Beyond Imagination: A Diary Of An Alien

Lima kriteria Ulama Yang Patut Diikuti

April 27, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebulan lalu, kantor mengundang Prof. Dr. Ali Mustofa Ya\’kub, MA, ke pengajian rutin. Enaknya punya Dewan Pengawas Syariah seorang terkenal begini nih, jadi bisa lebih sering dengerin ceramah agama bermutu.

Salah satu dari sekian banyak ilmu yang saya catat disini adalah tentang kriteria ulama yang patut diikuti. Ada lima :

1. Ulama yang Alim / Sholeh.

2. Ulama yang hanya takut kepada Allah.

3. Ulama yang Kehidupannya zuhud ( tampil sederhana,  bersahaja, tidak duniawi tetapi ukrawi)

4. Ulama yang akrab dengan kelompok kelas bawah.

5. Ulama yang berusia minimal 40 tahun.

Mudah – mudahan bermanfaat.

→ Leave a CommentKategori: Uncategorized

Marriage: The Definitions

April 4, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Definition #1: It is when you accept to live with your lover and your children, accept their death, and let them accept your death. No one lives forever. So, do not love anything or anyone more than you love Allah.

Pernikahan alah ketika kamu menyetujui untuk hidup bersama kekasihmu dan anak anakmu, mengiklaskan kematian mereka dan membiarkan mereka ikhlaskan kematianmu. Tak ada yang hidup selamanya. Semua orang pasti mati. Jadi jangan meratapi kematian. Jangan mencintai benda atau orang lain melebihi cintamu kepada Allah SWT.

Definition #2: It is time to accept that you are not the centre of the world anymore. The attention is about them . Not you.

→ Leave a CommentKategori: Life
Tagged: , , , , , , , ,

March 2009: The Survivors (Part 2)

Maret 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sekali lagi, tulisan Eileen Rachman dan Syilvana Savitri di Kompas Sabtu 7 Maret 2009 tersebut sangat dibutuhkan untuk kondisi krisis seperti saat ini, yang terasa begitu berat bagi para pegawai.

Saya baru saja di ‘sentil’ ketika baru baru ini dipindahkan untuk memimpin sebuah unit bisnis yang pernah saya idam idamkan. Satu minggu kemudian saya mengajukan sebuah visi dalam rencana kerja 5 tahun. Dalam proposal saya sebutkan bahwa unit bisnis yang sudah berusia 5 tahun ini adalah sebuah unit bisnis masa depan, dimana bisnis lain akan menjadi seperti ini. Saya merencakan untuk memperbaiki segala bidang mulai dari organisasi, SDM, pelayanan  hingga teknologi, dan dalam tempo 3 hingga 5 tahun, unit bisnis ini siap untuk memisahkan diri dari induk  alias ‘spin off’.

Saya mengajukan usulan ini dalam rangka kewajiban saya sebagai kepala unit bisnis, saya harus membuat sebuah rencana kerja, sebuah visi, sebuah arahan, sebuah motivasi bagi apara pegawai di unit kerja saya. Saya harus membuat unit bisnis ini dari besi menjadi emas berlian yang berkilau.

Seperti biasa, sebagian orang yang mendengar usulan saya, perlu waktu lama untuk memikirkan. Yang lain tertawa dan secara halus mengatakan ‘ apa yang kamu ajukan itu bagus, tapi apakah kamu tidak lihat bagaimana kita sekarang ?… nyawa perusahaan kita sudah diujung tanduk.  Dalam dua – tiga bulan perusahaan ini  barangkali sudah akan tutup’.

Sekali lagi julukan saya disebut – sebut : ‘Alien’. Satu hal yang mereka tidak pernah sadar, saya selalu ingat dan selalu mengikuti prinsip yang diajarkan dalam agama ‘Beribadahlah dan berbuat baiklah kamu seakan akan kamu akan mati esok hari, dan bekerjalah kamu seakan akan kamu akan hidup seribu tahun lagi’. Demikianlah. Mana kita tahu perusahaan ini akan mati dalam berapa lama ?. Apakah memang sudah pasti dalam dua bulan ?. Apa iya tidak ada alternatif jalan keluar lain ?, Apa iya sama sekali tidak ada yang menolong kita ?. Selama tidak ada yang bisa memberikan kepastian ,  saya harus menjalankan tugas saya: melindungi moral para  karyawan. Saya harus memberikan opsi yang terpahit pada mereka agar mereka siap, tetapi juga saya harus membangun semangat mereka supaya mereka tetap menjadi pegawai yang handal dan optimis.

Jadi, saya dan para pegawai saya siap kalau benar perusahaan ini akan tutup dalam 2 -3 bulan ini. Tetapi kami juga sudah siap untuk menghadapi alternatif masa depan yang lain, dimana Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk terus survive. Kami tetap akan bangun pagi dan beribadah walaupun kami tahu bahwa suatu saat dunia akan kiamat.

Jakarta, 8 Maret 2009

→ Leave a CommentKategori: Faith · Leadership · Motivation
Tagged: , , , , , , , , , , , , , ,

March 2009: The Survivors (Part 1)

Maret 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saya kutip sebuah tulisan yang sangat menarik dari Eileen Rachman & Sylvina Safitri – EXPERD, One Day Assesment Centre, Kompas Klasika Sabtu 7 Maret 2009 halaman 37, sebagai berikut :

‘Memang kenyataan yang sudah lumrah bahwa investasi di human capital akan segera dianggap sebagai investasi yang mudah dipangkas. Dari pihak perusahaan, secara Law of Commerce ada kecenderungan menganggap karyawan sebagai beban. Dari pihak karyawan, meskipun ada yang optimis tak urung mencuat rasa was – was bahwa dialah yang dipilih untuk ‘dilepas’, entah karena gaji yang dianggap terlalu besar atau karena merasa bahwa produktifitasnya tidak terlalu nyata.

Dalam situasi ini, bersikap pasif sudah pasti salah.Namun, untuk bersikap proaktif juga tidak selalu selamanya dibenarkan. Proyek yang sedang berjalan dibekukan, sementara proyek baru ditunda. Anak buah berharap pada kita, sementara atasan juga tidak bisa memberikan kepastian. Sementara karyawan sadar bahwa gaji tidak bisa dinaikkan, biaya perlu ditekan dan semua orang dituntut bekerja ekstra keras untuk menyelamatkan perusahaan. Adakah sikap yang tepat menghadapi situasi ini ?.

Berpikir dan Bersikap sebagai ‘Survivor’. Sebagai partner di McKinsey, saat ditanya oleh seorang peserta ceramah mengenai kunci suksesnya merain jenjang bergengsi di konsultan ternama itu menjawab, “Bila ingin menjadi partner, bersikaplah sebagai partner.”. Nasihat itu sebetulnya bisa kita terapkan dalam situasi dimana kita tidak berada dalam posisi yang menentukan. Dalam krisis dan posisi terjepit, kita tidak perlu bersikap sebagai objek yang tidak berdaya, karena itu akan membuat diri kita benar – benar tidak berdaya.

Bersikap seolah olah kita memegang posisi yang menentukan atau berada dalam tim yang hebat akan sangat membantu produktifitas. Berpikir dan bersikap sebagai survivor membuat orang tidak sempat tenggelam dalam sikap pesimis. Tentu saja kewaspadaan, perlu ditingkatkan, namun bersikap ceria dan pede sangat dibutuhkan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang disekitar kita. Dalam keadaan sesulit apapun, orang tentu akan memilih berdekatan dengan yang optimis daripada yang belum – belum sudah lesu, bukan ?

Fokus ke Masa Depan. Berfokus ke masa depan ternyata menimbulkan ‘power’ tersendiri. Konon, para survivor atau kebanyakan yang kebanyakan bertahan di kamp konsentrasi Jerman adalah mereka yang tak putus harapan pada masa depan. Dalam pembahasan Mourning & Melancholia, Bapak Psikologi – Freud, juga mengatakan bahwa seseorang bisa keluar dari masa masa depresinya, hanya bila ia bisa melihat masa depan yang lebih cerah dan membayangkan masa depannya dengan jelas.

Dalam bisnis, berangan-angan mengenai masa depan bentuknya sedikit berbeda. Survivor dalam bisnis, perlu berantisipasi dengan memfokuskan pada kebutuhan pelanggan adalah satu satunya jalan keluar di masa sulit begini, karena tanpa pelanggan, perusahaan tidak bisa meneruskan bisnis.

Saat kondisi sulit begini, kita pun perlu sedikit menelan gengsi. Turun tangan langsung mengunjungi pelanggan yang selama ini didelegasikan ke anak buah, menunjukkan sikap kooperatif saat diharuskan bekerja di bawah komando kolega yang lebih junior karena adanya peleburan divisi, ataupun berdiri langsung sebagai frontliners untuk melayani langsung, malahan akan terlihat keren karena mengeksperesikan fleksibilitas dan kemampuan kita.

Ikatan Emosional. Inilah saatnya dimana kita betul – betul perlu mempraktekkan kemampuan berempati. Tantangan yang meningkat dan krisis kadang membuat banyak orang merasa dirinya paling susah sedunia, sehingga menutup mata untuk merasakan apa yang dirasakan oleh teman, bahkan atasannya. DI masa sulit begini, banyak pimpinan perusahaan yang merasa ‘lonely’, karena adanya hambatan bagi mereka untuk sharing perasaan dan kecemasannya pada anak buah. Hal ini bukan disebabkan karena kerahasiaan atau tuntutan perusahaan, tetapi lebih kepada lemahnya ikatan emosional antara pimpinan dengan bawahan, sehingga bawahan pun tidak ada yang mendekatkan diri dan menunjukkan ketulusan rasa empatinya terhadap kesulitan pimpinan.

Emotional Bonding, walaupun sudah ada dalam diri setiap individu, masih perlu juga dipelajari dan senantiasa di asah. Dengan kesamaan rasa terhadap krisis yang dihadapi, karyawan perusahaan bahkan bisa lebih kompak, merapatkan barisan untuk memperkuat kelompok dan merasakan kesatuan yang menginspirasi.

Terlihat, Terdepan. Di era elektronik, dimana orang mudah mengekspresikan dirinya di dunia cyber melalui twitter, facebook, dan media gaul lainnya, jangan sampai kita lupa bahwa ‘penampakan’ riil sangat berguna, bahkan tak tergantikan. Untuk membangun kredibilitas dan terlihat, tentu saja kita perlu hadir dan berpartisipasi lebih banyak. Seorang teman kerja kerap berujar, ‘kerjaan numpuk, dikejar deadline’, saat ditanyakan alasan mengapa ia sering absen. Bolak balik melontarkan excuse seperti ini tentu saja tidak mendatangkan simpati, bahkan bisa jadi orang malah mempertanyakan kemampuan kita untuk mengelola pekerjaan secara smart.

Merasa tidak jagoan juga bukan alasan bagi kita untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan olah raga. Kita bisa hadir for fun untuk meramaikan acara. Excuse bahwa kita lemah dan berpenyakit dalam acara outing misalnya, hanya menyebabkan orang berpikir bahwa kita memang lemah. Kita perlu mengupayakan agar kita menjadi corporate citizen yang utama. Bila bukan sebagaio pengurus, jadilah partisipan terdepan.’

Tulisan ini sangat cocok untuk masa masa sulit seperti sekarang ini. Mudah mudahan banyak orang bisa memahami dan tetap bersemangat menghadapi krisis dan bertanya cobaan yang merupakan kelanjutan dari krisis tahun lalu.


→ Leave a CommentKategori: Leadership · Motivation
Tagged: , , , , , , , ,

Slumdog Millionaire: Chasing First Love Which Is Written.

Februari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Rating : Five Star ! *****, One of the Best Film Of The Year

Film terbagus yang saya tonton tahun lalu adalah ‘The Kite Runner‘. Film luar biasa dari sutradara Marc Foster yang diangkat dari novel karangan Kaled Hosseini yang bercerita tentang perjalanan lahir dan batin bocah afghanistan hingga ia dewasa.

slumdog_millionaireAwal tahun ini saya temukan lagi film yang juga luar biasa: Slumdog Millionaire arahan sutradara Danny Boyle dan Loveleen Tandan. Dibintangi oleh Dev Patel sebagai Jamal, Anil Kapor sebagai Host Who Wants To be A Millionaire dan Freida Pinto sebagai Latika.

Luar biasa cara bertuturnya, luar biasa cara penyajian sinematografinya, luar biasa iringan musiknya, luar biasa pemerannya. Luar biasa, sebuah perjalanan hidup yang sudah menjadi takdir / suratan.

Bagaimana mungkin seorang Chaiwala / Pengantar Minum / Office Boy, dapat menjawab semua pertanyaan kuis Who Wants To Be A Millionaire dengan benar dan memenangkan jutaan rupee ?. Apakah ia jenius ?, apakah ia menipu ? apakah ia beruntung ? atau…. sudah takdir ?.

slumdog-millionaire-fl-021Bercerita tentang Jamal seorang OB yang mengikuti Who Wants To Be A Millionaire bukan untuk dapat hadiah, tetapi agar dapat ditemukan oleh kekasihnya yang hilang (Latika,  yang suka nonton acara kuis tersebut) dan dapat bertemu lagi.

It is a miracle ketika semua pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan dapat dijawabnya. Sehingga ia kemudian ditangkap polisi dan diinterogasi karena dianggap penipu. Tak disangka ternyata semua pertanyaan dan jawaban tersebut adalah bagian dari perjalanan hidup Jamal.

slumdog_jamalsitJamal kecil ( dimainkan oleh si kecil yang lucu Ayush Mahesh Khedekar)  dan Salim kecil (Azheruddin Mohammed Ismail) adalah dua kakak beradik yang tinggal di kawasan kumuh (slum) bersama ibunya yang bekerja sebagai tukang cuci. Saking kumuhnya dan rapatnya bilik bilik rimah mereka, tidak ada tempat bermain buat mereka. Sehingga mereka bermain di lapangan bandara yang ada disebelah perkampungan mereka.

Salim sang Kakak lebih nakal dari si adik. Namun si Adik punya tekad dan kemauan yang sangat  kuat. Sehingga ketika terkunci di WC umum diatas kali kecil, ia nekad nyemplung kedalam comberan hanya untuk mengejar Amitabh Bachan untuk mendapatkan tandatangannya.

Ketika terjadi kerusuhan antar kampung, ibu mereka tewas dan mereka melarikan diri bersama Latika, seorang gadis kecil yang mereka temukan di tengah kerusuhan.

Mereka kemudian hidup luntang lantung di tempat pembuangan sampah hingga akhirnya ditampung oleh Maman (seorang preman jalanan) untuk dijadikan pengemis jalanan.

Ketika Jamal hendak dilukai oleh Maman, Salim mengajaknya melarikan diri dengan naik kereta api, namun Latika ditinggal bersama Maman. Merekapun berusaha mengais rejeki dari gerbong ke gerbong kereta hingga terdampar di lingkungan istana Taj Mahal.

Disini mereka besar sebagai penjahat kecil yang suka mencuri dan menipu. Hingga kemudian menjadi remaja, mereka bekerja di sebuah restoran sebagai tukang cuci piring. Pada saat inilah Jamal mulai mencari keberadaan Latika, cinta pertamanya yang hilang.

Ketika akhirnya ia tidak kuasa untuk bertemu Latika, ia kemudian mendaftarkan diri untuk ikut Who Wants To Be A Millionaire agar Latika (yang menyukai acara ini) dapat melihatnya dan menemuinya.

Mau tahu lanjutannya ? Nonton saja. Film bagus sperti ini jangan dilewatkan!

Film ini memenangkan 5 Critics Choice Award(Best Film, Best Young Performer, Best Director, Best Screenplay, Best Composer) , 4 Golden Globe Award ( Best Motion Picture, Best Director, best Screenplay dan Best Original Score), 7 BAFTA Award (Best Cinematography, Best Director, Best Editing, Best Film, Best Music, Best Screenplay, Best Sound) dan dinominasikan dalam ten Academy Award (Best Director).

slumdog-millionaire_dev_freida

→ Leave a CommentKategori: Resensi

February 2009: Oh No, History Repeat Itself !

Februari 9, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Miraculously I have got my ‘next destination‘ this month. A better change that I have put it in my wish list years ago. I cannot tell you the detail, because one and another reason that I will tell you later.

Why miracle ?,  first: because this wish has slipped out of my mind nowadays, second: it was given unexpextedly, and the third: History repeat itself !.

It is not a dejavu I think. It is just repeat. How can I tell you …

Once, God saved me from a situation where I did not agree with ‘project leader’ because if I continue, then my professional prediction:  it won’t be able to work and will result a major loss. But they insisted the project to go on and disobey the term & condition I gave.

I could not go that way. I did not want to be a part of  the cause. Then God saved me. I was picked and put on a new place a new destination. A year later, after putting in two other project manager, they close the project and report some loss. OMG !.

Today, the History repeated !. Again – I found some leak in a plan and have report it that there will be a greater loss when we dont make an anticipation action soon. But it was t rejected and the plan still continue that way. What a shame !. Even everybody agree to the analisys but nobody dare to tell the truth to the ‘project leader’. They said ‘we’ll wait until last year and see how it happen’.

Now you know why they called me ‘Alien’. I am the one that speak.

If Napoleon said : “courage is like love. it must have hope for mounishment’, then I said : ‘courages come from love. They appear because you love‘. And the one have love is the one that live a life. Means that other not live. Die. But life. Zombies. Yes. Again….

It is better to be an Alien than a Zombie. Alien has love.

This time God pick me again and put me in a save and beautiful place.

I can only hope and pray, that my analisys is wrong and I am the stupid one. And I do not want to the history to repeat : my worries proven, which more people will suffer the damage.

→ Leave a CommentKategori: Life · Miracle Story · Uncategorized
Tagged: , , , , , , ,

Pelajaran berharga dari film The Accidental Husband (2009)

Januari 16, 2009 · 1 Komentar

accidental-husband-posterBaru selesai nonton The Accidental Husband. Bercerita tentang Dr. Emma Lloyd ( Uma Thurman) seorang konsultan spesialias masalah hubungan pria – wanita. Emma yang sebentar lagi akan menikah dengan Richard Bratton (Colin Firth) mempunyai banyak penggemar atas talk show radionya dan bukunya yang baru terbit: True Love.

Sekali waktu seorang wanita berkonsultasi padanya apakah pria yang akan dinikahinya adalah pria yang tepat. Dan Emma bilang ‘Apakah kamu yakin dengan perkawinanmu dengan dia akan langggeng, karena …% pernikahan dengan pria sepertinya akan bubar dalam waktu singkat’. Atas masukan dari Emma, wanita ini lantas membatalkan pernikahan nya dengan Patrick Sullivan (Jeffrey Dean Morgan) seorang petugas pemadam kebakaran.

Patrick yang kemudian merana karena diputuskan oleh wanita idamannya, lalu melakukan balas dendam.
Bagaimana kemudian kehidupan Emma dirusak oleh Patrick ? Apalagi ketika Emma akan mendaftarkan diri akan menikah dengan Richard di catatan sipil, Emma dinyatakan oleh catatan sipil sudah menikah dengan Patrick !. Nonton sendiri lah yau… !

Setiap cerita pasti ada pesan moralnya. Dan pesan moral disini adalah : Jangan pernah memberikan tanggapan atau saran dimana anda sendiri tidak mengetahui bagaimana pokok persoalannya, bagaimana memposisikan diri sebagai orang orang yang terlibat dalam keputusan anda (tidak menyertakan empati).

Coba bayangkan bagaimana jika seorang audit menemukan sebuah kasus di sebuah departemen, lalu tanpa meneliti lebih dalam dan mencari keseimbangan atau keadilan bagi tertuduh, sehingga si tertuduh lalu dikenakan hukuman, dan yang bersangkutan merasa tidak bersalah, terus merana karena kehilangan pekerjaan atau orang yang dicintai ?.

Karena itu, anda sebagai seorang konsultan atau apapun pekerjaan yang melibatkan putusan atas nasib orang lain, maka seyogyanya menyertakan empati dan rasa keadilan serta keseimbangan dan kebijaksaan dalam memberikan ‘judge’ atau tuduhan, sebelum penderitaan orang yang belum tentu bersalah itu menjadi ‘dosa’ yang harus anda bawa seumur hidup !.

→ 1 CommentKategori: Resensi
Tagged: , , , , , ,

January 2009: A Rainy Beginning

Januari 14, 2009 · 2 Komentar

Bulan ini baru terasa hujan sederas derasnya. Menurut ramalan cuaca, curah hujan tertinggi ada di pertengahan bulan Januari 2009 hingga pertengahan bulan Februari 2009.

Wah, dalam keadan begini saja, Jakarta sudah ‘menyeramkan’. Harus antar anak sekolah masuk jam 6:30 pagi, dalam keadaan hujan deras. Trus ke kantor hujan masih belum berhenti. Di jalan sudah mulai tergenang tinggi, dan air sungai di kampung melayu sudah naik ke jalan. Begitu setiap hari. Bagaimana pertengahan januari nanti ya ?.

Sepertinya pelajaran orang tua jaman dulu bahwa musim hujan ada di setiap bulan yang namanya berakhiran ‘ber’ sudah tidak berlaku lagi. Khawatir juga dengan dampak perubahan lingkungan gara gara kerakusan manusia.

Begitu juga dengan Kota Jakarta. Kalau dikembangkan tanpa ‘ilmu’, maka beginilah akibatnya. Padahal disain peningggalan jaman Belanda sudah sangat bagus dan modern. Sayang dirusak oleh orang orang tak berilmu.

Dijalan banyak sekal orang kemalangan. Ada tukang bajaj yang bajajnya mogok, ada sepeda motor yang kecebur lobang di jalan sehingga motornya rusak. Ada yang saya sumpah serapahin karena menghalangi jalan dan mencipratkan becekan ke mobil, ada pejalan kaki yang terciprat air dari lintasan motor atau mobilm, ada pedagang asongan yang gak bisa jualan, ada polisi yang gak bisa ngatur jalan karena derasnya hujan, ada anak sekolah atau guru yang sampai sekolah bajunya basah,  ada yang rumahnya bocor.

Saya doakan semoga saya dan kalian semua yang mendapat cobaan dari Tuhan selalu bersabar dan semoga kita tetap diberi rahmat oleh Yang Maha Kuasa.

→ 2 CommentsKategori: Curhat · Diary
Tagged: , ,

8 Kiat Para Penjual yang Sukses

Desember 24, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jakarta, 23 Desember 2008

Sedih juga lihat hasil penjualan tahun ini menurun dan tidak mencapai target. Juara juaranya pun tidak sebanyak tahun lalu.

Tahun ini memang saya sengaja tidak turun kebidang sales, karena sedang memfokuskan organisasi menjadi organisasi yang ‘True Marketing’. Dimana sebelumnya hanya fokus pada sales dan produk, tahun ini saya mengarahkan organisasi pada redefinisi value perusahaan untuk Segmentasi, Targeting, Positioning, Differensiasi, Brand dan Service. Sedangkan Marketing Mix dan Sales saya serahkan pada Aktuaria dan Administrasi Support Penjualan.

Namun pada akhirnya memang terjadi penurunan di sales. Setelah melakukan beberap analisa dan survey ke beberapa kantor penjualan ( ke bayang gak bagaimana seorang introvert melakukan survey ?… seperti detektif !. Silent ).

Akhirnya saya menemukan beberapa kesalahan yang dilakukan oleh para sales di lapangan, compares to teori – teori praktis dari training – training sales yang pernah saya ikuti. Beberapa kesalahan itu adalah hal hal mendasar yang tidak dipatuhi pada saat menjual.

Tadinya mau nulis 8 kesalahan terbesar para sales, tapi akhirnya judulnya saya balik: 8 kita para penjual yang sukses. Materi – materi yang saya sampaikan dibawah adalah beberapa kiat sukses para penjual yang saya terima dari berbagai training sales dan seminar, maupun dari wawancara dengan para penjual saya yang telah sukses, sbb:

  1. Mayoritas calon pembeli tidak suka didekati oleh penjual. Maka penjual tidak boleh terburu buru. Jangan sekali kali menemui calon pembeli dan langsung menawarkan produk atau memperkenalkan diri anda sebagai penjual atau memperkenalkan perusahaan anda. Kebanyakan penjual langsung menawarkan barang pada saat pertemuan pertama atau kedua. Dipastikan dia akan gagal.Penjual harus dapat menemukan wants dan needs dari calon pembeli. Dari situlah kita kemudian masuk memberikan solusi dari kebutuhan dan keinginannya. Teknik ‘Indepth Analysis’ sangat penting. Masuklah kedalam kehidupan calon pembeli, menjadi teman, sahabat yang memberikan bantuan disaat yang dibutuhkan. Masuklah pada saat calon pembeli sudah benar benar menyadari kebutuhan dan keinginannya. Dan salah satu cara ampuh untuk dapat masuk ke dalam dunia calon pembeli adalah ‘empati.
  2. Calon Pembeli lebih suka bicara dengan orang yang sama dan serupa dengannya. Bila ia extrovert atau penggemar bola tentu saja akan lebih ‘lepas’ dengan orang yang extrovert atau penggemar bola juga. Seorang introvert atau penggemar video game akan lebih suka bicara dengan introvert atau penggemar video game juga. Orang Madura  akan excited bisa ketemu orang yang bisa berbahasa Madura. Karena itu seorang penjual harus dapat ‘merubah dirinya’ menjadi serupa dengan calon pembelinya (Tentu saja bukan berarti Penjual harus jadi orang Batak untuk mendekati Calon Pembeli yang orang Batak). Cobalah belajar ‘Psychology of Selling’ atau Neuro Language Program (NLP) atau sejenisnya yang mengajarkan teknik teknik mempelajari karakter si calon pembeli dan teknik teknik ‘adaptasi/ menyesuaikan diri’.
  3. Perusahaan tidak membutuhkan penjual yang bermental pegawai, tetapi  Penjual yang memiliki jiwa Enterpreneurship. Beberapa penjual mengeluh pada saya tentang fix income yang kekecilan atau komisi yang kekecilan. Dia mungkin lupa bahwa perusahaan tidak membutuhkan seorang bermental pegawai yang mengharapkan penghasilan tetap.Penjual penjual yang saya temui berhasil adalah penjual yang memiliki jiwa enterpreneurship yang bagus. Mereka melakukan segementasi, analisa pasar yang prospektif, melakukan seleksi dan menentukan target yang tepat, lalu melakukan pendekatan pendekatan terlebih dahulu dengan melakukan langkah 1 & 2 diatas. Mereka berani mengorbankan waktu dan biaya terlebih dahulu dengan penuh perhitungan bahwa diakhir mereka akan mendapatkan berlipat lipat dari apa yang telah mereka korbankan. Dan berhasil. Sementara yang merengek rengek minta uang jalan dan ongkos menjual mayoritas gagal.
  4. Nasabah tetap membutuhkan si Penjual setelah transaksi terjadi. Walaupun perusahaan telah memberikan nomor Customer Care namun Nasabah tetap membutuhkan si Penjual. Ini salah satu sifat orang Indonesia yang masih melekat. Jadi jangan tinggalkan nasabah anda setelah transaksi. Berilah mereka terus perhatian. Tanyakan apakah ada komplain dengan barang atau jasa yang telah dibeli serta berikan bantuan apabila nasabah membutuhkan. Ini kiat  ‘Personal Selling’. Jangan tinggalkan nasabah setelah transaksi terjadi.
  5. Nasabah tidak suka dibohongi. Penjual harus mengerti betul dengan produk atau jasa yang mau dijual. Jangan memberikan informasi yang salah gara gara kurang pengetahuan atau malah membohongi. Apapun alasan penjual biarpun, bila ada yang tidak sesuai dengan ‘janji’, nasabah akan merasa dibohongi dan akan menjadi kiamat bagi si Penjual dan perusahaan. Hukum ‘Word Of Mouth’ akan berlaku. Komplain nasabah akan lebih kencang 10 kali tersebar dari pada kepuasan nasabah tersebut. Jadi, jangan memberi ‘janji’ bila tidak dapat menepati.
  6. Ilmu mudah didapat. Begitu banyak teknik teknik menjual yang tersebar di jagat raya. Baik itu di buku, koran, TV, seminar, internet. Antara lain ‘Creative Selling’, ‘Hypno Selling’, ‘Super Selling’, ‘Psichology of Selling’, ‘Exceptional Selling’, ‘Emotional Selling’, ‘Spiritual Selling’, dan materi materi kiat menjadi kaya. Karena itu jangan malas belajar. banyak banyaklah belajar untuk berhasil.
  7. Percaya pada potensi diri. Seorang sales yang sukses berkata kepada saya bahwa tidak perlu mencari modal kesuksesan di orang lain karena dirimu sudah punya semua. Tinggal menyingkirkan hal hal yang tidak perlu, seperti rasa pesimis dan rendah diri.
  8. Jangan Ragukan Kekuatan Doa.

(tobe continued)

→ Leave a CommentKategori: Marketing · Motivation

Antara Facebook dan Para Narsis Sejati Kelas Dunia

Desember 7, 2008 · 7 Komentar

fidel_castro1Saya tadinya hanya kenal 3 orang narsis didunia ini. Yang pertama adalah Fidel Castro (Fidel Alejandro Castro Ruz, lahir 13 Agustus 1926), seorang pemimpin dunia yang luar biasa. Dalam masa kepemimpinan yang sangat panjang ( 32 tahun, sejak 1976  hingga 2008), beliau tidak pernah memberikan kepercayaan kepada siapapun. Setiap kebijakan selalu berasal dari dirinya sendiri, sangat jarang menerima pendapat orang lain bahkan dari orang orang terdekatnya. Dia berani melawan Amerika dan Uni Sovyet yang begitu digdaya, dan berhasil !.  Tidak ada seseorang yang begitu percaya diri melawan yang jauh lebih besar dari dirinya selain seorang narsis.

raden_sYang kedua adalah Raden Saleh (Raden Saleh Sjarief Boestaman, lahir di Semarang, 23 April 1880), seorang seniman pelukis Indonesia yang luar biasa. Kenarsisannya menghasilkan lukisan yang begitu indah dan menjadikannya pelukis terkenal di dunia. Lihat saja pada lukisannya ‘Penangkapan Diponegoro’, minimal ada 5 orang dirinya hadir dalam lukisan tersebut. Dirinya juga pernah memenangkan sebuah lomba melukis di Belanda. Padahal beliau hadir sangat terlambat. Dalam detik detik terakhir sisa waktu yang disediakan panitia, beliau melukis dan memenangkan perlombaan mengalahkan para pelukis lainnya. Padahal yang digambar hanyalah sebuah lingkaran dan sebuah titik. Para juri memenangkan lukisan Raden Saleh tersebut karena lingkaran dan titik itu sangat sempurna. Dan kesempurnaan itu hanya bisa dihasilkan oleh seorang yang punya rasa percaya diri luar biasa alias narsis.

raden-saleh-diponegoroDalam kesempatan lain, Raden Saleh diperlihatkan oleh Para pelukis muda, lukisan bunga buatan mereka yang sangat mirip aslinya. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.

Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka ke rumahnya dan pintu rumahnya terkunci dari dalam. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka saling jerit. “Mayat Raden Saleh” terkapar di lantai berlumuran darah. Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. “Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia“, ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun kemudian pergi.

Dan siapa yang ketiga ?. Tentu saja dia seorang (baca: saya sendiri, lahir di Jakarta, 40 tahun yang lalu). Bagaimana tidak, sungguh sulit bagi seseorang untuk bisa tampil berbeda dilingkungannya kalau dia tidak punya percaya diri yang tinggi. Dia (baca : saya) adalah non-smoker diantara smoker, dia berani bilang tidak kepada atasan sementara yang lainnya tidak berani, dia berani tampil sendiri mengemukakan perubahan sementara lainnya memposisikan diri anti kepada anti-kemapanan, Disaat perusahaan menuntut kompetensi pegawai, dia berusaha merubah dirinya menjadi seorang Marketing sendirian sementara lainnya berusaha menjadi Ahli Asuransi, dia berani menjadi tidak seperti orang kebanyakan (unik) sementara yang lain berusaha menjadi generik. Dia memang narsis.

Tapi sekarang saya mulai sadar bahwa ternyata lebih banyak lagi orang narsis di dunia ini. Ketika saya bergabung ke Facebook beberapa minggu yang lalu, menajamkan kenarsisan, dan berhasil mengumpulkan teman teman yang terserak, saya melihat gejala kenarsisan ada dimana mana. Para narsisis memposting foto foto mereka dengan rasa percaya diri. Ada yang rame rame menempelkan pipi lalu memonyong-monyongkan bibirnya, ada yang meniru pose artis, ada yang menampilkan dirinya begitu charming dengan jas dan dasi, dan yang membuat saya takjub, ada yang tampil hanya pakai celana pendek sambil sedikit nungging.  MasyaAllah…

Memang benar ternyata kata orang, fenomena Facebook salah satunya adalah memunculkan kenarsisan pada diri seseorang. Lhaa.., kalau ternyata begitu banyak orang narsis didunia ini, apakah saya harus berubah menjadi tidak narsis ya (supaya tetap unik ) ?.

©Papario, Idul Adha, 8 Desember 2008

 

Sumber tulisan: insiprasi saya sendiri, wikipedia (Raden Saleh dan Fidel Castro) dan beberapa referensi lain, termasuk penjelasan tour guide dari Musium Fatahillah.

→ 7 CommentsKategori: Life
Tagged: , , , , , , , , , ,