Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Masukan dari September 2008

Agama Muslim dan Non Muslim ?

September 7, 2008 · 1 Komentar

Untuk yang kesekian kalinya telinga saya gatal. Bagaimana tidak, Pembaca Do’a itu ngawur..!. ngawur sekali…!. Ini sudah yang keberapa kali saya mendengar mereka berkata seperti ini: ‘…untuk yang beragama Muslim, silakan mengikuti do’a saya, untuk yang beragama non muslim silakan berdoa menurut kepercayaannya masing – masing ….’.

Mana ada itu yang namanya agama muslim dan agama non muslim ?. Yang saya tahu dari dulu sampai sekarang, agama – agama itu antara lain, agama Islam, Agama Kristen, Agama Katolik, agama Hindu, Agama Budha. Ini perlu diluruskan. Saya memang suka ‘gatal’ dengan kesalahan yang mungkin orang anggap kesalahan kecil.

Muslim bukan agama. Muslim adalah orang yang menganut agama Islam. Non Muslim adalah orang yang tidak menganut agama Islam. Jadi, jangan sampai bikin agama baru ya pak kyai !.

Kategori: Curhat
Ditandai: , , ,

Calon Pemimpin Digembeng Ramadhan ini di ESQ

September 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kriing.. beberapa hari yang lalu marketing ESQ menelpon saya. Biasa !, alumni selalu diajak untuk ikut agar recharge. Padahal saya merasa sudah lebih baik sejak ikut ESQ tahun 2006 lalu. Tapi orang bilang ‘ojo rumongso’, sayangnya semangat untuk recharge belum kuat. Salah satunya juga karena saya merasa tidak ‘turun’ kualitas ESQ saya.

Setelah ngobrol sebentar, saya inisiatif untuk mendaftarkan Rio. Setelah konfirmasi dengan Rio dan mamanya, mereka setuju. Tapi ternyata adiknya: Priska, mau juga. Yo wis lah, sekitar satu setengah juta rupiah di ‘investasikan’ untuk membangun mental penerus bangsa yang hebat dan teladan. Rio ikut ESQ for Teens sedangkan Priska ikut ESQ for Kids yang berlangsung hari Sabtu dan Minggu, 6 – 7 September 2008. Mudah mudahan ramadhan ini membawa berkah kepada keluarga kami. Amin.

Sabtu pagi jam 5:30 pagi kami berangkat ke Graha 165 di Simatupang, Cilandak. Pagi itu belum ramai, jadi registrasinya nyaman. Karena begitu jam 7 tiba, para ortu registrasi sampai ngantri.

Tadinya saya mau ikut recharge di lantai 2. Kebetulan ada kelas reguler. Tapi saya memilih untuk ikut briefing ortu. Ternyata 50% lebih anak – anak yang ikut ESQ ini ortunya sudah alumni. Bahkan dari sebagian peserta, ada juga anak anak yang alumni ikut lagi. Waktu mereka masuk, waduh antriannya rame. Satu ruangan ada sekitar 60 – 70 anak.

Hari pertama selesai jam 18:00. Mereka berbuka di Gedung 165 sementara orang tua yang gak nyiapin bekal, cuman ngiler aja. Syukur anaknya bagiin sebagian makanannya.

Hari kedua, kedua orang tua ikut masuk bergabung. Ha, seru nih. Ada pengakuan dosa dan tangis tangisan. Ditutup jam 18:00. Alhamdulillah orang tua sekarang dapet air mineral dan kurma untuk buka puasa.

Kategori: Diary · Kids
Ditandai: , , , , , , , , , ,

Yogya lagi. Malioboro lagi.

September 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Belakangan ini jadwal mengajar para staff dan para selling agak padat. Sepanjang Agustus 2008 ini sudah dua kali ngajar. Seharusnya lebih, tapi sebagian saya minta rekan saya Bu Etty dan Mas Dedy yang ngajar. Hah, distribusi pekerjaan kan sebagian tugas saya.

Tapi kali ini, jadwal ke Yogya tidak dapat di wakilkan. Padahal saya sedang tidak berminat ke luar kota. Ya gak apalah. Sekalian refreshing karena belakangan ini biorithm saya lagi kurang bagus. Terutama di Psikis. Agak tertekan dengan beban pekerjaan yang menumpuk.

Setelah dapat ijin dari Boss, saya berangkat naik kereta ke Yogya bersama Nday. Dia itu seperti kamus berjalan. Bayangkan saja, untuk nulis gelarnya saja panjangnya tiga kali lipat lebih panjang dari namanya. Jaid kalo diajak diskusi asik asik aja. Maklum, sebagai seorang INTP ( Introvert, iNtuitif, Thinking dan Perceiving) materi obrolan suka ‘meloncat loncat’ dengan cepat. Hebatnya dia bisa mengikutinya. Entah hanya untuk menghargai, atau memang hebat. J . Orang kedua yang saya ingat bisa mengikuti alur berpikir saya yang cepat meloncat ( Yang pertama adalah mantan Boss, P. Tedjo).

Lokasi menginap dan mengajar, di Hotel Brongto. Baru denger nih. Kedengarannya mirip Brongto saurus. Ternyata hotel ini memang tidak terkenal untuk turis lokal, tapi sangat terkenal di Mancanegara. Hotel ini katanya memang spesialis untuk para ‘turis interlokal’.

Benar saja, begitu kami tiba di Hotel, labi banyak bule yang hilir mudik dibandingkan pribumi. Jadi, yang nginep disitu hanya para bule dari Belanda dan Jerman serta anak anak yang mo ikut training selama tiga hari ini.

Hotelnya bukan hotel bertingkat tinggi. Halaman masuk dan parkirnya sangat luas. Mungkin disediakan khusus untuk bis – bis ( atau bus – bus ?) pariwisata. Tadinya saya pikir ini hotel kelas melati. Murahan, untuk bule bagpacker. Tapi ternyata cukup bagus dan bersih. Bentuk dan disainnya seperti Sendik ( Sentra Pendidikan ) BRI kebanyakan. Seperti wisma bagi para karyawan. Ada juga sih bungalow – bungalow.


Hari pertama ngajar, saya tertawa sendiri. Bayangkan saja, ruang meeting kaca pintunya terbuka pas didepan kolam renang dimana para bule, remaja dan anak- anaknya ramai berenang disitu berbikini ria. Jadi konsentrasi pengajar agak terganggu. Terutama matanya.


Habis ngajar hari pertama, hari kedua seharian free. Mo jalan jalan tapi sebenarnya gak punya duit. Bayangkan saja, SPJ sampai hari ini blom dikasi. Keterlaluan. Tapi akhirnya brangkat juga. Tidak ada tempat lain yang saya tahu untuk dikunjungi termasuk Nday dan Titin, selain Malioboro. Ya sudah, kesanalah kami naik becak. Saya dan Nday berdua, Titin sendiri.

Disana saya beli – beli batik. Karena Rio sudah lama pingin punya baju batik. Beli juga buat istri tercinta dan Priska, buat persiapan lebaran. Bliin juga buat Nyokap, Mertua dan ponakan ponakan. Habis sekitar satu setengah juta rupiah ‘saja’.

Salah satu kemeja batik yang saya beli, sama dengan yang dibeli Nday. Padahal itu buat dipakai hari Jumat ke kantor. Jadinya kita harus janjian dulu kalo mo pake batik itu. He he heh.

Hari ketiga ngajar lagi. Besoknya pulang deh. Naik kereta.

Kategori: Diary · Travelling
Ditandai: , , , , , , ,

Lab School Rawamangun Kebakaran

September 7, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Malang sekali nasibmu nak, 30 Juli 2008 lalu tiba tiba mendapat SMS dari ortu siswa Lab School bahwa sekolah kebakaran pada siang hari tadi. Sorenya saya dan istri tercinta langsung menuju lokasi. Priska ikut. Lha wong itu sekolahnya dia. Untung hari itu hari libur. Coba kebakarannya pada hari sekolah……. gawatttt !.

Sesampai dilokasi, cukup ramai orang. Ada banyak mobil pemadam. Tapi lagi beres – beres. Kebakaran sore itu sudah padam. Banyak orang tua datang berkunjung.

Setelah parkir di sekitar kampus dekat SD Labs, kami berjalan kaki kearah gedung teater. Gedung Sekolah TK, SMA, SMP dan SD Labs itu menyatu di satu gedung yang berbentuk persegi panjang, yang diberi dua garis di antaranya. Gedung teater itu nempel disebelah dinding SMP.

Benar saja, disekitar jalan sudah diberi pita kuning polisi ‘ dilarang masuk’. Namun karena banyak orang masuk, dan ‘tidak dilarang’ beneran, kami masuk ke lokasi. Gedung Teater ludes terbakar.

Kami lalu masuk lebih kedalam, ke gedung SMP. Waduh, disitu sudah ramai anak anak murid SMP tersebut dengan para orang tuanya. Mereka sibuk jeprat jepret gedung sekolah mereka yang terbakar.

Api yang katanya bersumber dari Gedung Teater, menyambar gedung SMP yang nempel disebelahnya. Seluruh lantai 3 ludes terbakar. Untungnya, lantai 1 dan 2 utuh. Anak TK dan SMA lebih beruntung lagi. Gedung mereka utuh sama sekali. Rupanya angin berpihak pada mereka.

Kami mau menuju gedung SD di sebelah SMP. Namun karena sangat padat manusia dan ternyata jalan ditutup, kami keluar kembali ke gedung teater dan berjalan di koridor terbuka menuju pintu masuk SD.

Sepanjang jalan, kanopi plastik sebagai pelindung nak anak SD dari panas dan hujan, meleleh. Dari jalan di koridor kami menyaksikan seluruh lantai 3 sepanjang SMP dan SD sudah hancur.

Subhanallah !. Ada keajaiban. Musholla 3 lantai yang menyatu dengan gedung SMP dan SD utuh !. 3 lantai utuh !. Subhanallah. Bagaimana bisa api yang menghabisi seluruh lantai 3 SMP dan SD, bisa menyisakan lantai 3 musholla.

Kami lalu masuk kedalam gedung SD. Disitu pula sudah banyak siswa dan orang tua murid. Hari itu hari libur. Tapi karena kecintaan mereka pada sekolah, mereka menyempatkan juga datang menyaksikan sekolah mereka sebagian di lalap api.

Kami berdiri di tengah lapangan sekolah. Seluruh lantai 3 SD sudah tidak kelihatan sama sekali. Dari tengah lapangan itu pula sekali lagi terlihat lantai 3 musholla yang berdiri tegak utuh tak tersentuh api.

Esok harinya anak anak libur sekitar 3 hari. Mereka kemudian terpaksa numpang di SDN 13, 14 dan 15 Rawamangun untuk sementara waktu. Dengan terpaksa pula mereka masuk siang. Jam 13:00 dan pulang jam 18:00. Kasihan ya, mereka.

Bulan september ini, keluar pengumuman bahwa setelah dicek, ternyata gedung lantai 1 dan 2 masih layak guna. Jadi pemerintah tinggal membangun lantai 3 saja. Anak anak SD Labs bulan puasa ini sekarang sementara sudah bisa sekolah kembali di sekolahnya, walaupun harus berbagi waktu. Sebagian masuk pagi dan sebagian masuk agak siang, sampai menunggu waktu pembangunan lantai 3.


Kategori: Diary · Miracle Story
Ditandai: , , , , ,