Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Masukan dari Maret 2008

Meet The Demit

Maret 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Meet The Demit (Sebuah Skenario)
Komedi Horror
Bukan Lanjutan Filem Horror

Steve yang berkewarganegaraan Inggris adalah seorang eksportir ukiran jepara. Untuk memudahkan usahanya, dia berniat menikah dengan gadis lokal. Dalam suatu ketika ia berkenalan dengan seorang gadis yang bernama Tini yang ternyata bersedia menjadi istrinya.

Sehari setelah menikah, Steve baru tahu bahwa istrinya dan keluarganya adalah mahluk halus. Steve tidak dapat melarikan diri karena ancaman Bapak mertuanya: Pak Demit. Namun Steve juga harus bisa menghadapi ‘paman-paman’ genderuwo dan ‘bibi-bibi’ kunti nya Tini yang tidak sepakat dengan perjanjian keluarga Demit bahwa Steve tidak boleh diganggu. Belum lagi ponakan – ponakan tuyul – tuyul yang setiap hari selalu mencuri uangnya.

Bagaimana caranya Steve dapat menghadapi semua itu ?. Haruskah Steve meninggalkan Tini yang dicintainya ?.

Lengkapnya untuk tertawa terbahak bahak, baca di papario.blogspot.com/scenario/MeetTheDemit

Kategori: Great Idea · Skenario
Ditandai: , , , ,

Beli Apartemen

Maret 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Akhirnya terbayar juga booking fee untuk membeli sebuah apartemen di Jakarta Timur. Mudah – mudahan waktunya tepat. Waktu pensiun sudah tinggal 15 tahun lagi. Masih cukup lama untuk hidup, tinggal, kerja di Jakarta, dan sudah tinggal sedikit waktu untuk mempersiapkan masa pensiun.

Tidak perlu tinggi – tinggi, cukup di lantai 5, dengan katanya fasilitas bank, atm, restoran, shopping, dll. Ada kolam renangnya lagi. Jadi gak perlu jauh jauh kalo mau berenang bersama anak anak.

Ada yang bilang saya nekat. Karena dengan kondisi perusahaan yang kurang bagus kok nekat nyicil apartemen. Mungkin saja. Tapi mungkin juga inilah waktu dan pilihan terbaik. Thanks pada pemerintah dengan proyek apartemen 1000 tower bersubsidinya. Urusan rejeki dimasa depan ya ditangan Tuhanlah.

Baru siap dihuni Agustus 2009, Insya Allah kehidupan keluargaku akan baik baik saja, tercukupi rejeki mereka dan merasa betah dan nyaman disana.

Rencananya sih pensiun nanti, tetap gajian setiap bulan (dari DPLK) tapi lebih prefer tinggal di pinggir kota. Pingin jadi petani kebun hidrofonik dan jadi da’i. Mudah mudahan nanti ada rejeki lagi buat beli tanah di luar kota.

Jakarta, 26 Maret 2008
Papario

Kategori: Diary
Ditandai: , ,

Cinta Kipli

Maret 26, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Cinta Kipli (Sebuah Skenario)
Roman Komedi

Liburan kenaikan kelas, Kipli sedih. Karena semua teman temannya berlibur ke luar kota bersama orang tuanya. Sedangkan Ayahnya yang katanya menjadi TKI di Malaysia mengirim surat, bahwa liburan ini beliau tidak bisa pulang.

Pucuk dicinta ulam tiba ketika ia bertemu Fandi – Menantu Pak Haji, yang bandnya mau manggung di Malaysia. Ia melonjak kegirangan ketika ia ternyata diajak ikut tim band ke Malaysia. Ia mau bertemu Ayah nya. Alamat yang ada di surat di simpan baik – baik.

Namun apa yang terjadi ketika sesampai di Malaysia, Kipli malah di culik sekawanan penculik yang meminta tebusan. Kipli yang bingung memikirkan apakah ayahnya sudah jadi jutawan di Malaysia lalu berhasil melarikan diri dan bahkan bertemu dengan Zul ( sasaran penculik yang sebenarnya) yang wajahnya mirip sekali dengan dirinya yang ternyata anak seorang milyarder pengusaha Amusement Park.

Apa yang akan dilakukan Kipli ketika kemudian Zul berhasil tertangkap para penculik ?. Bagaimana perasaan Kipli ketika tahu ternyata ayahnya ternyata bukan TKI di Malaysia ?, Bagaimana usaha Fandi menemukan Kipli ?.

Baca skenario lengkap di: papario.blogspot.com/scenario/kipliland/

(C)Papario, Maret 2008

Kategori: Great Idea · Skenario · sastra
Ditandai: , , , , , , ,

Aku Bukan Selebriti

Maret 17, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Aku Bukan Selebriti (Sebuah Skenario)
Roman/Thriller Psikologi

Rafli adalah seorang seniman jenius yang sangat introvert. Walaupun dia rendah hati, tapi sangat ringan tangan dan itulah yang membuat dia punya banyak kawan dimana mana. Mulai dari pengusaha, Seniman, Pedagang Toko, Tukang Beca sampai preman.

Setiap hari hari Rafli dengan imajinasinya menciptakan karya – karya batinnya. Mulai dari Lukisan, Lagu, Patung, disain Busana sampai disain bangunan. Sebagian karyanya diberikan kepada kawan – kawannya sebagai hadiah yang bersifat pribadi namun lebih bayak karyanya disimpan begitu saja dalam rumah peninggalan orang tuanya.

Hari – hari berjalan tenang dan damai seperti biasa bagi Rafli karena semua sahabatnya memahami dirinya yang tidak menyukai ketenaran dan publisitas.

Namun semua menjadi berubah ketika salah satu karya lukisnya terjatuh dari sepeda motor karena kecelakaan kecil. Lukisan tersebut sampai ketangan Abror – seorang pencinta seni yang juga pemilik stasiun TV lokal. Ketika diketahui nilai lukisan ini ternyata mencapai Rp. 3 Milyar, maka Abror mengadakan sayembara ‘Who is The Mistery Artist ?’ – untuk mencari siapa sebenarnya pelukis lukisan tersebut.

Tayangan acara tersebut menjadi sangat populer selama beberapa minggu dan mencapai puncaknya ketika Kania – seorang reporter gigih menemukan fakta bahwa sang artis tersebut adalah Rafli.

Rafli kemudian menjadi pusat perhatian masyarakat, terlebih lagi ketika Kania membeberkan beberapa karya Rafli dalam acara tersebut dan ternyata sangat disukai.

Ketenaran dan publisitas malah menjadi neraka bagi Rafli. Kejaran media, infotainment, tawaran bisnis, perhatian masyarakat, terlebih lagi Kania semakin gencar berusaha membuka rahasia kehidupan pribadinya. Rafli nyaris bunuh diri.

Gagal bunuh diri malah membuat Rafli menjadi seorang yang berbeda. Tekanan yang terasa dahsyat bagi Rafli terutama dari Kania memuncak menjadi perang urat syaraf bahkan perang fisik yang bersifat pribadi menjadikan Jakarta siang dan malam menjadi medan pertempuran yang dahsyat antara Rafli dan Kania.

Akahkah hari hari Rafli kembali normal ?, Siapa yang menang antara Rafli dan Kania ?, Akankah rahasia hidup masa lalu Rafli terungkap ? dan apa sih sebenarnya rahasia yang disimpan Rafli dari masa lalunya ?

Detil cerita : papario.blogspot.com/scenario/Rafli_dan_Kania

(C) Papario, Maret 2008

………….
Jangan cari aku kalau mau sensasi.
Apapun yang kau cari aku biasa saja, tak ada yang istimewa.

Aku hanya pembuat barang seni yang kebetulan menjadi masterpiece
yang terkenal di seluruh dunia.
Tapi aku tetap orang biasa. Jangan panggil aku selebiriti.

Kamu tahu artinya selebiriti ?
Aku sendiri tak tahu pasti. Tapi dari kata aslinya aku sudah mahfum.
Maaf, bagiku selebriti adalah manusia ria. Manusia pesta – pesti.

Aku bukan selebriti.
Aku manusia biasa yang mencintai dan mencipta seni.

(C) Papario, Maret 2008

Kategori: Great Idea · Skenario · sastra
Ditandai: , , , , ,

Kritik Membangun untuk Film Ayat Ayat Cinta

Maret 15, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

(Agar Bung Hanung tidak puas dan berhenti sampai disini saja)

Akhirnya bisa juga nonton Film Ayat Ayat Cinta yang fenomenal itu. Dan ini film yang baru pertama lihat penonton bioskopnya datang dari berbagai segment. Mulai dari remaja muda, remaja dewasa, dewasa ( terutama ibu – ibu yang tadinya sepertinya belom pernah masuk gedung bioskop dan anak – anak ( yang barangkali ikut karena dibawa ibunya ). Sepertinya kebanyakan wanita. Bahkan dalam blog Bung Bramantyo, beberapa penonton mengaku nonton di bioskop sampai tiga kali !. Itu yang ngaku. Berapa lagi yang gak ketahuan nonton lebih dari sekali ?.

Cerita Ayat Ayat Cinta ternyata memang sangat menarik. Isu dilema poligami sangat menyentuh. Saya belum pernah baca novelnya (walaupun istri saya sudah lama beli dan membacanya, saya belum sempat, karena masih ada beberapa buku yang saya beli juga belum terbaca habis), namun saya yakin cerita dinovelnya dahsyat . Bagaimana tidak ?, buku ini sangat laris dan telah dicetak ulang sampai beberapa kali. Acungan 2 jempol buat sang pengarang — bung Habiburrahman El Shirazi ( biasa dipanggil Kang Abik), Sutradara – Hanung Bramantyo dan Produser – Manoj Punjabi.

Setelah saya baca blog bung Hanung Bramantyo (http://hanungbramantyo.multiply.com/journal ), membuat film ini merupakan perjuangan yang luar biasa. Namun dapat kita nilai bahwa bung Hanung ini adalah pribadi yang istimewa. Tegar terhadap opini pesimis orang lain, tidak takut gagal, memelihara idealisme. Dan inilah pribadi orang sukses yang sesungguhnya.

Kalau kita mau menilai film ini seperti yang dikatakan bung Manoj Punjabi dalam wawancaranya di televisi dimana beliau ingin filem filemnya berkiblat ke standar Hollywood dan Bollywood, dan dengan tidak mengurangi hormat dan salut saya pada kegigihan dan kompromi bung Hanung Bramantyo yang luar biasa, maka saya menilai film ini sebagai berikut :

1. Cerita akan menjadi alami / natural apabila dialog menggunakan ‘bahasa ibu’ dari masing – masing tokoh atau bahasa percakapan di kota itu. Film ini menjadi sangat mudah diterima, dimengerti dan layak disandingkan dengan film film Internasional, film film berkelas yang bisa masuk pasar asia. Jangan ada yang menghalangi kita membuat sesuatu yang bisa diterima di masyarakat yang lebih luas (Internasional).

2. Setting film dan panorama yang ditampilkan oleh kamera yang ‘panoramik’ akan mengajak penonton ‘bertualang’ dalam kisah dan pikiran tokoh utama. Pemikiran Fahri, pemikiran Hanung, pemikiran Kang Abik mengenai keindahan dunia timur tengah akan tertumpahkan dengan baik apabila panorama kota dan jalan – jalan di Kairo ditampilkan dengan setting yang apik ( walaupun itu cuma replika). Kalau masalahnya di biaya, mungkin bisa kerjasama dengan production house Internasional (Joint production) seperti yang biasa dilakukan produser – produser hongkong yang sudah bisa menggandeng hollywood untuk film film lokalnya. Tidak akan pernah bisa membandingkan biaya produksi di Jakarta dengan diluar negeri. Kasian Pak JK yang classy diminta menonton film yang seharusnya bisa jadi Masterpiece. (Atau Pak JK mau mendanai filem REMAKE nya ?).

3. Kostum pemain bisa jauh lebih baik lagi. Misalnya kostum Zaskia Mecca tidak akan terlihat seperti jilbab ‘Indonesian’ bila dia menggunakan ‘jilbab’ adat bangsanya sendiri.

Sekali lagi saya menaruh hormat dan salut pada Bung Hanung. Saya yakin Bung Hanung sudah berusaha semaksimal mungkin dan berkompromi dengan empat ’suara’ yang terlibat dalam pembuatan filem ini : Idealisme Sutradara, Selera Produser, Kepentingan Muhammadiyah yang diwakili Bapak Din Syamsudin dan Idealisme Kang Abik.

Saya berpendapat bahwa cerita novel atau skenario Ayat – Ayat Cinta masih sangat – sangat menjual untuk pasar Internasional. Filemnya masih akan sangat laku bila di ‘REMAKE’ dengan standar Hollywood / Bollywood. Dan tentu saja nilai jual yang masih sangat tinggi ini akan sangat berarti buat bung Habiburrahan El Shirazy sang pengarang. Let’s make more money brother (Kang Abik) ! Jangan hanya puas dengan yang ada sekarang kalau masih bisa (jauh) lebih baik lagi.

Mohon maaf Bung Hanung, saya sangat mengerti dengan kata – kata bung Hanug pada ujung artikel AAC di Blog anda ‘Untuk saat ini, sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa‘.

Kritik ini bukan untuk menambah kekecewaan anda, tetapi adalah dukungan untuk membangkitkan semangat baru. Semangat anda patut dicontoh. Saya yakin anda tidak akan puas sampai disini saja.

Salam
Pencinta Film Indonesia Bermutu
Papario

Kategori: Resensi
Ditandai: , , , , , , , , , , , ,