Saya jarang nonton TV. Kecuali kalo lagi dipanggil sama sang kekasih, “say, kesini say, ada berita heboh …’, atau lagi bener bener gak da yang dikerjain lagi. Lebih banyak TV digunakan untuk nonton DVD atau main game.
Bulan ramadhan lalu pun, nonton TV – lebih banyak untuk nungguin bedug maghrib. Nah, disela-sela acara, lewatlah iklan ‘cumi’ Indosat. Serial iklan ‘cumi’ yang menampilkan Adli Fairuz dan rekan rekannya menjadi bagian dari kultum menjelang bedug.
Kreatifitas para kreatifis di biro iklan memang hebat. ‘Cumi’ yang sebelumnya adalah bahasa gaul yang tidak populer akhirnya menjadi populer. ‘KucingIklan‘ Si pembuat iklan yang gak nyangka cuminya ‘nyangkut’ di benak orang banyak kena batunya. Ketika dia eye-shopping di kios ponsel, nanya – nanya dan gak bli, si SPG nyletuk ‘dasar CUMI, cuma milih-milih doang !’. wakakakakkk…..
Iklan ‘cumi’ biarpun cumi (cuma iklan) akhirnya berhasil ngetrend. Tapi menurut saya yang harus menjadi perhatian, satu hal negatif dari sana jangan ditiru. Ungkapan ‘cumi’ adalah satu dari sekian banyak umpatan. Kelihatannya sih halus. Tapi bila mulai SARA ( Suku – Agama – Ras, dan Anatomi ), ya jadi kasar lah !.
Ketika anak – anak hafal iklan ini, trus melihat orang cacat wajah ( red: bibir) trus nyeletuk cumi (alias cucah mingkem), ya kan jadinya gak bener. ‘KucingIklan’ si pembuat iklan punya temen yang dosen yang tega mengatai anaknya cumi – karena memang susah mingkem.
TV memang susah dilarang kepada anak – anak. Kita lahyang memberi pengertian apa yang baik dan boleh ditonton di TV. Saya cuma berharap, gak ada umpatan umpatan baru di sekitar kita. Jangan sampai setelah musim cumi lewat, datanglah Onta ! – On taimer, Kebo ! – Kena bo’ong, dll.
Saya teringat satu artikel di majalah Femina lama yang saya sudah lupa edisi kapan namun ketemu cuman satu potong halaman, sebuah tulisan dari TINA SAVITRI dan Ira Puspitowati tentang Peter Pan Syndrome.
Ira menulis, Peter Pan Syndrome adalah sindrom Pria yang ‘menolak’ menjadi dewasa. Saya cuplik artikelnya sebagai berikut :
“….Setiap manusia memiliki tahapan dan tututan perkembangan dalam hidupnya. Batita dituntut belajar berjalan dan berkomunikasi, remaja dituntut belajar dan bersosialisasi, dewasa dituntut untuk hidup mandiri, berkeluarga, dsb. Pria dan wanita biasanya memiliki tuntutan yang berbeda karena pola asuh keluarga dan lingkungan.
Ada yang lancar melewati setiap tahapan tersbut ada yang tertatih tatih. Bila seoprang pria terus bersikap kekanak kanakan, maka dapat dikatakan dia mengidap sindrom Peter Pan. Pria semacam ini umumnya cenderung tidak bertanggung jawab, sulit berkomitmen, senang menentang norma / aturan, mudah marah jika keinginannya tak terpenuhi, cenderung manipulatif, selain itu juga cenderung narsis (terlalu mencintai diri sendiri).
Belum ada catatan ilmiah tentang ini dalam ilmu psikologi klinis setidaknya dalam kitab ‘Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder‘ edisi terbaru. Nama Peter Pan dipakai mungkin karena ia memang ‘menolak’ menjadi dewasa karena tak mau kehilangan masa kanak kanaknya. Namun Ira menambahkan, dalam ilmu psikoanalisa, Carl Gustav Jung (tokoh psikoanalisa) pernah mengungkapkan konsep ‘The Eternal Youth’ atau ‘Puer Aertemus’ yang mirip Peter Pan Syndrome.
Jung menganggap ’surga masa kecil’ memiliki kesan teramat mendalam terhadap alam tidak sadar seorang Individu, sehingga setelah dewasa pun dia selalu berusaha mempertahankan surga tersebut dalam hubungannya dengan orang lain dan menjadi ‘gangguan’ buat lingkunnya.
Sejauh ini yang menjadi kambing hitam adalah pola asuh yang salah semasa kanak kanak. Misalnya kalau anak melakukan kesalahan, orang tua selalu membelanya. Orang tua yang terlalu melindungi anaknya selalu turun tangan dalam setiap masalah anaknya, terlalu menuruti permintaan anak akibatnya meski sudah dewasa tetap saja seperti anak anak.‘
Namun Tina menyampaikan bahwa bila kita analisa cara cara wanita memperlakukan pria, pria seperti ini juga berasal dari para wanita. Secara natural wanita dianugrahi sifat senang merawat, memelihara, memperhatikan, khususnya pada orang orang yang dicintai, dan sangat menikmati peran itu. Perlakuan ini membuat sang pria menjadi manja dan kekanak-kanakan. Sang pria menemukan figur yang nyaman pengganti ibu.
Kalau suami jatuh sakit, sang istri biasanya akan memanjakan lebih dari biasanya. Minta makanan ini dituruti, minta dipijat dilayani, dan sebagainya. Menyadari hal ini, pria menjadi tricky, dikepalanya akan timbul, bila ia sedang sakit, maka ia boleh bersikap manja.
Namun begitu, umumnya pria hanya mau memperlihatkan sisi sisi lemahnya kepada orang orang yang selama ini membuat dirinya merasa nyaman. Hal ini adalah normal dan dihadapi saja dengan santai. Bukankah perkawinan memang ajang untuk bertoleransi ?. Kecuali jika berlebihan, bersifat menetap, dan ‘menganggu’ atau ‘menyiksa’ orang lain maka layak dikategorikan ‘orang sakit’ dan dapat dikategorikan mengidap ‘Peter Pan Syndrome’.
Bagian dua : Tentang Saya
Melihat foto diatas, boleh saja diambil kesimpulan bahwa saya cenderung punya sindrom tersebut. Saya gak nyangkal, karena gejala gejala dalam bagian satu diatas ternyata saya punya. Salah satu contohnya, ya foto diatas.
Beberapa gejala lain adalah kesukaan saya baca komik, main video game sendiri maupun bersama anak – anak. Tapi komunitas gamer sangat banyak anggotanya bahkan usia 30 keatas. Apakah sindrom ini memang sebuah fenomena alam ?. heheheheh….
Bagian Tiga: Help me.
Satu lagi, saya punya saudara dekat menderita sindrom ini sangat akut. Tapi wanita. Usia sudah diatas 25 tahun, tubuhnya normal, namun jiwanya betul betul masih anak usia 7 tahun !. Ada yang bisa bantu menjelaskan fenomena ini ?.
Bagian Empat: Most Japanese have this syndrome ?
Jepang adalah negara yang hampir seluruh mereka suka akan komik, game, robot, tokoh komik / game. Sampai sekarang mereka gandrung jadi Cosplay. Apakah ini juga kecenderungan massal akan Peter Pan Syndrome ?. Bwehehehehhh…….
Belakangan ini saya banyak menghadiri undangan undangan. Kalo habis lebaran begini ya pastinya banyak undangan Halal bi Halal. Mulai Halal Bi Halal di Kantor, di rumah Bos, sampai di RT. Beberapa undangan Nikahan anaknya temen sudah mulai berdatangan. Hm, padahal usia saya baru 40. Sudah banyak temen yang menikahkan anaknya.
Heheh,saya jadi ingat guyonan sore – sore di kantor sama temen temen yang sekarang udah gak kerja di kantor sini lagi. Sapa ya ?. Hamzah yang sekarang di Lippo dan Pak Bun ( Bunyamin) yang sudah lama pensiun. Katanya, undangan yang diterima seseorang itu mencerminkan generasi si penerima undangan. Beda generasi beda undangannya. Seperti berikut :
- Yang sering menerima undangan temen ulang tahun berarti dia masih anak – anak atau remaja.
- Yang sering menerima undangan temen nikahan atau nujuh bulanan berarti dia sudah mau lulus kuliah, atau sudah kerja.
- Yang sering nerima undangan pindahan ke rumah baru berarti dia sudah punya jabatan.
- Yang sering nerima undangan Nikahan Anaknya temen, berarti dia sudah setengah baya dan anaknya sudah besar besar.
- Yang sering nerima undangan Tahlilan temen yang baru meninggal berarti …. sebentar lagi dia mau nyusul…..
Hari Minggu ini adalah hari libur terakhir lebaran ini. Besok Senin udah masuk. Mamanya anak – anak mengajak jalan – jalan ke Grand Indonesia. Mall baru di daerah bunderan HI. Ya kita kesana deh siang – siang.
Ternyata Mall nya cukup besar, megah dan mewah. Paling banyak pengunjungnya keturunan Tionghoa. Parkir di Lt. 3, masuk trus ke atas sudah nyampe di Blitz Megaplex. Tadinya mo nonton Laskar Pelangi. Cuman karena belum baca resensi, dan belum kedengaran ‘heboh’-nya sperti Ayat Ayat Cinta, maka kita gak jadi nonton. Film lain sperti Chocolate, In The Name Of The King, dan lainnya udah nonton di DVD hasil donlotan dari Internet. Maka kita puter – putar saja.
Grand Indonesia punya motto ‘Crossroads The World’ (Persimpangan Dunia). Makanya di dalamnya ada area area negeri negeri seberang, sepeti Negeri Belanda dengan Kincir angin raksasanya, Negeri Cina dengan Bambu dan lampionnya, negeri Arabia dengan bangunan uniknya, termasuk area Melayu. Sebenarnya Grand Indonesia terbagi 4 ‘distrik’: Market Distrik, Fashion District, Garden District dan Entertainment District.
Kami main sebentar di Fun World abis Rp. 100.000,-. Tapi sepertinya itu gak seberapa dibandingkan sama para pengunjung lain ( yang sebagian ebsar keturunan TIonghoa ) yang sepertinya menghabiskan lima sampai sepuluh kali lipatnya. Kartu kuponnya saja hasil bermain bisa dikumpulkan dalam satu kantong plastik !.
Lapar, kami mampir ke Food Courtyang didisain dengan unik. Agak sempit, tapi nyaman. Cukup banyak kios makanan khas Indonesia dan asing disini. Tinggal pilih. Sedaaaap. Saya makan steak ikan kegemaran.
Sudah sore, kami pulang, tapi mampir sebentar ke area Magic Fountain Show. Itu lho, air mancur menari dan bernyanyi yang dipertunjukkan setiap satu jam sekali. Waah, anak anak senang sekali. Pertunjukannya bagus. Musiknya bagus, kebyaran warna warni lampunya bagus, tarian air mancurnya juga bagus.
Pertunjukannya lumayan singkat : 10 menit saja. Tapi puaslah. Kalau saja areanya lebih luas, barangkali bisa lebih spektakuler. Akhirnya kami pulang dengan rasa puas. Mampir sebentar di Buaran Plaza, makan malam di Solaria, trus pulang deh.
Ayo, buruan datang ke Grand Indonesia nonton Musical Fountain Show, dan berceritalah sebelum diceritain orang lain!.
Istri saya memanggil saya Mr. Complaint. Gak usah tanya kenapa, saya mengakuinya. Setiap apa saja yang menurut saya gak bener ato salah, selalu komplen. Apa aja sih yang saya komplenin ?, hmmm, coba baca ini. Saya selalu ngoceh / komplen apabila :
1.Ada orang bodoh bawa mobil gak ngasih sen kalo mau pindah jalur ke kiri ato ke kanan. SIM nya nembak ya ?.
2.Ada orang bodoh bawa anak anak berjalan di pinggir jalan, tetapi anaknya malah berada pada posisi ke jalan dan orang tua yang membawa malah di posisi ke pinggir. Kemana otaknya ?
3.Ada orang bodoh jalan kaki gak di trotoar padahal kosong sehingga ngalangin jalan mobil. Lha, orang Jakarta emang udah gak kenal trotoar lagi yak ?.
4.Ada pedagang bakso bodoh yang ngasih micin terlalu banyak. Mo ngracunin konsumennya apa ?
5.Ada orang super bodoh mengendara mobil sambil ber hape ria di satu tangannya. Sudah 3 kali sedan saya diserempet dan di tabrak dari belakang oleh pengendara mobil seperti itu. Satu diserempet Kijang hitam di dekat Pasaraya Manggarai tapi dia trus ngloyor pergi, satu disruduk dari belakang sama tante – tante lagi ngantri di pintu tol keluar Jati Bening, gak minta maaf, terakhir disruduk APV di kemang, gak minta maaf. Udah bodoh, gak tau yang namanya wireless atau head set / hand set – arogan lagi !.
6.Ada pengedara sepeda motor bodoh ber hape ria di jalur cepat. Di tan- tin – tan – tin baru minggir. Membahayakan diri sendiri.
7.Ada tukang bajaj bodoh bawa bajaj-nya nyante jalan di tengah tengah jalur antara jalur lambat dan jalur cepat. Woooi !, emangnya jalan milik nenek moyangmu apa ?.
8. Ada orang parkir mobil di parkiran basement Mall, tapi mesin dibiarin nyala terus, sopirnya tidur didalamnya. Ini dia nih yang bertanggung jawab atas keracunannya orang orang Mall sampe muntah muntah. Woi, bensin itu mahal !, dasar orang mubazir !. Pengelola parkir juga tidak tegas sih !.
9.Dimintai uang parkir sama tukang parkir liar di dalam parkir Senayan padahal sudah bayar di pintu gerbang masuk. Gak abis pikir, lokasi untuk event Internasional masih tidak mampu diselenggarakan dengan tertib. Kok masih ada ya keliaran disitu. Gak abis pikir. Gak betah ke senayan. Kapan Indonesia bisa maju ?.
10.Ditarik tarik calo taksi di Soekarno Hatta. Gak abis pikir. Bandara Internasional kok ya gak bisa menertibkan hal sederhana macam begini. KAPAN INDONESIA BISA MAJU !. Malu aku.
Bah, cape komplen. But if you agree with me, join me.
Kalian tahu USB kan ?, itu salah satu model konektor (I/O) perangkat komputer maupun elektronik lainnya yang palin gpopuler sekarang ini. Implementasinya telah merubah banyak dalam perkembangan dunia TI. Beberapa hal yang bisa dicatat disini, peran USB dalam merubah dunia TI antara lain :
Hilangnya penggunaan disket floppy,
PenggunaanUSB di hampir semua peralatan komputer, mulai dari keyboard, mouse, fashdisk, External, Harddisk, modem, printer, dll. ,
Penggunaan USB di luar dunia komputer, seperti TV, DVD player, MP3/radio/music player, kamera digital, gadget anda, didalam mobil anda, bahkan penggunaan USB untuk peralatan professional seperti peralatan seismograf, peralatan kedokteran ,peralatan militer dam peralatan professional lainnya,
Berkurangnya penggunaan media seperti Mini DV dan DVD sejak transfer data dari peralatan tersebut telah menggunakan USB.
Namun ironisnya, USB pun yang pada akhir abad 20 didisain untuk efisiensi namun lebih cepat dari segi transfer data, ternyata tidak berhasil memenuhi harapan penciptanya.
USB atau Universal Serial Bus didisain untuk efisiensi penggunaan konektor antar peralatan komputer. Sepuluh tahun yang lalu, peralatan komputer memiliki berbagai macam standar koneksi. Koneksi antara PC dengan keyboard, mouse, disk, printer, berbeda beda. Termasuk juga peralatan lainnya.
Dengan adanya USB, semua menjadi efisien, karena konektifitas antar peralatan kini menjadi satu standar. Namun salah satu konsep efisiensi USB yang tidak tercapai adalah disain untuk koneksi secara serial. Setiap PC maupun perangkat – perangkatnya diharapkan hanya memiliki satu koneksi USB input dan output. Sehinga misalnya, sebuah PC hanya bisa dicolok oleh salah satu perangkat, misalnya Keyboard, lalu mouse dicolok ke Keyboard, Printer dicolok ke mouse. Demikianlah yang diharapkan oleh penciptanya sehingga setiap perangkat lebih efisien dalam menempatkan I/O port ditubuhnya.
Dengan kegagalan ini, apabila dalam 5 tahun kedepan tidak terjadi perubahan, maka barangkali nama USB kita usulkan saja untuk dirubah menjadi UPB atau Universal Parallel Bus.
Ramadhan ini memang rejekinya anak anak. Bayangkan, setelah minggu ke dua ramadhan ikut training ESQ nya Ary Ginanajar Agustian selama dua hari penuh tanpa membatalkan puasa, minggu terakhir ramadhan ini mereka ke Kidzania.
Awalnya, Priska janjian sama teman teman sekolahnya. Tapi gagal karena tempat penuh. Untung minggu terakhir ini tidak ramai. Jadi Rio dan Priska sepakat untuk pergi berdua saja. Tapi sayang Rio gak jadi ikut. Begitu dibangunin pagi pagi dia nolak, ya jadinya hanya Priska saja yang pergi. Saya mengantarkan pagi pagi sekali ke Gedung Pacific Place di SCBD (Sudirman Central Business Distric). Karena ragu ragu lewat jalan Sudirman karena hari minggu itu adalah hari ‘hari tanpa kendaraan’, maka saya masuk SCBD lewat jalan Senopati.
Masuk Kidzania
Ini yang pertama saya datang ke Pacific Place. Ternyata ia sebuah mall. Pagi itu yang ada cuman satpam. Maklum baru jam 7:30 pagi. Setelah parkir di B2, kami naik ke lantai 6. Loket baru dibuka. Langsung saja saya belikan Priska satu tiket untuk periode jam 9:00 sampai jam 14:00. Wuiih, 5 jam !. Lumayan lama. Sebandinglah untuk Rp. 155.000,-. Selain tiket, Priska dapat ’kartu asuransi’, ’cek’ senilai 50 Kidzos (mata uang Kidzania) dan peta kota Kidzania.
Kami menunggu jam 9:00 tiba. Selama itu, pengunjung berdatangan makin ramai. Jam 9:00 anak anak dipanggil untuk ngantri masuk. Setelah cium tangan, Priska ngantri. Di Pintu dia diberi gelang identitas. Daah, enjoy ya !. Jangan nakal yaa !…..
Nah sekarang bagaimana nasibmu sang pengantar ?. Akhirnya saya keliling keliling saja dari lantai basement hingga lantai 6 lagi hingga jam 10:00 hingga toko toko pada buka. Mampir mampir sebentar, lihat elektronik, lihat buku, lihat menu makanan di resto. Jam 12:00 sholat sebentar di musholla lantai 4. Wah masih dua jam lagi. Akhirnya nongkrong di toilet selama 45 menit sambil main game di laptop. Itu cleaning service toilet bingung kali, kok ada orang betah hampir satu jam nongkrong di wc… hihihihhi. Keluar dari sana, saya nunggu di depan KIdzania. Jam 13:30 saya disuruh masuk sama petugas Kidzania untuk jemput Priska. Setelah dipakaikan gelang, saya masuk.
Sesuai perkiraan, Kidzania cukup luas. Tapi tak seluas yang saya bayangkan. Mereka hanya menempati setengah lantai. Setengahnya lagi dipakai BlitzMegaplex. Disini adalah miniatur kota kecil. Ada gedung balaikota, ada kafe, ada bank, ada stasiun TV, ada pabrik es krim, toko pizza, ada pemadam kebakaran, kantor polisi dan lain lain. Disini anak anak bebas berperan apa yang dia suka. Mereka boleh jadi polisi mengatur lalu lintas, jadi penyiar TV, jadi bankir, jadi pilot, dan lain lain. Selesai berperan mereka dapat ‘upah’.
Disini mereka juga boleh berleha-leha makan minum di cafe, makan pizza, makan eskrim tapi harus beli dengan kidzos mereka.
Setelah muter muter, di call susah, akhirnya ketemu. Sambil menunggu waktu habis, dia masih sempat berperan sebagai Baby Nursery dan Petugas Pelayan Pom Bensin. Begitu waktu habis, para petugas menyanyikan lagu penutup di teras balaikota. Setelah itu kita semua keluar. Lumayan, Priska puasanya masih poll, dan dia ngumpulin uang 130 kidzos dari hasil ‘kerja’ selama ini.