excuse seperti ini tentu saja tidak mendatangkan simpati, bahkan bisa jadi orang malah mempertanyakan kemampuan kita untuk mengelola pekerjaan secara smart.

Merasa tidak jagoan juga bukan alasan bagi kita untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan olah raga. Kita bisa hadir for fun untuk meramaikan acara. Excuse bahwa kita lemah dan berpenyakit dalam acara outing misalnya, hanya menyebabkan orang berpikir bahwa kita memang lemah. Kita perlu mengupayakan agar kita menjadi corporate citizen yang utama. Bila bukan sebagaio pengurus, jadilah partisipan terdepan.’

Tulisan ini sangat cocok untuk masa masa sulit seperti sekarang ini. Mudah mudahan banyak orang bisa memahami dan tetap bersemangat menghadapi krisis dan bertanya cobaan yang merupakan kelanjutan dari krisis tahun lalu.


Kategori: Leadership · Motivation
Ditandai: , , , , , , , ,

Lost Direction

November 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Istilah yang aneh. Artinya apa ya ?. Tapi saya memang belum menemukan istilah yang tepat. Shock ?… hmmm, sedikit. Tapi gak juga. Heheh…

Puluhan tahun kerja di perusahan jasa, senang bisa menjadi bagian yang membuat perusahaan itu tumbuh dan berkembang pesat. Pulhan tahun ?. Yes, saya seorang pengabdi. Sebuah kenikmatan besar bagi saya bila hasil pemikiran dan pekerjaan saya menghasilkan sebuah perbaikan dan kemajuan.

Namun memang perjalanan hidup dalam pekerjaan tidak selalu mulus.  Ada saja hambatan dan kejadian kejadian yang membaut kita  kesal atau malah tertawa terbahak bahak. Tetapi itu semua adalah bumbu pembangkit semangat dan kekayaan pengalaman yang menempa kita serta menjadi pelajaran untuk masa berikutnya.

Kendala biasanya bentuknya generik atau malah unik. Generik itu misalnya masalah biaya, kemampuan SDM, timing, masalah infrastruktur, terbentur regulasi atau kepentingan pribadi dan lain lain. Yang unik juga ada, yang tidak biasa kita temukan di mana mana.

Nah, dari sekian banyak kejadian unik, dibawah ini kejadian kejadian yang paling unik. Yang membuat kita jadi ‘nano-nano’, mau menangis,  tertawa, terheran heran dan marah semua membaru jadi satu. Yang membuat kita jadi ‘Lost Direction’ alias kehilangan arah. Seperti sepercik air yang jatuh diatas batu lalu pecah berantakan….

Beberapa peristiwa yang membuat saya jadi kehilangan arah, diantaranya :

  1. Saya ditugaskan manajemen untuk membentuk konsep dan menjalankan unit kerja Pelayanan Nasabah. Dari hasil survey kepuasan nasabah ternyata proyek ini menjadi ‘urgent’. Setelah belajar kemana mana dalam waktu yang tidak lama, mengumpulkan pembanding, meminta dukungan divisi lain, mengetes seberapa besar ‘penolakan’, menetapkan konsep. Konsep diajukan. Dan BYAAR !. Sang manajemen mengatakan bahwa perusahaan tidak perlu Konsep baru dan Unit Kerja Pelayanan Nasabah. Karena semua pegawai adalah pelayanan nasabah. GUBRAAAK !.
    (Padahal jika 8 dari 10 perusahaan jasa punya unit kerja pelayanan nasabah, maka kita ada salah satu dari 2 sisanya)….
  2. Setelah dijitak bos karena saya mengatakan kita belum ‘True Marketing’, saya tetap menyusun konsep yang diambil dari teori – teori Kottler dan Markplus. Konsep diajukan ‘this is what marketing should do’….. Lalu manajemen berkata bahwa Marketing Plan ini terlalu luas. Ini adalah long term plan yang teoritis. Bagaimana dengan penjualan di tempat anda ?. GUBRAAAAAK (lagi) !.  Again, kok masih ada yang belum bisa membedakan Selling dan Marketing.
    (Susah banget ya ketemu orang yang Visioner . Padahal ketika semua orang di perusahaan bertanya ‘kita mau kemana’, pemasaran sudah mengajukan konsep ‘kita kesana dengan begini caranya’).
  3. Salah satu fungsi utama Marketing adalah meningkatkan value perusahaan. Bagaimana posisinya dalam industri. Ketika kita mencoba memposisikan kembali misalnya dengan mencoba meraup ‘kue’ lebih banyak dalam industri, tentu saja agar perusahaan tidak tenggelam (fade) dalam perubahan – perubahan yang terjadi. Kami kemudian mencoba mengusulkan sebuah peningkatan dengan sedikit perubahan. Proposal ini adalah proposal rutin setiap ahir tahun. Dengan sedikit deg degan karena pertumbuhan yang kami usulkan tidak besar. Takutnya dinilai terlalu kecil.
    Gubraakk KROMPYAANG… !… Sang Manajemen mengatakan pertumbuhan terlalu besar dan tidak mungkin dicapai.
    (‘OMG, are we flying to high so that everybody cannot see what we see ?. Dont they know there is a warning behing the change ?’ ).

Tentu saja hal ini sudah lama lewat dan berlalu. Pengalaman yang sangat berharga. Mungkin ini masih lanjutan dari tulisan mengenai Look Who’s Talking. Bahwa sebuah gagasan diterima atau tidak tergantung SIAPA YANG MENYAMPAIKAN.

Ya, Allah ya Tuhanku. Ampunilah aku. Jauhi aku dari kesombongan.
Aku memang manusia yang penuh kekurangan. Tunjukilah aku mana yang baik dan mana yang buruk. Dan hindarilah aku dari keburukan yangmenjerumuskan aku kedalam kesesatan.
Amin.

@papario
Jakarta, 27 Nov 2008

edited: 28 Nov 2008 ( ditambahkan dengan do’a )

Mengenai Look Who’s Talking ada disini :

Look Who’s Talking Part 1: Kunci Keberuntungan

Look Who’s Talking Part 2: Kerendahan Hati

Look Who’s Talking Part 3: System Or Person

Kategori: Leadership · Marketing · Motivation
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,

Mencapai Puncak

November 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Peringatan hari kemerdekaan Negeri Binatang berlangsung meriah dengan berbagai perlombaan. Salah satu acara yang menarik adalah panjat pinang untuk para Tokek. Aturannya sederhana, tokek yang dapat mencapai puncak pinang lebih dahulu, akan menjadi pemenangnya. Hadiahnya adalah sebuah Rumah Tokek.

Ketika juri memberikan aba aba tanda perlombaan dimulai, maka para tokek langsung berebut naik. Baru bebeberapa menit, sudah beberapa tokek jatuh. Penonton mulai histeris melihat perjuangan para tokek  yang bersusah payah mencapai puncak. Ada yang memberi semangat, namun banyak juga yang mencerca dan sok mengatur.

Beberapa waktu berlalu, para tokek yang tergelincir pun sudah banyak. Tinggal enam tokek yang sedang berjuang menuju puncak. Anehnya, penonton bukannya semakin memotivasi melainkanmemberi tahu bahwa sudah tidak mungkin mencapai puncak. “Sudahlah, tidak mungkin sampai, puncaknya terlalu tinggi buah seekor tokek, turun saja”.

Yang lain mengatakan, “Jangan gara gara hadiah tak seberapa kau korbankan dirimu”.

Bahkan tokek senior yang tidak ikut main berkomentar, “Zaman dulu saya tidak se-ngotot ini, yang penting semua bisa jalan sudah bagus”

Para petinggi Negeri Binatang mulai kut bersuara, “Sudahlah Tokek, perlombaan ini hanya untuk bersenang senang, turunlah, tak perlu serius, tidak mungkin kamu bisa mencapai puncak, kalau jatuh kamu bisa mati nanti !”

Mendengar teriakan – teriakan itu, beberapa tokek mulai melorot dan tereliminasi satu persatu. Namun perlombaan belum selesai, masih ada satu tokek yang terus merangkak naik, perlahan tapi pasti. Penonton semakin mencemooh bahwa tidak mungkin mencapai puncak.

Seekor tokek yang kaya raya malah berteriak, “Hei, tokek, turunlah !, kalau demi rumah itu kamu berani berkorban dengan cara yang tidak mungkin, kau pakailah rumahku yang besar, sebab semakin tinggi kau merangkak, semakain besar risikomu jatuh”

Namun, semua kata kata itu tidak digubris si Tokek yang terus merayap anik perlahan. Hingga malam tiba, semua penonton mulai terdiam. Mereka melihat tokek itu konstan melangkah dan akhirnya …. Mencapai puncak.

Gegap gempita dan sorak sorai penonton pun meledahk melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin. Bahkan rekan rekan yang sudah tereliminasi pun ikut menagis terharu. Setelah diturunkan dengan tali khusus, beberapa penonton dan petinggi Negeri Binatang berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan sang tokek bisa mencapai puncak dan meraih hadiah rumah yang layak. Betapa kagetnya mereka, setelah diperiksa ternyata si tokek pemenang itu ternyata tidak bisa mendengar alias tuli bin budeg.

Ini adalah satu sebuah cerita yang saya kutip atas seijin penulisnya ( Terimakasih Pak Parlindungan Marpaung !) dari buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong’. Ceritanya membantu memotivasi setiap orang untuk dapat berprestasi tanpa pedulu pendapat miring orang lain. Cerita ini pula yang memotivasi saya menciptakan ‘Tomorrow Newspaper Today’ ( http://papario.wordpress.com ). Hasilnya, selain banyak cemoohan, tetapi juga banyak pujian. Perbedaan pendapat tidak menghalangi kita untuk menjadi seseorang yang berbeda. At least, kita telah mencoba berbuat sesuatu yang baik.

Mungkin, cemoohan seperti ini pula yang didapat para pendahulu kita yang dulu mencoba terbang, mencoba membuat kendaraan tanpa ditarik kuda, mencoba menyelam, mencoba terbang ke bulan. Maka yang merubah dunia menjadi lebih baik, adalah mereka yang memiliki semangat yang kuat dan kekuatan hati menghadapi isu negatif yang menurunkan semangat.

Kategori: Leadership · Life · buku
Ditandai: , , , , , , , , , ,

The Next Great Negotiator – Gubraakkk !

Juli 11, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nah ini dia dua orang Negosiator yang paling ulung. Kecil kecil sudah pandai menawar nawar. Banyak sudah pengalaman tawar menawar yang mereka lakukan. Kalau dibuat CV mungkin sudah lebih 10 halaman.

Lihat itu wajah mereka. Pandangan Rio yang penuh akal dan keisengan. Sedangkan Priska, penuh rayuan yang menjatuhkan hati. Rio dan Priska. Nama mereka punya arti. Seperti nama Arab atau nama Indian.

[Their Photo Attached. If you can’t see them, it means they already ‘unattached’ it].

Rio. Male. Nama panjangnya dalam bahasa inggris punya arti :” Great River” atau Sungai yang besar. Mengapa sungai yang besar ?. Karena sungai yang besar adalah tempat dimulainya peradaban besar. Lihat saja : Mesir besar di pinggir sungai Nil, Bahkan Jakarta terkenal juga karena sungai Ciliwungnya !. Pokoknya, seperti sungai yang besar, mudah – mudahan bisa menjadi Raja yang pemurah, Pangeran yang penuh dengan sumber daya untuk membantu orang lain, dan sumber daya itu tidak pernah habis dan selalu harum namanya sepanjang masa (emangnya Ibu Kita Kartini !).

Priska. Female. Nama panjangnya dalam bahasa Inggris berarti : “Blessed Heavenly Flower” – Bunga surga yang diberkati. Bunga surga itu cantik dan harum. Apalagi yang diberkati. Mudah mudahan selalu bisa menjadi ratu yang bijaksana, permaisuri yang pemurah, putri yang pengasih.

Diluar harapan itu, both of them now known as The Negotiators. Coba saja, sejak kecil, kalau disuruh makan, nawar ‘Entar saja Ma !’, disuruh tidur jam 21:00, nawar jam 22:00, disuruh belajar, ‘Makan dulu ya Pa !’, Kalau diajak main sebentar, ‘Yaa… koq cuman sebentar !’. Si Priska yang sejak kecil ngemut jempol kalau mo tidur, selalu berjanji ‘Nanti kalau naik kelas ya Pa’. Dan janji itu cuma janji setiap tahun sejak TK.

Si Rio, apalagi. Sama guru ngaji, kalau diminta ngaji dua halaman, ditawar satu halaman saja. Disuruh ngaji satu halaman, nawar setengah halaman.

Dulu waktu disuruh tidur di kamar masing masing, gak boleh nyampur laki dan perempuan, mereka protes agak nawar: ‘Lantas, kenapa Papa dan Mama boleh tidur berdua ?, kenapa kami ga’ boleh ?’.

Sekarang pun masih begitu. Priska sampai saat ini naik kelas 4 SD. Dari dulu maunya ikut serta sekolah pesantren seperti keponakan saya di Solo. Lha, saya juga senang kalau dia jadi wanita yang memahami dan mengamalkan tentang kesolihah-an wanita muslim. Tapi saya yang gak tega ‘naro’ dia disana. Ketemunya setahun cuman 2 – 3 kali gitu !. Kalo dirumah kan bisa dicium, dipeluk , dicubit, digodain, diajak nyanyi, diajak brantem. Kan rame !. Kenaikan kelas kemaren dia nanya lagi. ‘Kapan aku bisa seperti Ina sekolah di pesantren ?’, kucari alasan: ‘ Lha, kamu masih ngemut jempol begitu gimana mau nginep sekamar sama teman teman ?. Apa gak malu ?’. Jawabannya sih kedengaran penuh harapan ‘Ya, iya deeh, nanti aku disana nggak ngemut jempol lagi’, ‘ wah, hatiku mulai senang dia mau gak ngemut jempol lagi. Tapi nyariss. Karena kalimat lengkapnya setelah dilanjutin jadi begini: ‘ Nanti aku usahakan supaya gak ketahuan. Kalau mereka sudah tidur baru aku ngemut jempoll…!’. GUBRAAAKK !.


(c)Papario, Juli 2008

Kategori: Diary · Kids · Leadership
Ditandai: , , ,

Being A Manager

Mei 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya sudah beberapa kali diangkat menjadi Manager di beberapa departemen. Mulai dari TI, Customer Service sampai Marketing. Banyak hal yang bisa kita pelajari, tapi ada satu hal yang menarik menjadi seorang Manager.

Menjadi Manager di satu Bagian tidak berarti kita hanya harus menguasai bidang di departemen itu, Misalnya TI. Kita memang perlu tahu perkembangan dunia TI, software, hardware, sistem operasi, jaringan dan lain lain. Tapi yang perlu diperhatikan bahwa kita sebenarnya juga menjadi Multi Manager, yaitu :

- Manager SDM. Sejak kita harus mengelola anak buah dibawah kita, otomatis kita juga menjadi Manager SDM di lingkungan departemen kita. Kita harus menjaga situasi kondusif, ktia harus memperhatikan kebutuhan dan goal masing – masing personal, kita harus menilai, menghukum dan mempromosikan anak buah kita. Kita harus menciptakan kader utnuk pengganti kita kelak kalau kita dipromosikan kembali.

- Manager Keuangan. Sejak setiap bagian memiliki anggaran tahunan masing – masing yang harus dipertanggung jawabkan kepada Direksi, maka kitapun berperan sebagai Manajer Keuangan yang setiap periode harus melihat saldo ‘Neraca’ dan ‘Laba Rugi’ anggaran kita. Bila ada anggaran yang belum dipakai, harus di pakai, dan semua angagran harus dijaga agar selalu efektif dan tidak berlebihan.

- Manager Umum. Sejak semua SDM kita menggunakan perangkat kantor, maka kitapun berperan sebagai manajer umum yang harus menjaga setiap barang dan perangkat kantor selalu bekerja secara efektif dan tidak rusak atau tidak terpelihara.

- Manager TI. Sejak segala operasional kerja anda diharuskan berbasis TI agar tercipta efisiensi dan efektifitas, maka anda harus mendisain sistem kerja berbasis TI. Segala pekerjaan anak buah harus bisa dibantu sistem komputer. Segala formulir harus di input kedalam komputer. Segala laporan harus keluar dari sistem. Anda lah yang mendisain semua.

- Manager Pemasaran. Sejak anda ditugaskan untuk memimpin organisasi departemen anda, maka tugas anda untuk memajukan kinerja departemen anda. Anda harus melancarkan segala pekerjaan anak buah anda terutama yang terkait dengan pihak departemen lain jangan sampai ada kendala komunikasi. Tugas anda menjadi PR departemen anda agar pekerjaan departeman anda mendapat perhatian dari departemen lain dan tidak terhambat disana, anda perlu menjadi Marketer hasil kerja departemen anda kepada Direksi, agar segala ide, perbaikan , pengembangan, solusi atas masalah dan hasil kerja mendapat perhatian dan dinilai oleh Direksi seakan akan kita sedang menjual sebuah produk.

Demikianlah indahnya menjadi Manager / Pemimpin.

Kategori: Leadership
Ditandai: , , , , , ,

Look Who’s Talking (part 3: System or Person ?)

April 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kemarin sewaktu nungguin anak saya test masuk SMP, ngobrol sama salah satu ortu anak yang lagi tes juga disitu. Dia seorang analis sistem. Cukup banyak yang dia ceritakan mengenai pekerjaanya. Tapi saya gak bilang kalau saya adalah PENSIUNAN SYSTEM ANALYST dan SYSTEM DESIGNER.

Dia menceritakan kesulitannya dalam menerapkan sebuah perubahan sistem. Memang betul bagi seorang disainer sistem, perubahan itu adalah IMPROVEMENT yang membuat segalanya jadi lebih baik. Tapi tolakan dari anggota kelompoknya sangat tinggi. Menurut dia manusia Indonesia itu sangat resisten terhadap perubahan. Kalo sudah punya sepeda gak mau dikasi motor, kalo sudah punya motor gak mau dikasi mobil. Bodoh !. Cinta pada kemapanan.

Saya bilang gak usah heran pak kalau tahu alasannya. Saya juga pernah mengalaminya. Salah satu sebab resistensi itu adalah karena kalau sistem itu diadaptasi, maka ada rejeki orang yang akan hilang !.

Sistem yang efektif dan efisien bagi perusahaan akan merugikan sebagian karyawan. Karena ketidakefisienan tersebut sebenarnya akibat masuknya biaya biaya yang tidak perlu ke kantor – kantong pribadi.

Perusahaan kita itu juga seperti Indonesia mini. Para petinggi kita selalu bilang ayo kita ikuti sistem, ayo perbaiki sistem !. Tapi sistem itu tidak berlaku buat mereka.

Saya pernah mengkaji beberapa sistem komputer perusahan perusahaan Asuransi di Indonesia. Seluruh perusahaan Joint Venture (JV) sudah menggunakan sistem yang diwajibkan dari Principalnya di luar negeri. Sedangkan perusahaan lokal, cenderung self develop atau beli dari pengembang lokal, atau joint development dengan pengembang lokal. Sistem besar yang dimiliki JV yang berharga muahalll itu, ternyata bagus dan lengkap. Tapi ternyata gak bisa diimplementasikan di perusahaan lokal. Kenapa begitu ?.

Ternyata sebabnya ada di masalah perbedaan budaya. Para bule itu (katanya) mahluk yang patuh pada sistem yang sudah dibuat mereka sendiri tanpa terkecuali mulai dari para petinggi sampai jongosnya.

Sedangkan manusia Indonesia itu mahluk yang sangat tidak patuh pada sistem. Sehingga terkenallah kalimat – Peraturan itu dibuat untuk dilanggar.

Jadi kepemimpinan di Indonesia itu atau di perusahaan anda ( lokal) lebih pada kepemimpinan yang mengacu pada kebijakan personal dan bukan pada sistem.
Makanya sistem komputerisasi yang bagus gak akan bisa cocok. Manajemen akan minta rubah sana – rubah sini, part ini saja – yang itu gak perlu…..

Sistem itu akan terpakai bila semua orang didalam sistem patuh.

Look who’s talking. Begitulah manajemen orang Indonesia (kebanyakan. Saya gak men judge semua begitu lo !).

(c)Papario

Kategori: Leadership · Life
Ditandai: , , , , , , , ,

Alien in Action 2008

Februari 29, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan Pertama di Tahun 2008. Agak terlambat memang. Maklum : Sibuk. Tapi ada sebabnya. Begini ceritanya:

Pada bulan Januari 2008 saya menerima SK pengangkatan jabatan saya menjadi Deputy General Manager atau Wakil Kepala Divisi per tanggal 2 Januari 2008. Wah, surprise !. Tapi tak seindah yang dibayangkan. Sudah naiknya nanggung, selama 3 bulan evaluasi, gaji tak naik tapi tanggung jawab lebih besar. Istilah umumnya evaluasi masa kerja 100hari. Bweheheheh….. belum tau mereka !. Mari kita lihat setelah bulan Maret, apakah saya tetap atau malah kembali turun. Of course, saya yakin dengan segala keyakinan – keyakinan yang ada – masa sih gak lulus ?.

Bicara keyakinan, saya merasa mirip dengan Fidel Castro. Dari filem biografinya yang saya tonton, dia teryata adalah seorang yang ‘Self Confident’ nya SANGAT tinggi. Berani beda karena dia yakin bahwa dia benar. Dan pada akhirnya dia cocok dijuluki sebagai ‘Alien’ (Lihat tulisan saya mengenai I’m An Alien). Seorang yang berbeda dan konfident dengan perbedaannya.

Dahulu, setelah jabatan Manager, ada General Manager (GM), lalu Direktur. Tapi entah kenapa tiba tiba muncul Jabatan Deputy GM dibawah GM. Disatu sisi saya merasa dilecehkan dan dicurangi. Enak bener dong para GM sekarang yang tidak perlu menempuh jalur jabatan Deputy GM !. Kenapa ?. Tapi tak apalah, saya memang tidak pernah menuntut apapun dari perusahaan. Segala sesuatu ada balasannya dari Tuhan. Mungkin saya belum dianggap cukup ‘mature’ tetapi perusahaan ‘terpaksa’ karena tidak ada calon lain. Tunggu saja tiga bulan lagi….
grrrrrr…..

By the way, saya merasa bersyukur. Bukan karena saya dipromosikan. Tetapi karena saya merasa dipercaya oleh Direksi. Saya pikir ini karena ‘Positioning’ diri saya yang saya ciptakan diperusahaan yang disampaikan langsung oleh salah satu Direksi pada saat saya Presentasi dan Wawancara Calon GM didepan Pemegang Saham : ‘Dia ( sambil menunjuk saya) ini adalah karyawan yang dikenal tidak menjadi bagian dari ‘kubu’ atau kelompok manapun diperusahaan’.

Artinya ?. Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari sini ?.

Perusahaan ini selama 20 tahun sampai saat ini telah beberapa kali melakukan perubahan formasi baik di tingkat Top Manajemen lalu ‘menular’ sampai ke Low Manajemen dan staff. Dan setiap saat selalu ada saja yang merasa ‘disingkirkan‘ dan kebalikannya ada yang ‘di-anak emas-kan‘.

Setiap terjadi pergantian manajemen hal ini berulang. Sehingga timbullah kubu, kelompok, dendam lama, perasaan disingkirkan, kasak kusuk protes, kegiatan sabotase, dan lain lain yang notabene mengganggu dan melambatkan kinerja perusahaan.

Sekali lagi saya bersyukur karena semua orang disini melihat saya bisa berada dimana saja. Dengan memfungsikan diri sebagai PR (Public Relation) unit kerja saya, saya bergaul dengan siapa saja, masuk kelompok mana saja tanpa harus menjadi bagian kelompok tersebut. Semua dalam rangka KOORDINASI UNTUK MENYELESAIKAN PEKERJAAN. Baik pekerjaan sendiri maupun pekerjaan mereka. Kalo gak gitu, mana bisa pekerjaan di perusahaan beres.

Saya juga tidak pernah bergantung apapun kepada atasan kecuali perintah dan nasehatnya. Saya selalu berusaha – apa yang dilihat oleh atasan saya adalah hasil kerja saya. Sehingga putusan atas karir saya – semata karena produktifitas, dan bukan karena kedekatan, sukuisme agamaisme, almamaterisme, dll.

Saya rela untuk dijuluki ‘Alien’ disini. Saya tidak berpihak pada kelompok manapun. Pendapat manapun semua bisa benar, bisa salah, karena itu hukum yang manusia , maka tergantung kepentingan. Saya berpihak pada hukum Tuhan, yang benar adalah benar, yang salah adalah salah.

Salam.
(c)Papario, 29 Feb 08.

Kategori: Curhat · Leadership
Ditandai: , , , , , , , , , , ,

Manajemen Tangan Kiri dan Tangan Kanan

Agustus 23, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pada saat kita diangat sebagai pemimpin unit kerja disebuah perusahaan, tentu saja kita perlu mempelajari berbagai situasi internal terlebih dahulu dengan metode Past, Present & Future.


Past: berarti kita harus melihat sejarah perusahaan, success story maupun bad story.
Present: berarti kita harus mempelajari bagaimana visi & Misi perusahaan, masalah apa saja yang sedang dihadapi dan strategi apa yang sedang diterapkan.
Future: berarti kita harus tahu potret seperti apa perusahaan itu kedepan dari kacamata pemilik perusahaan.


setelah mempelajari dan memahami semuanya, barulah kita dapat menentukan dan memantapkan langkah apa yang harus kita lakukan. jangan lupa Teori ‘Merubah Batu mejadi Emas‘ (lihat artikel saya yang lalu).

pengalaman bertahun tahun memimpin beberapa unit kerja, saya mempelajari hal unik yang diperusahaan lain mungkin jarang terjadi. Dalam perjalanan waktu, sebuah unit kerja atau perusahaan seringkali mendapat masalah. Baik itu internal, maupun eksternal. Dan perusahaan kemudian mengambil kebijakan kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Terkadang dalam sebuah organisasi pada situasi masalah datang bertubi tubi dan tidak selesai – selesai, mereka menjadi terlalu fokus pada penyelesaian masalah yang ada. Jika itu masalah kecil mungkin tidak menjadi masalah. Tetapi jika itu masalah besar, masalah bisnis, karena regulasi, karena masalah ekonomi atau karena kompetitor, atau masalah besar lainnya, kecenderungan yang terjadi adalah — mereka menjadi ‘lost focus‘ terhadap kegiatan merealisasi potret perusahaan masa depan, mereka menjadi tidak aware terhadap angin perubahan, dan kehilangan karakter enterpreneurship-nya.

Dan hal ini akan menjadi salah satu sumber kehancuran organisasi. Seperti sebuah kerajaan yang SELURUH penghuninya sibuk membenahi istana yang roboh menaranya, dan tidak mengetahui kalo musuh sedang akan melalukan agresi, atau tidak tahu kalau musim kemarau akan segera melanda, dan mereka tidak siap.

Dari hasil pengamatan tersebut, kita bisa membuat sebuah kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan, kita bisa menggunakan teori Manajemen Tangan Kiri dan Tangan Kanan.

Tangan kiri berarti, kita harus bisa mengatasi masalah masalah yang sekarang sedang dihadapi.
Tangan Kanan berarti, kita tetap harus bisa menentukan bagaimana organisasi itu rupanya di masa depan.

Dalam segala situasi kita harus bisa memenej kedua tangan kita. Kalo lagi nyetir mobil, kemudian punggung dan hidung mendadak gatal, tidak perlu kedua tangan yang menggaruk. Tetap saja salah satu tangan harus tetap megang setir.

Ketika saya ditugaskan memimpin sebuah organisasi yang sudah agak mature (mapan) namun masih penuh masalah, saya kemudian mencoba menerapkan Manajemen Tangan Kiri dan Tangan Kanan pada pemanfaatan kader. Saya memiliki dua orang asisten yang handal yang kemudian saya berikan tugas spesifik. Yang satu menjadi Tangan Kiri saya, berarti dia bertanggungjawab atas penyelesaian masalah masalah yang ada, sedangkan yang satu menjadi Tangan Kanan saya, dia bertanggungjawab atas segala inovasi dan perubahan. Hal ini tidak berarti mereka tidak saling membantu.

Dalam kondisi tersebut, kita akhirnya akan merasa lebih santai, tidak menjadi stress. Kita terus mengimprove kemampuan kedua asisten kita sampai batas optimal mereka. Masalah dapat terhandle dengan baik, inovasi tetap dapat dilakukan.

Memang betul kata guru manajemen kita dulu. Buatlah karyawanmu menjadi pandai melebihi kamu. Kamu akan sangat terbantukan oleh mereka. Namun memang, perlu jiwa besar untuk melihat orang lain lebih maju daripada kita. Kita tidak perlu merasa iri, atau takut, karena keberhasilan mereka adalah keberhasilan kita juga.


Kategori: Leadership
Ditandai: , , , , , , , , , ,

What Brought Down The Empires ?

Juni 29, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Empires are not brought down by outside forces,

they are destroyed by the weaknesses from within

Lionel Luthor. Character From Smallville(Superman) TV Series.

Lionel adalah bapaknya Alexander “Lex” Luthor. Lex adalah teman sekaligus evil nemesisnya Clark Kent aka Superman.

Lionel adalah buusiness yang hebat dan berhasil. Walaupun ia menghalalkan segala cara sampai mengorbankan keluarganya, tetapi nasehat nasehat bisnisnya – jitu. Contohnya nasehat diatas kepada anaknya.

Kejatuhan suatu kerajaan bukan karena kekuatan dari luar, tetapi dari kelemahan yang ada didalamnya. Karena itu apabila perusahaanmu sedang turun, melorot, jangan salahkan kondisi luar. Tetapi introspeksilah dirimu dan lingkungan di dalam perusahaanmu. Kamu harus temukan kelemahan dalam perusahaanmu. Lalu perbaiki.

(C) Papario, June 2007.

Footnote: Lex pernah mengatakan suatu ungkapan mengenai ayahnya kepada Clark. “When my father died, Kings will be come, when your father died, his friend will be come”.

Kategori: Leadership
Ditandai: , , , ,