Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Masukan dari November 2008

Menyikapi Kemacetan Di Jakarta

November 27, 2008 · & Komentar

Mulai 1 Januari 2009, anak anak sekolah di Jakarta akan mulai sekolah jam 6.30. Peraturan daerah ini dikeluarkan dalam rangka mengatasi kemacetan di Jakarta.

Hm, lucu juga ya. Jalanan Jakarta sudah dipenuhi lintasan Busway, sudah di batasi dengan tri-in-wan, aturan bagi pengendara sepeda motor dan lainnya. Tapi koq tetap macet ya. Sekarang anak sekolah jadi sasaran. Sepertinya kalau masih memiliki pola pikir seperti ini, kebijakan – kebijakan yang akan dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi kemacetan, sepertinya Jakarta akan tetap macet. Suatu waktu nanti, bisa saja ada aturan bahwa yang bersekolah atau bekerja di Jakarta harus berdomisili di Jakarta. Atau Jakarta akan menerapkan peraturan yang diterapkan dinegara Asia yang sudah maju lainnya. Misalnya pembatasan usia kendaraan yang boleh melewati jalan raya. Siapa tahu ?.

Bertahun tahun yang lalu saya pernah membaca koran KOMPAS minggu yang menceritakan tentang masalah kemacetan di sebuah kota besar di Amerika. Dahulu, kota tersebut adalah salah satu kota yang luar biasa macet. Untuk mengatasi kemacetan, pemerintah setempat mengeluarkan RENCANA STRATEGIS dengan membangun dan memperbanyak MRT ( Mass Rapid Transportation ) seperti kereta listrik dan monorel. Beberapa tahun kemudian. Kota itu tidak lagi menjadi kota yang penuh kemacetan. Tidak ada lagi jalanan berjubel kendaraan. Semua penduduk merasa lebih nyaman dengan transportasi massal yang baru.

Namun ternyata hal ini tidak berlangsung lama. Sedang jaya – jayanya MRT, sebuah perusahaan kendaraan bermotor membeli perusahaan MRT tersebut. Apa yang terjadi kemudian ?. Tanpa sebab yang jelas perusahaan MRT ditutup oleh perusahaan kendaraan bermotor tersebut. Kota itu kemudian kembali menjadi kota yang penuh kemacetan lalu lintas.

Jadi, tetap macet atau tidaknya Jakarta tergantung kepada kepentingan. Siapa yang dirugikan kalau Jakarta tidak macet ?. Saya suka tertawa miris kalau ada perusahaan kendaraan bermotor mem-proklamirkan keberhasilan volume penjualan yang tinggi.

Saya sih berpikir sederhana. Apa sih yang sudah dilakukan oleh negara negara lain baik di Barat maupun di Asia sehingga mereka bisa mengatasi kemacetan di kota kota besarnya ?. Jawabannya : MRT.  So ?.

(Footnote: Saya sedang mencari lagi informasi nama kota besar di Amrik tsb. Barangkali di Kompas.com masih ada arsipnya . Atau ada yang bisa bantu ?. Thanks before).

Kategori: Curhat · Uncategorized
Ditandai: , , , , , , , ,

Lost Direction

November 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Istilah yang aneh. Artinya apa ya ?. Tapi saya memang belum menemukan istilah yang tepat. Shock ?… hmmm, sedikit. Tapi gak juga. Heheh…

Puluhan tahun kerja di perusahan jasa, senang bisa menjadi bagian yang membuat perusahaan itu tumbuh dan berkembang pesat. Pulhan tahun ?. Yes, saya seorang pengabdi. Sebuah kenikmatan besar bagi saya bila hasil pemikiran dan pekerjaan saya menghasilkan sebuah perbaikan dan kemajuan.

Namun memang perjalanan hidup dalam pekerjaan tidak selalu mulus.  Ada saja hambatan dan kejadian kejadian yang membaut kita  kesal atau malah tertawa terbahak bahak. Tetapi itu semua adalah bumbu pembangkit semangat dan kekayaan pengalaman yang menempa kita serta menjadi pelajaran untuk masa berikutnya.

Kendala biasanya bentuknya generik atau malah unik. Generik itu misalnya masalah biaya, kemampuan SDM, timing, masalah infrastruktur, terbentur regulasi atau kepentingan pribadi dan lain lain. Yang unik juga ada, yang tidak biasa kita temukan di mana mana.

Nah, dari sekian banyak kejadian unik, dibawah ini kejadian kejadian yang paling unik. Yang membuat kita jadi ‘nano-nano’, mau menangis,  tertawa, terheran heran dan marah semua membaru jadi satu. Yang membuat kita jadi ‘Lost Direction’ alias kehilangan arah. Seperti sepercik air yang jatuh diatas batu lalu pecah berantakan….

Beberapa peristiwa yang membuat saya jadi kehilangan arah, diantaranya :

  1. Saya ditugaskan manajemen untuk membentuk konsep dan menjalankan unit kerja Pelayanan Nasabah. Dari hasil survey kepuasan nasabah ternyata proyek ini menjadi ‘urgent’. Setelah belajar kemana mana dalam waktu yang tidak lama, mengumpulkan pembanding, meminta dukungan divisi lain, mengetes seberapa besar ‘penolakan’, menetapkan konsep. Konsep diajukan. Dan BYAAR !. Sang manajemen mengatakan bahwa perusahaan tidak perlu Konsep baru dan Unit Kerja Pelayanan Nasabah. Karena semua pegawai adalah pelayanan nasabah. GUBRAAAK !.
    (Padahal jika 8 dari 10 perusahaan jasa punya unit kerja pelayanan nasabah, maka kita ada salah satu dari 2 sisanya)….
  2. Setelah dijitak bos karena saya mengatakan kita belum ‘True Marketing’, saya tetap menyusun konsep yang diambil dari teori – teori Kottler dan Markplus. Konsep diajukan ‘this is what marketing should do’….. Lalu manajemen berkata bahwa Marketing Plan ini terlalu luas. Ini adalah long term plan yang teoritis. Bagaimana dengan penjualan di tempat anda ?. GUBRAAAAAK (lagi) !.  Again, kok masih ada yang belum bisa membedakan Selling dan Marketing.
    (Susah banget ya ketemu orang yang Visioner . Padahal ketika semua orang di perusahaan bertanya ‘kita mau kemana’, pemasaran sudah mengajukan konsep ‘kita kesana dengan begini caranya’).
  3. Salah satu fungsi utama Marketing adalah meningkatkan value perusahaan. Bagaimana posisinya dalam industri. Ketika kita mencoba memposisikan kembali misalnya dengan mencoba meraup ‘kue’ lebih banyak dalam industri, tentu saja agar perusahaan tidak tenggelam (fade) dalam perubahan – perubahan yang terjadi. Kami kemudian mencoba mengusulkan sebuah peningkatan dengan sedikit perubahan. Proposal ini adalah proposal rutin setiap ahir tahun. Dengan sedikit deg degan karena pertumbuhan yang kami usulkan tidak besar. Takutnya dinilai terlalu kecil.
    Gubraakk KROMPYAANG… !… Sang Manajemen mengatakan pertumbuhan terlalu besar dan tidak mungkin dicapai.
    (‘OMG, are we flying to high so that everybody cannot see what we see ?. Dont they know there is a warning behing the change ?’ ).

Tentu saja hal ini sudah lama lewat dan berlalu. Pengalaman yang sangat berharga. Mungkin ini masih lanjutan dari tulisan mengenai Look Who’s Talking. Bahwa sebuah gagasan diterima atau tidak tergantung SIAPA YANG MENYAMPAIKAN.

Ya, Allah ya Tuhanku. Ampunilah aku. Jauhi aku dari kesombongan.
Aku memang manusia yang penuh kekurangan. Tunjukilah aku mana yang baik dan mana yang buruk. Dan hindarilah aku dari keburukan yangmenjerumuskan aku kedalam kesesatan.
Amin.

@papario
Jakarta, 27 Nov 2008

edited: 28 Nov 2008 ( ditambahkan dengan do’a )

Mengenai Look Who’s Talking ada disini :

Look Who’s Talking Part 1: Kunci Keberuntungan

Look Who’s Talking Part 2: Kerendahan Hati

Look Who’s Talking Part 3: System Or Person

Kategori: Leadership · Marketing · Motivation
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,

Mencapai Puncak

November 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Peringatan hari kemerdekaan Negeri Binatang berlangsung meriah dengan berbagai perlombaan. Salah satu acara yang menarik adalah panjat pinang untuk para Tokek. Aturannya sederhana, tokek yang dapat mencapai puncak pinang lebih dahulu, akan menjadi pemenangnya. Hadiahnya adalah sebuah Rumah Tokek.

Ketika juri memberikan aba aba tanda perlombaan dimulai, maka para tokek langsung berebut naik. Baru bebeberapa menit, sudah beberapa tokek jatuh. Penonton mulai histeris melihat perjuangan para tokek  yang bersusah payah mencapai puncak. Ada yang memberi semangat, namun banyak juga yang mencerca dan sok mengatur.

Beberapa waktu berlalu, para tokek yang tergelincir pun sudah banyak. Tinggal enam tokek yang sedang berjuang menuju puncak. Anehnya, penonton bukannya semakin memotivasi melainkanmemberi tahu bahwa sudah tidak mungkin mencapai puncak. “Sudahlah, tidak mungkin sampai, puncaknya terlalu tinggi buah seekor tokek, turun saja”.

Yang lain mengatakan, “Jangan gara gara hadiah tak seberapa kau korbankan dirimu”.

Bahkan tokek senior yang tidak ikut main berkomentar, “Zaman dulu saya tidak se-ngotot ini, yang penting semua bisa jalan sudah bagus”

Para petinggi Negeri Binatang mulai kut bersuara, “Sudahlah Tokek, perlombaan ini hanya untuk bersenang senang, turunlah, tak perlu serius, tidak mungkin kamu bisa mencapai puncak, kalau jatuh kamu bisa mati nanti !”

Mendengar teriakan – teriakan itu, beberapa tokek mulai melorot dan tereliminasi satu persatu. Namun perlombaan belum selesai, masih ada satu tokek yang terus merangkak naik, perlahan tapi pasti. Penonton semakin mencemooh bahwa tidak mungkin mencapai puncak.

Seekor tokek yang kaya raya malah berteriak, “Hei, tokek, turunlah !, kalau demi rumah itu kamu berani berkorban dengan cara yang tidak mungkin, kau pakailah rumahku yang besar, sebab semakin tinggi kau merangkak, semakain besar risikomu jatuh”

Namun, semua kata kata itu tidak digubris si Tokek yang terus merayap anik perlahan. Hingga malam tiba, semua penonton mulai terdiam. Mereka melihat tokek itu konstan melangkah dan akhirnya …. Mencapai puncak.

Gegap gempita dan sorak sorai penonton pun meledahk melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi menjadi mungkin. Bahkan rekan rekan yang sudah tereliminasi pun ikut menagis terharu. Setelah diturunkan dengan tali khusus, beberapa penonton dan petinggi Negeri Binatang berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan sang tokek bisa mencapai puncak dan meraih hadiah rumah yang layak. Betapa kagetnya mereka, setelah diperiksa ternyata si tokek pemenang itu ternyata tidak bisa mendengar alias tuli bin budeg.

Ini adalah satu sebuah cerita yang saya kutip atas seijin penulisnya ( Terimakasih Pak Parlindungan Marpaung !) dari buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong’. Ceritanya membantu memotivasi setiap orang untuk dapat berprestasi tanpa pedulu pendapat miring orang lain. Cerita ini pula yang memotivasi saya menciptakan ‘Tomorrow Newspaper Today’ ( http://papario.wordpress.com ). Hasilnya, selain banyak cemoohan, tetapi juga banyak pujian. Perbedaan pendapat tidak menghalangi kita untuk menjadi seseorang yang berbeda. At least, kita telah mencoba berbuat sesuatu yang baik.

Mungkin, cemoohan seperti ini pula yang didapat para pendahulu kita yang dulu mencoba terbang, mencoba membuat kendaraan tanpa ditarik kuda, mencoba menyelam, mencoba terbang ke bulan. Maka yang merubah dunia menjadi lebih baik, adalah mereka yang memiliki semangat yang kuat dan kekuatan hati menghadapi isu negatif yang menurunkan semangat.

Kategori: Leadership · Life · buku
Ditandai: , , , , , , , , , ,

Telinga Ibu

November 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dikisahkan, seorang ibu yang baru melahirkan sangat terkejut ketika melihat bayi laki-laki yang baru dilahirkanya tidak mempunyai daun telinga. Untunglah, bayi itu masih memiliki fungsi pendengaran yang sempurna. Tidak ada yang dapat dilakukan orangtua bayi selain menerima takdir bahwa anak mereka yang pertama tidak memiliki kedua daun telinganya.

Hari berganti hari, waktu terus  bergulir sianak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang mampu bergaul dengan teman-teman sebayanya. Pelajaran di sekolahpun tidak menjadi masalah untuk diikutinya. Namun satu hal yang mengganggu adalah sindiran teman-temannya yang mengatakan bahwa dia manusia planet, ada lagi yang mengatakan dia adalah titisan dewa langit karena tidak bertelinga, bahkan ada yang melecehkanya supaya nanti besar bekerja di star trek saja. Sindiran-sindiran itu jelas menyakitkan hatinya. Tidak jarang dia pulang kerumah dalam keadaan menangis dan masuk dalam pelukan ibunya. Sang ibu dengan ketabahan yang luar biasa terus memotivasi si anak untuk mengembangkan potensinya dan meraih prestasi yang gemilang hingga duduk di bangku perguruan tinggi.

Hingga suatu kali, seorang dokter yang dikenal oleh keluarga itu mengatakan bahwa si anak yang sudah tumbuh dewasa ini dapat menerima cangkok daun telinga, dan cangkokan itu sudah ada disimpan beberapa waktu lamanya dari seorang donor. Mendengar berita itu giranglah hati sang anak, meskipun menyisakan pertanyaan siapa yang telah mendonorkan telinga untuknya. Operasi berjalan lancar dan suatu perubahan dalam diri anak terjadi, rasa percaya dirinya semakin meningkat seiring dengan prestasi yang diraih. Hal ini sekaligus mempercepat penyelesaian studi dan pencarian kerja.

Setelah ia menyelesaikan studi dan bekerja sebagai diplomat serta membangun keluarga yang dikaruniai 2 orang anak, ternyata rasa penasaran tentang siapa pemberi daun telinga belum terjawab. Sang ayah yang ditanyakan selalu menjawab “Suatu saat kau akan tahu, nak !”.

Hingga tibalah saat yang menyedihkan menimpa keluarga ini, sang ibunda tercinta meninggal dunia karena sakit. Saat akan memberikan ciuman terakhir pada jasad si ibu, sia anak terkesima ketika menyibakkan rambut ibunya. Ternyata ibunya tidak memiliki telinga. Teka teki yang selama ini mengganjal dalam batinnya terjawab sudah. Pantaslah selama bertahun tahun sang ibu selalu berkata bahwa ia lebih suka memanjangkan rambutnya. Rupanya ia tak ingin si anak tahu jika donor daun telinga itu adalah ibunya sendiri.

Disajikan atas seijin pak Parlindungan Marpaung, penulis buku ‘Setengah Isi Setengah Kosong. (Terimakasih Pak Parlin !).

Cerita ini adalah salah satu favorit anak anak saya. Maklum, sampai saat ini mereka masih suka minta di ceritakan sebuah cerita sebelum tidur.

Moral cerita ?. Rasanya tak perlu dijelaskan panjang lebar bahwa kasih ibu sepanjang jalan dan tidak terbatas pada segala sesuatu. Cintailah dan sayangilah ibumu karena beliau akan selalu memberikan segenap jiwa dan raganya untuk anak anaknya.

Kategori: Life · buku
Ditandai: , , , , , , , ,

Mengunjungi Perkebunan Kelapa Sawit di Pekanbaru dan Jambi

November 9, 2008 · 1 Komentar

Sewaktu kecil saya pernah diajak Bapak ke Pekanbaru dalam sebuah acara keluarga. Waktu itu saya cuman tahu bermain dan bermain di kampung. Bersepeda tanpa rem dan nyangkut di jemuran orang atau berenang di bendungan sampai hampir pingsan dikerubutin lintah.

Sekarang saya harus kembali kesana dalam suatu tugas. Kami berempat, Saya, Nday, Didi dan Nanang berangkat dari Jakarta naik Lion Air dan tiba sekitar jam 9:30. Disana sudah di jemput oleh Pak Triono – Sales Manager Pekanbaru dan Pak Saparudin Sinaga calon Sales Manager Medan yang saat ini sedang menjabat Unit Manager Pekanbaru.

Naik Fortuner kami diajak ke Sales Office Pekanbaru. Setelah briefing dengan para Agen disana siang hari kami diajak Lunch di sebuah restoran. Disana ternyata kami bertemu dengan beberapa tokoh masyarakat terkait dengan tugas. Setelah bersilaturahmi, sesuai dengan tugas utama, kami berangkat ke luar kota mengunjungi beberapa perkebunan kelapa sawit.

Sungguh kasihan para petani sawit. Dalam beberapa minggu harga minyak sawit (CPO) anjlok dari Rp. 2.000,- per kg menjadi Rp. 400,- per kg. Selain sekarang sudah tidak punya dana untuk membayar segala macam kredit ke bank atau tukang kredit, sentimen pasar internasional terkait sertifikasi ramah lingkungan dan krisis ekonomi di amerika menyebabkan pembeli berkurang jauh. Mereka seperti makan buah simalakama, diproduksi malah tekor, tidak diproduksi tidak punya penghasilan. Karena itulah kami kesana, melihat langsung bagaimana sesungguhnya keadaan para petani, memberikan simpati, mendiskusikan jalan keluar dan menawarkan bantuan.

06112008139 06112008148 06112008150 img_1278

Setelah 5 jam perjalanan ke luar kota, melewati jalan lintas sumatra, akhirnya kami tiba di sebuah desa yang letaknya sangat jauh masuk ke pelosok perkebunan sawit, yaitu desa Sialang Permai. Bayangkan sebuah desa yang tidak ada pasokan listrik sehingga mereka harus menyediakan generator sendiri dan baru menyala jam 5 sore, tidak ada telepon dan tidak ada rumah perawatan kesehatan. Jangankan Rumah Sakit, Puskesmas saja tidak ada.

Disini kami ngobrol dengan beberapa tokoh petani dan KUD. Sempat pula kami menyambangi rumah salah seorang petani yang baru saja meninggal dunia untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung.

Setelah cukup mengumpulkan informasi dan memberikan simpati kepada para petani, kami pulang. Hampir saja kami harus menginap karena sore itu Fortuner tergelincir gak bisa jalan karena hujan deras. Untung beberapa remaja membantu sehingga kami lolos dari lumpur.

Menginap ? Well, kalau bukan karena keterbatasan waktu, mungkin kami sudah menerima tawaran salah seorang tokoh pemimpin para petani disana ( walaupun suara yang berminat untuk nginap 50:50 ). Akhirnya malam itu kami kembali ke Pekanbaru, menginap di Hotel Pangeran.

Keesokan harinya kami meninggalkan hotel menuju Jambi yang membutuhkan waktu hingga 12 jam. Dalam perjalanan saya sempat membawa Fortuner selama 3 jam. Kendaraannya sungguh nyaman. Perjalanan kelok kelok, naik turun, aspal, tanah, batu, becek dan lumpur menjadi pengalaman yang berharga. Apalagi waktu berpapasan dengan truk truk besar – wuss – wusss, jaraknya cuma ‘serambut’ – begitu komentar Didi.

Diperjalanan kami sempat singgah di daerah Sorek di bawah jembatan sungai Siak makan Udang sungai yang ukurannya sangat besar. Rumah makan ini cukup ramai disinggahi karena ternyata disebelahnya adalah tempat pemberhentian lalu lintas transportasi sungai.

Di bawah jembatan sungai Siak - Riau

Di bawah jembatan sungai Siak - Riau

Setelah makan dan moto moto, kami berangkat. Di daerah Batu Ampar pas perbatasan Pekanbaru – Jambi, kami mampir di rumah salah seorang petani. Selain ngobrol dengan petani dan pekerjanya yang sedang menimbang dan mengangkut sawit ke dalam truk, kami juga sempat makan duren di pinggir jalan. Pak Sapar begitu semangat membelahkan kurang lebih 10 buah duren.

img_1291 img_1308

Kami tiba di Jambi malam hari dan menginap di Hotel Abadi.

Esoknya kami berangkat lagi ke perkebunan sawit. Pak Sapar jalan terpincang pincang. Ternyata gara gara makan duren, asam uratnya kambuh. Jadi kali ini Didi yang bawa Fortunernya. Kali ini medannya lebih berat. Tanah yang dilalui sangat licin karena habis hujan. Untung tidak ada acara dorong dorong mobil. Fortuner ternyata bisa diandalkan. Kami harus melalui beberapa jembatan kayu dan sempat berjumpa dengan beberapa orang suku anak dalam.

06112008157 06112008154 img_1292

Di Kebun Sawit Jambi, desanya lebih ramai. Walaupun tetap tidak ada pasokan listrik dan telepon namun rata rata mereka punya antena parabola dan mobil Kijang Innova, Jeep dan sejenisnya. Disini kami bertemu lebih banyak pemuka desa. Mulai dari Pak Kades, Ketua Kelompok Tani, Ketua KUD dan lainnya.

Setelah berdiskusi cukup lama, sore hari kami pulang kembali ke Jambi. Perjalanan pulang ternyata lebih cepat. Kami sempat makan empek empek di depan hotel sebelum tidur.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , ,

Bidadari di Surga

November 9, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sewaktu dalam perjalanan ke daerah untuk menjalankan ‘tugas negara’, biasanya selalu bersama satu Tim. Entah itu tim Investigasi atau Tim Pengajar atau Tim Riset dan Pengembangan. Selalu ada saja cerita lucu yang menghibur selama perjalanan.

Nday, teman sekamar saya dalam sebuah tugas ke luar kota bercerita bahwa dari sebuah ceramah oleh seorang ustad dia diberitahu kalau seorang pria mati dan masuk surga, maka disurga dia akan ditemani oleh 77 orang bidadari yang cantik cantik. Karena itu dia sekarang sedang menghafalkan nama wanita wanita cantik pujaannya seperti Charlize Theron, Sandra Bullock dan Rachel Weiz. Nama itu akan dihafal dan diingat terus sampai nglotok sehingga kalau ditanya malaikat bidadari seperti apa yang mau menemani dia, maka nama nama itu yang akan disebutkan.

Setelah mendengar cerita itu saya cuman tertawa. Tetapi kemudian saya tertawa ngebayangin  sesuatu dan menyampaikan kepadanya.

“Nday !, semoga harapanmu terkabul. Tapi saya pikir kamu jangan lupakan hal yang lebih penting”

“Apa itu ?”

 “Saya gak  bisa ngebayangin lebih lanjut apabila saat kamu dibangunkan dari kubur trus ditanya malaikat: ‘Marrobbuka ? (siapa Tuhanmu) ’, trus kamu jawab ‘Sandra Bullock !’. Trus ditanya lagi ‘Siapa Nabimu ?’ trus kamu jawab ‘Rachel Weiz’”.

 “wakakakakakakkk !’” Kami berdua trus tertawa terbahak bahak….. !

 Nday trus bercerita lagi tentang teman sekantor kami yang juga mendengar ceramah yang temanya sama tapi dari ustad yang berbeda. Namun temannya ini malah memble dan kecewa lantaran pak Ustadnya bilang bahwa secantik cantiknya bidadari yang akan menemani di surga ialah yang secantik istrinya sekarang.

 “Wakakakakakakakakakakakak !’ Kami tertawa lebih keras membayangkan bagaimana rupa wajah teman kami ini setelah mendengar itu.

 

Moral Cerita: Jangan pernah terlena oleh sebuah iming – iming atau kendala sehingga melupakan prioritas.

Kategori: Diary
Ditandai: , , ,