Mengunjungi Perkebunan Kelapa Sawit di Pekanbaru dan Jambi

Sewaktu kecil saya pernah diajak Bapak ke Pekanbaru dalam sebuah acara keluarga. Waktu itu saya cuman tahu bermain dan bermain di kampung. Bersepeda tanpa rem dan nyangkut di jemuran orang atau berenang di bendungan sampai hampir pingsan dikerubutin lintah.

Sekarang saya harus kembali kesana dalam suatu tugas. Kami berempat, Saya, Nday, Didi dan Nanang berangkat dari Jakarta naik Lion Air dan tiba sekitar jam 9:30. Disana sudah di jemput oleh Pak Triono – Sales Manager Pekanbaru dan Pak Saparudin Sinaga calon Sales Manager Medan yang saat ini sedang menjabat Unit Manager Pekanbaru.

Naik Fortuner kami diajak ke Sales Office Pekanbaru. Setelah briefing dengan para Agen disana siang hari kami diajak Lunch di sebuah restoran. Disana ternyata kami bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat terkait dengan tugas. Setelah bersilaturahmi, sesuai dengan tugas utama, kami berangkat ke luar kota mengunjungi beberapa perkebunan kelapa sawit.

Sungguh kasihan para petani sawit. Dalam beberapa minggu harga minyak sawit (CPO) anjlok dari Rp. 2.000,- per kg menjadi Rp. 400,- per kg. Selain sekarang sudah tidak punya dana untuk membayar segala macam kredit ke bank atau tukang kredit, sentimen pasar internasional terkait sertifikasi ramah lingkungan dan krisis ekonomi di amerika menyebabkan pembeli berkurang jauh. Mereka seperti makan buah simalakama, diproduksi malah tekor, tidak diproduksi tidak punya penghasilan. Karena itulah kami kesana, melihat langsung bagaimana sesungguhnya keadaan para petani, memberikan simpati, mendiskusikan jalan keluar dan menawarkan bantuan.

06112008139 06112008148 06112008150 img_1278

Setelah 5 jam perjalanan ke luar kota, melewati jalan lintas sumatra, akhirnya kami tiba di sebuah desa yang letaknya sangat jauh masuk ke pelosok perkebunan sawit, yaitu desa Sialang Permai. Bayangkan sebuah desa yang tidak ada pasokan listrik sehingga mereka harus menyediakan generator sendiri dan baru menyala jam 5 sore, tidak ada telepon dan tidak ada rumah perawatan kesehatan. Jangankan Rumah Sakit, Puskesmas saja tidak ada.

Disini kami ngobrol dengan beberapa tokoh petani dan KUD. Sempat pula kami menyambangi rumah salah seorang petani yang baru saja meninggal dunia untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung.

Setelah cukup mengumpulkan informasi dan memberikan simpati kepada para petani, kami pulang. Hampir saja kami harus menginap karena sore itu Fortuner tergelincir gak bisa jalan karena hujan deras. Untung beberapa remaja membantu sehingga kami lolos dari lumpur.

Menginap ? Well, kalau bukan karena keterbatasan waktu, mungkin kami sudah menerima tawaran salah seorang tokoh pemimpin para petani disana ( walaupun suara yang berminat untuk nginap 50:50 ). Akhirnya malam itu kami kembali ke Pekanbaru, menginap di Hotel Pangeran.

Keesokan harinya kami meninggalkan hotel menuju Jambi yang membutuhkan waktu hingga 12 jam. Dalam perjalanan saya sempat membawa Fortuner selama 3 jam. Kendaraannya sungguh nyaman. Perjalanan kelok kelok, naik turun, aspal, tanah, batu, becek dan lumpur menjadi pengalaman yang berharga. Apalagi waktu berpapasan dengan truk truk besar – wuss – wusss, jaraknya cuma ‘serambut’ – begitu komentar Didi.

Diperjalanan kami sempat singgah di daerah Sorek di bawah jembatan sungai Siak makan Udang sungai yang ukurannya sangat besar. Rumah makan ini cukup ramai disinggahi karena ternyata disebelahnya adalah tempat pemberhentian lalu lintas transportasi sungai.

Di bawah jembatan sungai Siak - Riau

Di bawah jembatan sungai Siak - Riau

Setelah makan dan moto moto, kami berangkat. Di daerah Batu Ampar pas perbatasan Pekanbaru – Jambi, kami mampir di rumah salah seorang petani. Selain ngobrol dengan petani dan pekerjanya yang sedang menimbang dan mengangkut sawit ke dalam truk, kami juga sempat makan duren di pinggir jalan. Pak Sapar begitu semangat membelahkan kurang lebih 10 buah duren.

img_1291 img_1308

Kami tiba di Jambi malam hari dan menginap di Hotel Abadi.

Esoknya kami berangkat lagi ke perkebunan sawit. Pak Sapar jalan terpincang pincang. Ternyata gara gara makan duren, asam uratnya kambuh. Jadi kali ini Didi yang bawa Fortunernya. Kali ini medannya lebih berat. Tanah yang dilalui sangat licin karena habis hujan. Untung tidak ada acara dorong dorong mobil. Fortuner ternyata bisa diandalkan. Kami harus melalui beberapa jembatan kayu dan sempat berjumpa dengan beberapa orang suku anak dalam.

06112008157 06112008154 img_1292

Di Kebun Sawit Jambi, desanya lebih ramai. Walaupun tetap tidak ada pasokan listrik dan telepon namun rata rata mereka punya antena parabola dan mobil Kijang Innova, Jeep dan sejenisnya. Disini kami bertemu lebih banyak pemuka desa. Mulai dari Pak Kades, Ketua Kelompok Tani, Ketua KUD dan lainnya.

Setelah berdiskusi cukup lama, sore hari kami pulang kembali ke Jambi. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat. Kami sempat makan empek empek di depan hotel sebelum tidur.

5 responses to “Mengunjungi Perkebunan Kelapa Sawit di Pekanbaru dan Jambi

  1. salam kenal dari Pekanbaru

  2. Great post, Thanks for share.. :D

    visit my blog,

    http://satyap06.student.ipb.ac.id/

  3. wah bagus…. mau tau dong ada desa atau kota yang namanya kota gading perkebunan kela.pa sawit unit7 aeda trans dengan sawit yang baru saja ditanam tidak.?

  4. minta tolong kalau ada balas d’email sy sagitariaus@yahoo.com. tolong ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s