Waduh.. udah 6 tahun tuh artikel, baru dipost sekarang. Spertinya Gold-collar worker ini sudah bukan barang baru dan telah menjamur dimana mana. Gak tahu apakah saya bisa jadi model Gold- Collar worker ? (Please meen, jangan mulai besar kepala yaaa ). Menurutmu ?. Soalnya 13 tahun di IT – mulai dari Programmer ke Sistem Analyst, ke IT Manager, eehh.. hijrah ke Marketing. Belajar Marketing dan menjadi Brand Specialist dari MarkPlus — sudah bisa menilai bahwa perusahaan belum melaksanakan ‘true marketing’. Setelah memperbaiki struktur organisasi pemasaran, blom sempet merubah pola pikir dan wawasan dan kompetensi temen temen di pemasaran yang nota bene masih menjadi Selling Support, eehh.. Trus hijrah lagi ke LBI ( Customer Service ). Setelah bosen training dan kursus sbg Customer Service, kini mencoba perlahan lahan merubah perusahaan menjadi ‘Customer Oriented’. Aneeh… disuruh mengembangkan Layanan Perusahaan… tapi begitu mengajukan konsep Customer Service dari berbagai teori dan ‘indepth analysis’…. eeehh malah dibilang: ‘ knapa disini ada customer service….? gak perlu itu…! Yang nglayanan nasabah itu agen ! agen !’….whoalaaa…. . bisa gila aku….. .
Gold-Collar Worker: Part 2– On My Very Own
Juni 29, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar
Kategori: Curhat · Leadership
Ditandai: analyst, brand, collar, customer, gold, IT, manager, Marketing, markplus, programmer, service, specialist, true marketing, worker

0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.