Bulan ini baru terasa hujan sederas derasnya. Menurut ramalan cuaca, curah hujan tertinggi ada di pertengahan bulan Januari 2009 hingga pertengahan bulan Februari 2009.
Wah, dalam keadan begini saja, Jakarta sudah ‘menyeramkan’. Harus antar anak sekolah masuk jam 6:30 pagi, dalam keadaan hujan deras. Trus ke kantor hujan masih belum berhenti. Di jalan sudah mulai tergenang tinggi, dan air sungai di kampung melayu sudah naik ke jalan. Begitu setiap hari. Bagaimana pertengahan januari nanti ya ?.
Sepertinya pelajaran orang tua jaman dulu bahwa musim hujan ada di setiap bulan yang namanya berakhiran ‘ber’ sudah tidak berlaku lagi. Khawatir juga dengan dampak perubahan lingkungan gara gara kerakusan manusia.
Begitu juga dengan Kota Jakarta. Kalau dikembangkan tanpa ‘ilmu’, maka beginilah akibatnya. Padahal disain peningggalan jaman Belanda sudah sangat bagus dan modern. Sayang dirusak oleh orang orang tak berilmu.
Dijalan banyak sekal orang kemalangan. Ada tukang bajaj yang bajajnya mogok, ada sepeda motor yang kecebur lobang di jalan sehingga motornya rusak. Ada yang saya sumpah serapahin karena menghalangi jalan dan mencipratkan becekan ke mobil, ada pejalan kaki yang terciprat air dari lintasan motor atau mobilm, ada pedagang asongan yang gak bisa jualan, ada polisi yang gak bisa ngatur jalan karena derasnya hujan, ada anak sekolah atau guru yang sampai sekolah bajunya basah, ada yang rumahnya bocor.
Saya doakan semoga saya dan kalian semua yang mendapat cobaan dari Tuhan selalu bersabar dan semoga kita tetap diberi rahmat oleh Yang Maha Kuasa.
Sewaktu kecil saya pernah diajak Bapak ke Pekanbaru dalam sebuah acara keluarga. Waktu itu saya cuman tahu bermain dan bermain di kampung. Bersepeda tanpa rem dan nyangkut di jemuran orang atau berenang di bendungan sampai hampir pingsan dikerubutin lintah.
Sekarang saya harus kembali kesana dalam suatu tugas. Kami berempat, Saya, Nday, Didi dan Nanang berangkat dari Jakarta naik Lion Air dan tiba sekitar jam 9:30. Disana sudah di jemput oleh Pak Triono – Sales Manager Pekanbaru dan Pak Saparudin Sinaga calon Sales Manager Medan yang saat ini sedang menjabat Unit Manager Pekanbaru.
Naik Fortuner kami diajak ke Sales Office Pekanbaru. Setelah briefing dengan para Agen disana siang hari kami diajak Lunch di sebuah restoran. Disana ternyata kami bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat terkait dengan tugas. Setelah bersilaturahmi, sesuai dengan tugas utama, kami berangkat ke luar kota mengunjungi beberapa perkebunan kelapa sawit.
Sungguh kasihan para petani sawit. Dalam beberapa minggu harga minyak sawit (CPO) anjlok dari Rp. 2.000,- per kg menjadi Rp. 400,- per kg. Selain sekarang sudah tidak punya dana untuk membayar segala macam kredit ke bank atau tukang kredit, sentimen pasar internasional terkait sertifikasi ramah lingkungan dan krisis ekonomi di amerika menyebabkan pembeli berkurang jauh. Mereka seperti makan buah simalakama, diproduksi malah tekor, tidak diproduksi tidak punya penghasilan.Karena itulah kami kesana, melihat langsung bagaimana sesungguhnya keadaan para petani,memberikan simpati, mendiskusikan jalan keluar dan menawarkan bantuan.
Setelah 5 jam perjalanan ke luar kota, melewati jalan lintas sumatra, akhirnya kami tiba di sebuah desa yang letaknya sangat jauh masuk ke pelosok perkebunan sawit, yaitu desa Sialang Permai. Bayangkan sebuah desa yang tidak ada pasokan listrik sehingga mereka harus menyediakan generator sendiri dan baru menyala jam 5 sore, tidak ada telepon dan tidak ada rumah perawatan kesehatan. Jangankan Rumah Sakit, Puskesmas saja tidak ada.
Disini kami ngobrol dengan beberapa tokoh petani dan KUD.Sempat pula kami menyambangi rumah salah seorang petani yang baru saja meninggal dunia untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung.
Setelah cukup mengumpulkan informasi dan memberikan simpati kepada para petani, kami pulang. Hampir saja kami harus menginap karena sore itu Fortuner tergelincir gak bisa jalan karena hujan deras. Untung beberapa remaja membantu sehingga kami lolos dari lumpur.
Menginap ? Well, kalau bukan karena keterbatasan waktu, mungkin kami sudah menerima tawaran salah seorang tokoh pemimpin para petani disana ( walaupun suara yang berminat untuk nginap 50:50 ). Akhirnya malam itu kami kembali ke Pekanbaru, menginap di Hotel Pangeran.
Keesokan harinya kami meninggalkan hotel menuju Jambi yang membutuhkan waktu hingga 12 jam. Dalam perjalanan saya sempat membawa Fortuner selama 3 jam. Kendaraannya sungguh nyaman. Perjalanan kelok kelok, naik turun, aspal, tanah, batu, becek dan lumpur menjadi pengalaman yang berharga. Apalagi waktu berpapasan dengan truk truk besar – wuss – wusss, jaraknya cuma ‘serambut’ – begitu komentar Didi.
Diperjalanan kami sempat singgah di daerah Sorek di bawah jembatan sungai Siak makan Udang sungai yang ukurannya sangat besar. Rumah makan ini cukup ramai disinggahi karena ternyata disebelahnya adalah tempat pemberhentian lalu lintas transportasi sungai.
Di bawah jembatan sungai Siak - Riau
Setelah makan dan moto moto, kami berangkat. Di daerah Batu Ampar pas perbatasan Pekanbaru – Jambi, kami mampir di rumah salah seorang petani. Selain ngobrol dengan petani dan pekerjanya yang sedang menimbang dan mengangkut sawitke dalam truk, kami juga sempat makan duren di pinggir jalan. Pak Sapar begitu semangat membelahkan kurang lebih 10 buah duren.
Kami tiba di Jambi malam hari dan menginap di Hotel Abadi.
Esoknya kami berangkat lagi ke perkebunan sawit. Pak Sapar jalan terpincang pincang. Ternyata gara gara makan duren, asam uratnya kambuh. Jadi kali ini Didi yang bawa Fortunernya. Kali ini medannya lebih berat. Tanah yang dilalui sangat licin karena habis hujan. Untung tidak ada acara dorong dorong mobil. Fortuner ternyata bisa diandalkan. Kami harus melalui beberapa jembatan kayu dan sempat berjumpa dengan beberapa orang suku anak dalam.
Di Kebun Sawit Jambi, desanya lebih ramai. Walaupun tetap tidak ada pasokan listrik dan telepon namun rata rata mereka punya antena parabola dan mobil Kijang Innova, Jeep dan sejenisnya. Disini kami bertemu lebih banyak pemuka desa. Mulai dari Pak Kades, Ketua Kelompok Tani, Ketua KUD dan lainnya.
Setelah berdiskusi cukup lama, sore hari kami pulang kembali ke Jambi. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat. Kami sempat makan empek empek di depan hotel sebelum tidur.
Sewaktu dalam perjalanan ke daerah untuk menjalankan ‘tugas negara’, biasanya selalu bersama satu Tim. Entah itu tim Investigasi atau Tim Pengajar atau Tim Riset dan Pengembangan. Selalu ada saja cerita lucu yang menghibur selama perjalanan.
Nday, teman sekamar saya dalam sebuah tugas ke luar kota bercerita bahwa dari sebuah ceramah oleh seorang ustad dia diberitahu kalau seorang pria mati dan masuk surga, maka disurga dia akan ditemani oleh 77 orang bidadari yang cantik cantik. Karena itu dia sekarang sedang menghafalkan nama wanita wanita cantik pujaannya seperti Charlize Theron, Sandra Bullock dan Rachel Weiz. Nama itu akan dihafal dan diingat terus sampai nglotok sehingga kalau ditanya malaikat bidadari seperti apa yang mau menemani dia, maka nama nama itu yang akan disebutkan.
Setelah mendengar cerita itu saya cuman tertawa. Tetapi kemudian saya tertawa ngebayangin sesuatu dan menyampaikan kepadanya.
“Nday !, semoga harapanmu terkabul. Tapi saya pikir kamu jangan lupakan hal yang lebih penting”
“Apa itu ?”
“Saya gakbisa ngebayangin lebih lanjut apabila saat kamu dibangunkan dari kubur trus ditanya malaikat: ‘Marrobbuka ? (siapa Tuhanmu) ’, trus kamu jawab ‘Sandra Bullock !’. Trus ditanya lagi ‘Siapa Nabimu ?’ trus kamu jawab ‘Rachel Weiz’”.
Nday trus bercerita lagi tentang teman sekantor kami yang juga mendengar ceramah yang temanya sama tapi dari ustad yang berbeda. Namun temannya ini malah memble dan kecewa lantaran pak Ustadnya bilang bahwa secantik cantiknya bidadari yang akan menemani di surga ialah yang secantik istrinya sekarang.
“Wakakakakakakakakakakakak !’ Kami tertawa lebih keras membayangkan bagaimana rupa wajah teman kami ini setelah mendengar itu.
Moral Cerita: Jangan pernah terlena oleh sebuah iming – iming atau kendala sehingga melupakan prioritas.
Saya jarang nonton TV. Kecuali kalo lagi dipanggil sama sang kekasih, “say, kesini say, ada berita heboh …’, atau lagi bener bener gak da yang dikerjain lagi. Lebih banyak TV digunakan untuk nonton DVD atau main game.
Bulan ramadhan lalu pun, nonton TV – lebih banyak untuk nungguin bedug maghrib. Nah, disela-sela acara, lewatlah iklan ‘cumi’ Indosat. Serial iklan ‘cumi’ yang menampilkan Adli Fairuz dan rekan rekannya menjadi bagian dari kultum menjelang bedug.
Kreatifitas para kreatifis di biro iklan memang hebat. ‘Cumi’ yang sebelumnya adalah bahasa gaul yang tidak populer akhirnya menjadi populer. ‘KucingIklan‘ Si pembuat iklan yang gak nyangka cuminya ‘nyangkut’ di benak orang banyak kena batunya. Ketika dia eye-shopping di kios ponsel, nanya – nanya dan gak bli, si SPG nyletuk ‘dasar CUMI, cuma milih-milih doang !’. wakakakakkk…..
Iklan ‘cumi’ biarpun cumi (cuma iklan) akhirnya berhasil ngetrend. Tapi menurut saya yang harus menjadi perhatian, satu hal negatif dari sana jangan ditiru. Ungkapan ‘cumi’ adalah satu dari sekian banyak umpatan. Kelihatannya sih halus. Tapi bila mulai SARA ( Suku – Agama – Ras, dan Anatomi ), ya jadi kasar lah !.
Ketika anak – anak hafal iklan ini, trus melihat orang cacat wajah ( red: bibir) trus nyeletuk cumi (alias cucah mingkem), ya kan jadinya gak bener. ‘KucingIklan’ si pembuat iklan punya temen yang dosen yang tega mengatai anaknya cumi – karena memang susah mingkem.
TV memang susah dilarang kepada anak – anak. Kita lahyang memberi pengertian apa yang baik dan boleh ditonton di TV. Saya cuma berharap, gak ada umpatan umpatan baru di sekitar kita. Jangan sampai setelah musim cumi lewat, datanglah Onta ! – On taimer, Kebo ! – Kena bo’ong, dll.
Saya teringat satu artikel di majalah Femina lama yang saya sudah lupa edisi kapan namun ketemu cuman satu potong halaman, sebuah tulisan dari TINA SAVITRI dan Ira Puspitowati tentang Peter Pan Syndrome.
Ira menulis, Peter Pan Syndrome adalah sindrom Pria yang ‘menolak’ menjadi dewasa. Saya cuplik artikelnya sebagai berikut :
“….Setiap manusia memiliki tahapan dan tututan perkembangan dalam hidupnya. Batita dituntut belajar berjalan dan berkomunikasi, remaja dituntut belajar dan bersosialisasi, dewasa dituntut untuk hidup mandiri, berkeluarga, dsb. Pria dan wanita biasanya memiliki tuntutan yang berbeda karena pola asuh keluarga dan lingkungan.
Ada yang lancar melewati setiap tahapan tersbut ada yang tertatih tatih. Bila seoprang pria terus bersikap kekanak kanakan, maka dapat dikatakan dia mengidap sindrom Peter Pan. Pria semacam ini umumnya cenderung tidak bertanggung jawab, sulit berkomitmen, senang menentang norma / aturan, mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi, cenderung manipulatif, selain itu juga cenderung narsis (terlalu mencintai diri sendiri).
Belum ada catatan ilmiah tentang ini dalam ilmu psikologi klinis setidaknya dalam kitab ‘Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder‘ edisi terbaru. Nama Peter Pan dipakai mungkin karena ia memang ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Namun Ira menambahkan, dalam ilmu psikoanalisa, Carl Gustav Jung (tokoh psikoanalisa) pernah mengungkapkan konsep ‘The Eternal Youth’ atau ‘Puer Aertemus’ yang mirip Peter Pan Syndrome.
Jung menganggap ’surga masa kecil’ memiliki kesan teramat mendalam terhadap alam tidak sadar seorang Individu, sehingga setelah dewasa pun dia selalu berusaha mempertahankan surga tersebut dalam hubungannya dengan orang lain dan menjadi ‘gangguan’ buat lingkunnya.
Sejauh ini yang menjadi kambing hitam adalah pola asuh yang salah semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu membelanya. Orang tua yang terlalu melindungi anaknya selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak.‘
Namun Tina menyampaikan bahwa bila kita analisa cara cara wanita memperlakukan pria, pria seperti ini juga berasal dari para wanita. Secara natural wanita dianugrahi sifat senang merawat, memelihara, memperhatikan, khususnya pada orang orang yang dicintai, dan sangat menikmati peran itu. Perlakuan ini membuat sang pria menjadi manja dan kekanak-kanakan. Sang pria menemukan figur yang nyaman pengganti ibu.
Kalau suami jatuh sakit, sang istri biasanya akan memanjakan lebih dari biasanya. Minta makanan ini dituruti, minta dipijat dilayani, dan sebagainya. Menyadari hal ini, pria menjadi tricky, dikepalanya akan timbul, bila ia sedang sakit, maka ia boleh bersikap manja.
Namun begitu, umumnya pria hanya mau memperlihatkan sisi sisi lemahnya kepada orang orang yang selama ini membuat dirinya merasa nyaman. Hal ini adalah normal dan dihadapi saja dengan santai. Bukankah perkawinan memang ajang untuk bertoleransi ?. Kecuali jika berlebihan, bersifat menetap, dan ‘menganggu’ atau ‘menyiksa’ orang lain maka layak dikategorikan ‘orang sakit’ dan dapat dikategorikan mengidap ‘Peter Pan Syndrome’.
Bagian dua : Tentang Saya
Melihat foto diatas, boleh saja diambil kesimpulan bahwa saya cenderung punya sindrom tersebut. Saya gak nyangkal, karena gejala gejala dalam bagian satu diatas ternyata saya punya. Salah satu contohnya, ya foto diatas.
Beberapa gejala lain adalah kesukaan saya baca komik, main video game sendiri maupun bersama anak – anak. Tapi komunitas gamer sangat banyak anggotanya bahkan usia 30 keatas. Apakah sindrom ini memang sebuah fenomena alam ?. heheheheh….
Bagian Tiga: Help me.
Satu lagi, saya punya saudara dekat menderita sindrom ini sangat akut. Tapi wanita. Usia sudah diatas 25 tahun, tubuhnya normal, namun jiwanya betul betul masih anak usia 7 tahun !. Ada yang bisa bantu menjelaskan fenomena ini ?.
Bagian Empat: Most Japanese have this syndrome ?
Jepang adalah negara yang hampir seluruh mereka suka akan komik, game, robot, tokoh komik / game. Sampai sekarang mereka gandrung jadi Cosplay. Apakah ini juga kecenderungan massal akan Peter Pan Syndrome ?. Bwehehehehhh…….
Belakangan ini saya banyak menghadiri undangan undangan. Kalo habis lebaran begini ya pastinya banyak undangan Halal bi Halal. Mulai Halal Bi Halal di Kantor, di rumah Bos, sampai di RT. Beberapa undangan Nikahan anaknya temen sudah mulai berdatangan. Hm, padahal usia saya baru 40. Sudah banyak temen yang menikahkan anaknya.
Heheh,saya jadi ingat guyonan sore – sore di kantor sama temen temen yang sekarang udah gak kerja di kantor sini lagi. Sapa ya ?. Hamzah yang sekarang di Lippo dan Pak Bun ( Bunyamin) yang sudah lama pensiun. Katanya, undangan yang diterima seseorang itu mencerminkan generasi si penerima undangan. Beda generasi beda undangannya. Seperti berikut :
- Yang sering menerima undangan temen ulang tahun berarti dia masih anak – anak atau remaja.
- Yang sering menerima undangan temen nikahan atau nujuh bulanan berarti dia sudah mau lulus kuliah, atau sudah kerja.
- Yang sering nerima undangan pindahan ke rumah baru berarti dia sudah punya jabatan.
- Yang sering nerima undangan Nikahan Anaknya temen, berarti dia sudah setengah baya dan anaknya sudah besar besar.
- Yang sering nerima undangan Tahlilan temen yang baru meninggal berarti …. sebentar lagi dia mau nyusul…..
Hari Minggu ini adalah hari libur terakhir lebaran ini. Besok Senin udah masuk. Mamanya anak – anak mengajak jalan – jalan ke Grand Indonesia. Mall baru di daerah bunderan HI. Ya kita kesana deh siang – siang.
Ternyata Mall nya cukup besar, megah dan mewah. Paling banyak pengunjungnya keturunan Tionghoa. Parkir di Lt. 3, masuk trus ke atas sudah nyampe di Blitz Megaplex. Tadinya mo nonton Laskar Pelangi. Cuman karena belum baca resensi, dan belum kedengaran ‘heboh’-nya sperti Ayat Ayat Cinta, maka kita gak jadi nonton. Film lain sperti Chocolate, In The Name Of The King, dan lainnya udah nonton di DVD hasil donlotan dari Internet. Maka kita puter – putar saja.
Grand Indonesia punya motto ‘Crossroads The World’ (Persimpangan Dunia). Makanya di dalamnya ada area area negeri negeri seberang, sepeti Negeri Belanda dengan Kincir angin raksasanya, Negeri Cina dengan Bambu dan lampionnya, negeri Arabia dengan bangunan uniknya, termasuk area Melayu. Sebenarnya Grand Indonesia terbagi 4 ‘distrik’: Market Distrik, Fashion District, Garden District dan Entertainment District.
Kami main sebentar di Fun World abis Rp. 100.000,-. Tapi sepertinya itu gak seberapa dibandingkan sama para pengunjung lain ( yang sebagian ebsar keturunan TIonghoa ) yang sepertinya menghabiskan lima sampai sepuluh kali lipatnya. Kartu kuponnya saja hasil bermain bisa dikumpulkan dalam satu kantong plastik !.
Lapar, kami mampir ke Food Courtyang didisain dengan unik. Agak sempit, tapi nyaman. Cukup banyak kios makanan khas Indonesia dan asing disini. Tinggal pilih. Sedaaaap. Saya makan steak ikan kegemaran.
Sudah sore, kami pulang, tapi mampir sebentar ke area Magic Fountain Show. Itu lho, air mancur menari dan bernyanyi yang dipertunjukkan setiap satu jam sekali. Waah, anak anak senang sekali. Pertunjukannya bagus. Musiknya bagus, kebyaran warna warni lampunya bagus, tarian air mancurnya juga bagus.
Pertunjukannya lumayan singkat : 10 menit saja. Tapi puaslah. Kalau saja areanya lebih luas, barangkali bisa lebih spektakuler. Akhirnya kami pulang dengan rasa puas. Mampir sebentar di Buaran Plaza, makan malam di Solaria, trus pulang deh.
Ayo, buruan datang ke Grand Indonesia nonton Musical Fountain Show, dan berceritalah sebelum diceritain orang lain!.
Istri saya memanggil saya Mr. Complaint. Gak usah tanya kenapa, saya mengakuinya. Setiap apa saja yang menurut saya gak bener ato salah, selalu komplen. Apa aja sih yang saya komplenin ?, hmmm, coba baca ini. Saya selalu ngoceh / komplen apabila :
1.Ada orang bodoh bawa mobil gak ngasih sen kalo mau pindah jalur ke kiri ato ke kanan. SIM nya nembak ya ?.
2.Ada orang bodoh bawa anak anak berjalan di pinggir jalan, tetapi anaknya malah berada pada posisi ke jalan dan orang tua yang membawa malah di posisi ke pinggir. Kemana otaknya ?
3.Ada orang bodoh jalan kaki gak di trotoar padahal kosong sehingga ngalangin jalan mobil. Lha, orang Jakarta emang udah gak kenal trotoar lagi yak ?.
4.Ada pedagang bakso bodoh yang ngasih micin terlalu banyak. Mo ngracunin konsumennya apa ?
5.Ada orang super bodoh mengendara mobil sambil ber hape ria di satu tangannya. Sudah 3 kali sedan saya diserempet dan di tabrak dari belakang oleh pengendara mobil seperti itu. Satu diserempet Kijang hitam di dekat Pasaraya Manggarai tapi dia trus ngloyor pergi, satu disruduk dari belakang sama tante – tante lagi ngantri di pintu tol keluar Jati Bening, gak minta maaf, terakhir disruduk APV di kemang, gak minta maaf. Udah bodoh, gak tau yang namanya wireless atau head set / hand set – arogan lagi !.
6.Ada pengedara sepeda motor bodoh ber hape ria di jalur cepat. Di tan- tin – tan – tin baru minggir. Membahayakan diri sendiri.
7.Ada tukang bajaj bodoh bawa bajaj-nya nyante jalan di tengah tengah jalur antara jalur lambat dan jalur cepat. Woooi !, emangnya jalan milik nenek moyangmu apa ?.
8. Ada orang parkir mobil di parkiran basement Mall, tapi mesin dibiarin nyala terus, sopirnya tidur didalamnya. Ini dia nih yang bertanggung jawab atas keracunannya orang orang Mall sampe muntah muntah. Woi, bensin itu mahal !, dasar orang mubazir !. Pengelola parkir juga tidak tegas sih !.
9.Dimintai uang parkir sama tukang parkir liar di dalam parkir Senayan padahal sudah bayar di pintu gerbang masuk. Gak abis pikir, lokasi untuk event Internasional masih tidak mampu diselenggarakan dengan tertib. Kok masih ada ya keliaran disitu. Gak abis pikir. Gak betah ke senayan. Kapan Indonesia bisa maju ?.
10.Ditarik tarik calo taksi di Soekarno Hatta. Gak abis pikir. Bandara Internasional kok ya gak bisa menertibkan hal sederhana macam begini. KAPAN INDONESIA BISA MAJU !. Malu aku.
Bah, cape komplen. But if you agree with me, join me.
Ramadhan ini memang rejekinya anak anak. Bayangkan, setelah minggu ke dua ramadhan ikut training ESQ nya Ary Ginanajar Agustian selama dua hari penuh tanpa membatalkan puasa, minggu terakhir ramadhan ini mereka ke Kidzania.
Awalnya, Priska janjian sama teman teman sekolahnya. Tapi gagal karena tempat penuh. Untung minggu terakhir ini tidak ramai. Jadi Rio dan Priska sepakat untuk pergi berdua saja. Tapi sayang Rio gak jadi ikut. Begitu dibangunin pagi pagi dia nolak, ya jadinya hanya Priska saja yang pergi. Saya mengantarkan pagi pagi sekali ke Gedung Pacific Place di SCBD (Sudirman Central Business Distric). Karena ragu ragu lewat jalan Sudirman karena hari minggu itu adalah hari ‘hari tanpa kendaraan’, maka saya masuk SCBD lewat jalan Senopati.
Masuk Kidzania
Ini yang pertama saya datang ke Pacific Place. Ternyata ia sebuah mall. Pagi itu yang ada cuman satpam. Maklum baru jam 7:30 pagi. Setelah parkir di B2, kami naik ke lantai 6. Loket baru dibuka. Langsung saja saya belikan Priska satu tiket untuk periode jam 9:00 sampai jam 14:00. Wuiih, 5 jam !. Lumayan lama. Sebandinglah untuk Rp. 155.000,-. Selain tiket, Priska dapat ’kartu asuransi’, ’cek’ senilai 50 Kidzos (mata uang Kidzania) dan peta kota Kidzania.
Kami menunggu jam 9:00 tiba. Selama itu, pengunjung berdatangan makin ramai. Jam 9:00 anak anak dipanggil untuk ngantri masuk. Setelah cium tangan, Priska ngantri. Di Pintu dia diberi gelang identitas. Daah, enjoy ya !. Jangan nakal yaa !…..
Nah sekarang bagaimana nasibmu sang pengantar ?. Akhirnya saya keliling keliling saja dari lantai basement hingga lantai 6 lagi hingga jam 10:00 hingga toko toko pada buka. Mampir mampir sebentar, lihat elektronik, lihat buku, lihat menu makanan di resto. Jam 12:00 sholat sebentar di musholla lantai 4. Wah masih dua jam lagi. Akhirnya nongkrong di toilet selama 45 menit sambil main game di laptop. Itu cleaning service toilet bingung kali, kok ada orang betah hampir satu jam nongkrong di wc… hihihihhi. Keluar dari sana, saya nunggu di depan KIdzania. Jam 13:30 saya disuruh masuk sama petugas Kidzania untuk jemput Priska. Setelah dipakaikan gelang, saya masuk.
Sesuai perkiraan, Kidzania cukup luas. Tapi tak seluas yang saya bayangkan. Mereka hanya menempati setengah lantai. Setengahnya lagi dipakai BlitzMegaplex. Disini adalah miniatur kota kecil. Ada gedung balaikota, ada kafe, ada bank, ada stasiun TV, ada pabrik es krim, toko pizza, ada pemadam kebakaran, kantor polisi dan lain lain. Disini anak anak bebas berperan apa yang dia suka. Mereka boleh jadi polisi mengatur lalu lintas, jadi penyiar TV, jadi bankir, jadi pilot, dan lain lain. Selesai berperan mereka dapat ‘upah’.
Disini mereka juga boleh berleha-leha makan minum di cafe, makan pizza, makan eskrim tapi harus beli dengan kidzos mereka.
Setelah muter muter, di call susah, akhirnya ketemu. Sambil menunggu waktu habis, dia masih sempat berperan sebagai Baby Nursery dan Petugas Pelayan Pom Bensin. Begitu waktu habis, para petugas menyanyikan lagu penutup di teras balaikota. Setelah itu kita semua keluar. Lumayan, Priska puasanya masih poll, dan dia ngumpulin uang 130 kidzos dari hasil ‘kerja’ selama ini.
Kriing.. beberapa hari yang lalu marketing ESQ menelpon saya. Biasa !, alumni selalu diajak untuk ikut agar recharge. Padahal saya merasa sudah lebih baik sejak ikut ESQ tahun 2006 lalu. Tapi orang bilang ‘ojo rumongso’, sayangnya semangat untuk recharge belum kuat. Salah satunya juga karena saya merasa tidak ‘turun’ kualitas ESQ saya.
Setelah ngobrol sebentar, saya inisiatif untuk mendaftarkan Rio. Setelah konfirmasi dengan Rio dan mamanya, mereka setuju. Tapi ternyata adiknya: Priska, mau juga. Yo wis lah, sekitar satu setengah juta rupiah di ‘investasikan’ untuk membangun mental penerus bangsa yang hebat dan teladan. Rio ikut ESQ for Teens sedangkan Priska ikut ESQ for Kids yang berlangsung hari Sabtu dan Minggu, 6 – 7 September 2008. Mudah mudahan ramadhan ini membawa berkah kepada keluarga kami. Amin.
Sabtu pagi jam 5:30 pagi kami berangkat ke Graha 165 di Simatupang, Cilandak. Pagi itu belum ramai, jadi registrasinya nyaman. Karena begitu jam 7 tiba, para ortu registrasi sampai ngantri.
Tadinya saya mau ikut recharge di lantai 2. Kebetulan ada kelas reguler. Tapi saya memilih untuk ikut briefing ortu. Ternyata 50% lebih anak – anak yang ikut ESQ ini ortunya sudah alumni. Bahkan dari sebagian peserta, ada juga anak anak yang alumni ikut lagi. Waktu mereka masuk, waduh antriannya rame. Satu ruangan ada sekitar 60 – 70 anak.
Hari pertama selesai jam 18:00. Mereka berbuka di Gedung 165 sementara orang tua yang gak nyiapin bekal, cuman ngiler aja. Syukur anaknya bagiin sebagian makanannya.
Hari kedua, kedua orang tua ikut masuk bergabung. Ha, seru nih. Ada pengakuan dosa dan tangis tangisan. Ditutup jam 18:00. Alhamdulillah orang tua sekarang dapet air mineral dan kurma untuk buka puasa.